Oleh Eva Evilia

Pernah membuka WhatsApp Group, lalu menemukan satu pesan yang panjangnya membuat jempol harus menggulir layar berkali-kali? Isinya mungkin bagus, penting, bahkan ditulis dengan serius. Namun sebelum membaca kalimat pertama sampai selesai, kita sudah lebih dulu bertanya: ini panjang sekali, kapan membacanya?

Saya beberapa kali mengalaminya. Bukan karena tidak menghargai orang yang menulis. Justru kadang saya tahu orang tersebut memiliki pengetahuan dan pengalaman yang layak didengarkan. Masalahnya sederhana: ketika membuka WhatsApp, saya tidak selalu sedang datang untuk membaca sebuah esai.

Di situlah persoalannya menjadi menarik. Apakah manusia sekarang memang semakin malas membaca tulisan panjang? Kalau benar demikian, mengapa novel ratusan halaman masih dibaca, buku tetap diterbitkan, dan artikel panjang masih memiliki pembacanya? Mengapa seseorang bisa menghabiskan waktu cukup lama membaca perdebatan di media sosial, tetapi menyerah ketika berhadapan dengan dua puluh paragraf yang dikirim ke grup WhatsApp?

Mungkin masalahnya bukan panjang tulisan. Tapi boleh jadi persoalannya adalah tempat kita meletakkannya.

Baca Juga: Mengapa Ada Orang yang Lancar Berbicara, Tapi Sulit Menulis?

Kita Membaca Sesuai dengan Ruang yang Kita Masuki

Setiap medium diam-diam membawa kesepakatan dengan penggunanya. Ketika membuka buku, kita tahu akan membaca. Ketika masuk ke sebuah situs berita atau majalah, kita bersedia memberikan beberapa menit untuk sebuah artikel. Ketika membuka WhatsApp, ekspektasinya berbeda. Kita mungkin ingin melihat pesan keluarga, mengecek jadwal rapat, membaca informasi sekolah anak, menjawab pertanyaan rekan kerja, atau sekadar memastikan tidak ada sesuatu yang mendesak.

WhatsApp terutama tumbuh sebagai ruang komunikasi. Percakapan bergerak, orang saling merespons, dan informasi datang bercampur dengan berbagai keperluan lain. Tulisan panjang yang ditempatkan di sana harus berhadapan bukan hanya dengan keterbatasan layar, tetapi juga dengan konteks psikologis pembacanya.

Peneliti bahasa dan komunikasi digital Naomi S. Baron telah lama mempelajari perbedaan cara manusia membaca melalui media cetak dan layar. Penelitiannya terhadap mahasiswa di sejumlah negara menunjukkan kecenderungan bahwa pembaca merasa lebih mudah berkonsentrasi ketika membaca materi cetak dibandingkan ketika membacanya melalui perangkat digital. Dalam penelitiannya tentang membaca di era digital, Baron juga mengingatkan bahwa teknologi daring sangat cocok untuk mencari informasi dengan cepat, tetapi kondisi tersebut dapat mendorong membaca menjadi kegiatan menemukan informasi ketimbang merenungkan dan memahami gagasan secara mendalam. 

Artinya, layar tidak membuat manusia kehilangan kemampuan membaca panjang. Namun layar membawa kebiasaan membaca tertentu.

Maryanne Wolf, ilmuwan kognitif yang banyak meneliti otak pembaca, menyebut kecenderungan membaca cepat, mencari kata tertentu, dan melompat dari satu bagian ke bagian lain sebagai tantangan bagi deep reading. Menurut Wolf, membaca mendalam membutuhkan waktu untuk membuat inferensi, menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan informasi baru, melakukan analisis kritis, dan memahami perspektif orang lain. Semua proses itu menjadi lebih sulit ketika perhatian terus-menerus berhadapan dengan distraksi dan dorongan untuk segera berpindah. 

Bayangkan sekarang sebuah esai panjang berada di WhatsApp Group. Di atasnya ada pengumuman rapat. Di bawahnya seseorang mengirim foto. Lalu muncul pertanyaan. Disusul stiker. Masuk pesan dari grup lain. Notifikasi pekerjaan muncul. Telepon berdering.

Tulisan itu mungkin tidak kalah bagus dibandingkan artikel yang diterbitkan sebuah majalah. Namun ia sedang meminta perhatian mendalam di sebuah ruang yang terbiasa kita gunakan untuk berpindah-pindah perhatian.

Di situlah penulis mungkin perlu mengakui sesuatu yang tidak selalu menyenangkan: tulisan yang baik tidak otomatis akan dibaca hanya karena berhasil dikirim.

Terkirim, terlihat, dan terbaca adalah tiga hal yang berbeda.

Baca Juga: Kita Semakin Cepat Menanggapi, Semakin Lambat Memahami

Menulis Juga Berarti Memikirkan Orang yang Akan Membaca

Ada godaan tertentu ketika kita mempunyai sesuatu yang ingin disampaikan. Kita merasa gagasan itu penting, maka orang lain seharusnya bersedia membacanya. Apalagi teknologi memungkinkan satu tulisan dikirim kepada puluhan bahkan ratusan orang hanya dengan satu sentuhan.

Tetapi kemampuan mengirim tidak sama dengan memperoleh perhatian. Kita bisa memasukkan tulisan sepanjang 1.500 kata ke sebuah grup berisi 200 anggota. Secara teknis, tulisan itu telah sampai kepada 200 layar. Tetapi tidak ada teknologi yang dapat memaksa 200 manusia menyediakan sepuluh menit untuk membacanya.

Perhatian tetap merupakan keputusan pembaca.

Di sinilah menurut saya menulis perlu dipahami bukan hanya sebagai kegiatan mengeluarkan gagasan, tetapi juga sebagai usaha memahami keadaan orang yang akan menerimanya. Apa yang sedang mereka lakukan ketika menemukan tulisan tersebut? Mengapa mereka perlu membacanya? Apakah mediumnya memberikan ruang yang cukup agar mereka dapat mengikuti argumen sampai selesai?

Pertanyaan seperti itu tidak membuat seorang penulis tunduk kepada selera pembaca. Sebaliknya, ia membantu gagasan memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk benar-benar sampai.

Sebuah tulisan panjang mungkin lebih tepat ditempatkan di blog, situs pribadi, media, newsletter, atau dokumen yang dapat dibaca ketika seseorang memang mempunyai waktu. WhatsApp kemudian berfungsi sebagai pintu masuk: beberapa kalimat yang menjelaskan mengapa tulisan tersebut penting, lalu tautan bagi siapa pun yang ingin membaca lebih jauh.

Pembaca mendapatkan pilihan. Dan pilihan itu penting.

Ketika tulisan panjang ditempelkan seluruhnya di dalam grup, pembaca seolah menerima sebuah tugas yang tidak pernah ia minta. Sebaliknya, ketika diberi konteks dan kesempatan memilih, tindakan membuka tulisan menjadi keputusan sadar. Orang tidak lagi sekadar menemukan esai di antara percakapan. Ia memilih masuk ke dalamnya.

Maryanne Wolf tidak mengatakan bahwa membaca mendalam mustahil dilakukan melalui layar. Persoalannya adalah tujuan dan cara kita membaca. Ia menekankan pentingnya mengetahui untuk apa seseorang sedang membaca dan memilih cara yang sesuai dengan tujuan tersebut. Untuk informasi yang hanya perlu diketahui secara cepat, membaca sekilas dapat bekerja dengan baik. Untuk sesuatu yang membutuhkan telaah, kita memerlukan perhatian yang berbeda. 

Itulah sebabnya saya kurang setuju jika fenomena tulisan panjang yang dilewatkan di WhatsApp dianggap sebagai bukti bahwa masyarakat tidak lagi suka membaca. Kesimpulan itu terlalu mudah sekaligus kurang adil kepada pembaca.

Orang mungkin masih mau membaca panjang. Mereka hanya tidak selalu mau melakukannya di sana.

Kita sendiri sebenarnya memahami prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari. Percakapan serius tidak selalu cocok dilakukan ketika seseorang sedang terburu-buru. Cerita yang membutuhkan waktu tidak kita sampaikan ketika lawan bicara sedang menuju pintu. Bukan karena ceritanya tidak penting, melainkan karena kita memahami bahwa perhatian mempunyai keadaan dan tempatnya sendiri.

Mengapa tulisan harus berbeda?

Teknologi memang telah menghilangkan banyak batas distribusi. Hampir siapa pun sekarang dapat menulis dan mengirimkan gagasannya kepada banyak orang tanpa membutuhkan penerbit, redaktur, percetakan, atau media massa. Demokratisasi seperti ini adalah sesuatu yang berharga. Lebih banyak orang memperoleh kesempatan untuk berbicara.

Tetapi kebebasan berbicara tidak pernah datang bersama jaminan akan didengarkan. Barangkali justru di zaman ketika semua orang semakin mudah mengirimkan sesuatu, kemampuan memahami pembaca menjadi semakin penting. Penulis perlu belajar bukan hanya menyusun kalimat, tetapi juga membaca ruang. Kapan sebuah gagasan cukup disampaikan dalam tiga paragraf? Kapan ia membutuhkan 1.500 kata? Kapan WhatsApp tepat digunakan, dan kapan sebaiknya ia hanya menjadi jalan menuju ruang membaca yang lebih sesuai?

Karena panjang atau pendek ternyata bukan semata-mata perkara jumlah kata. Seribu kata dapat terasa singkat ketika kita memang datang untuk membaca. Lima ratus kata bisa terasa melelahkan ketika muncul di tengah percakapan yang sebenarnya kita buka hanya untuk mencari alamat sebuah pertemuan.

Jadi, siapa yang masih mau membaca tulisan panjang di WhatsApp Group? Mungkin masih banyak.

Tetapi sebelum mempertanyakan kesediaan mereka membaca, seorang penulis juga layak mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri: apakah orang-orang di dalam grup itu memang sedang berada di ruang yang tepat untuk menerima tulisan sepanjang itu?

Sebab menulis adalah hak kita untuk mengatakan sesuatu. Membaca tetaplah hak orang lain untuk memutuskan apakah ia ingin memberikan waktu dan perhatiannya. Menghormati pembaca mungkin dimulai dari memahami perbedaan sederhana tersebut. []

Bandung, 26 Agustus 2026