Autisme bukan sekadar cara seseorang berperilaku, tetapi juga tentang bagaimana ia merasakan, memproses, dan memahami dunia di sekitarnya. Pengalaman itu bisa sangat berbeda dari yang dibayangkan banyak orang.
Ketika berada di pusat perbelanjaan, sebagian besar orang mungkin hanya mendengar musik yang diputar pelan, melihat lampu yang terang, dan merasakan keramaian sebagai hal yang biasa. Namun, bagi sebagian orang dengan autisme, suasana yang sama dapat terasa jauh lebih intens. Suara terdengar lebih bising, cahaya terasa menyilaukan, dan banyaknya rangsangan datang bersamaan hingga membuat tubuh dan pikiran cepat lelah.
Perbedaan pengalaman inilah yang sering kali tidak terlihat. Orang lain mungkin hanya melihat seseorang yang menutup telinga, menghindari keramaian, atau tampak kesulitan berinteraksi. Padahal, yang sedang terjadi bukan sekadar persoalan perilaku, melainkan cara otak memproses informasi dari lingkungan.
Autisme atau Autism Spectrum Disorder [ASD] merupakan kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta menerima dan mengolah berbagai rangsangan. Karena berada dalam sebuah spektrum, pengalaman setiap penyandang autisme bisa sangat berbeda. Tidak ada dua orang dengan autisme yang memiliki pengalaman yang benar-benar sama.
Baca Juga: Sering Kepanasan atau Mudah Menggigil, Benarkah Ada Hubungannya dengan Golongan Darah?
Bukan Dunia yang Berbeda, Melainkan Cara Otak Memprosesnya
Dr. Temple Grandin, profesor ilmu hewan di Colorado State University sekaligus penyandang autisme, dalam bukunya The Autistic Brain: Thinking Across the Spectrum [2013], menggambarkan bahwa banyak orang dengan autisme memproses dunia melalui detail-detail yang sering luput dari perhatian orang lain. Bagi sebagian penyandang autisme, suara kipas angin, dengungan lampu, aroma parfum, atau tekstur pakaian dapat terasa jauh lebih kuat dibandingkan yang dirasakan kebanyakan orang.
Kondisi ini dikenal sebagai perbedaan dalam pemrosesan sensorik [sensory processing]. Sebagian orang menjadi sangat sensitif terhadap suara, cahaya, sentuhan, atau bau, sementara sebagian lainnya justru membutuhkan rangsangan yang lebih kuat untuk dapat merasakannya. Karena itu, respons mereka terhadap lingkungan sering kali tampak berbeda.
Menurut Dr. Catherine Lord, psikolog klinis dan pakar autisme dari University of California, Los Angeles [UCLA], tantangan terbesar seringkali bukan berasal dari autisme itu sendiri, melainkan dari lingkungan yang belum memahami cara mereka memproses informasi. Ketika lingkungan memberikan terlalu banyak rangsangan sekaligus, seseorang dengan autisme dapat mengalami sensory overload, yaitu kondisi ketika otak kesulitan mengolah semua informasi yang datang secara bersamaan. Akibatnya, mereka bisa memilih menjauh, menutup telinga, atau membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Baca Juga: VO₂max Bukan Cuma Angka di Smartwatch. Lalu, Apa Artinya bagi Kesehatan?
Memahami Autisme Berarti Belajar Melihat dari Sudut Pandang yang Berbeda
Di Indonesia, dr. Aisah Dahlan, CMHt., CM.NLP. beberapa kali mengingatkan bahwa setiap otak manusia memiliki cara kerja yang unik. Pada individu dengan autisme, perbedaan tersebut membuat pendekatan komunikasi dan lingkungan yang suportif menjadi sangat penting. Bukan untuk mengubah siapa mereka, melainkan membantu mereka merasa lebih nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Karena itulah, para ahli kini semakin menekankan pentingnya membangun lingkungan yang inklusif. Memberikan waktu lebih lama untuk merespons, mengurangi rangsangan yang berlebihan ketika memungkinkan, serta tidak terburu-buru menilai perilaku seseorang dapat menjadi bentuk dukungan yang sederhana, tetapi bermakna.
Memahami autisme juga berarti melepaskan anggapan bahwa semua penyandang autisme memiliki kemampuan atau tantangan yang sama. Ada yang sangat mahir dalam bidang tertentu, ada yang membutuhkan dukungan lebih dalam berkomunikasi, dan ada pula yang mampu menjalani kehidupan secara mandiri. Spektrum autisme mencakup pengalaman yang sangat luas.
Barangkali, yang perlu kita ubah bukanlah cara orang dengan autisme melihat dunia, melainkan cara kita memahami mereka. Dunia yang kita anggap biasa bisa terasa sangat berbeda bagi orang lain. Ketika kita menyadari bahwa setiap orang memproses lingkungan dengan caranya masing-masing, empati menjadi lebih mudah tumbuh daripada penilaian. Dan mungkin, dari sanalah komunikasi yang lebih manusiawi dapat dimulai. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.