Ada kalimat yang terdengar biasa saja, tetapi tinggal lama di ingatan. Ada pula kalimat yang secara logika benar, namun terasa dingin ketika diterima. Di antara kata-kata yang sama, rupanya ada sesuatu yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh kamus.

Suatu hari seseorang berkata, "Hati-hati di jalan." Kalimat itu sederhana. Hampir semua orang pernah mendengarnya. Namun, ketika kalimat yang sama diucapkan oleh ibu yang menunggu di rumah, sahabat yang mengenal kebiasaan kita, atau seseorang yang diam-diam mengkhawatirkan keadaan kita, rasanya bisa berbeda.

Padahal kata-katanya sama. Tidak ada yang berubah. Yang berubah justru sesuatu yang tidak tertulis di dalam kalimat itu.

Hal yang sama sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dua orang dapat menyampaikan pesan yang mirip, tetapi menghasilkan perasaan yang sangat berbeda pada orang yang mendengarnya. Satu terasa hangat, satu terasa datar. Satu terasa tulus, satu terasa seperti formalitas.

Jika bahasa hanya soal kata-kata, seharusnya hal seperti itu tidak terjadi. Namun manusia ternyata tidak mendengar dengan telinga saja. Manusia juga mendengar dengan pengalaman, hubungan, ingatan, dan perasaan.

Baca Juga: Banyak Orang Bertanya, Bukan untuk Dapat Jawaban, Lalu Buat Apa?

Kita Tidak Hanya Mendengar Kalimatnya

Dalam ilmu komunikasi, makna sebuah pesan tidak hanya dibentuk oleh isi pesan itu sendiri. Nada suara, konteks hubungan, ekspresi wajah, hingga pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya ikut memengaruhi cara seseorang memahami apa yang didengar.

Itulah sebabnya sebuah kalimat seperti, "Tidak apa-apa," bisa memiliki begitu banyak arti. Kadang benar-benar berarti tidak ada masalah. Kadang justru menyimpan kekecewaan yang tidak diucapkan.

Ahli komunikasi interpersonal, Deborah Tannen, selama bertahun-tahun menjelaskan bahwa manusia tidak hanya bertukar informasi ketika berbicara. Mereka juga sedang membangun, menjaga, atau bahkan menguji hubungan melalui percakapan yang terjadi.

Karena itu, banyak percakapan tidak pernah benar-benar tentang kata-kata.

Ketika seseorang bertanya, "Sudah makan?" misalnya, yang disampaikan belum tentu sekadar rasa ingin tahu. Di balik pertanyaan sederhana itu bisa tersembunyi perhatian, kepedulian, atau keinginan untuk menunjukkan bahwa seseorang sedang dipikirkan.

Di sinilah bahasa menjadi lebih dari sekadar susunan kata. Ia berubah menjadi cara manusia menghadirkan dirinya kepada orang lain.

Baca Juga: Apakah Anda Termasuk yang Lebih Suka Mengirim Reaksi daripada Menulis Balasan?

Yang Diingat Sering Kali Bukan Ucapannya, Tetapi Rasanya

Menariknya, manusia cenderung mengingat kesan emosional lebih lama daripada detail percakapan itu sendiri. Banyak orang mungkin lupa kalimat persis yang pernah mereka dengar bertahun-tahun lalu. Namun mereka masih mengingat bagaimana perasaan mereka saat mendengarnya.

Psikolog sosial telah lama menemukan bahwa emosi memiliki peran besar dalam pembentukan memori. Pengalaman yang melibatkan perasaan tertentu sering meninggalkan jejak yang lebih kuat dibanding informasi yang bersifat netral.

Mungkin itu sebabnya seseorang bisa melupakan isi nasihat yang pernah diterimanya, tetapi tetap mengingat siapa yang bersedia mendengarkan ketika hidup sedang terasa berat.

Hal yang serupa juga pernah disentuh oleh Wendra Wilendra, M.MT. dalam refleksinya tentang kecerdasan buatan. Ia menulis bahwa ada jawaban yang tampak cerdas, tetapi tetap terasa kosong. "Kadang jawabannya kayak pintar, tapi kosong. Pintar struktur, tapi nggak punya rasa."

Meski ditulis dalam konteks AI, gagasan itu terasa dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari. Sebab dalam banyak percakapan, yang dicari bukan hanya ketepatan jawaban. Yang dicari adalah perasaan bahwa seseorang benar-benar hadir dalam percakapan tersebut.

Barangkali itulah alasan mengapa ada orang yang selalu dicari ketika sedang sedih, meskipun ia tidak selalu memiliki solusi terbaik. Kehadirannya membuat orang lain merasa dipahami. Dan perasaan itu sering lebih berharga daripada jawaban yang sempurna.

Baca Juga: Kenapa Orang Baik Lebih Banyak Diam?

Bahasa Mungkin Tidak Hanya Menyampaikan Makna

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, manusia sering terdorong untuk berbicara secara efisien. Pesan dibuat singkat. Jawaban dibuat cepat. Informasi disampaikan sejelas mungkin. Semua itu penting.

Namun, ada satu hal yang kadang terlupakan. Bahwa bahasa tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan makna. Bahasa juga membawa rasa.

Karena itu, dua kalimat yang hampir sama bisa menghasilkan dampak yang berbeda. Bukan karena maknanya berubah, melainkan karena ada sesuatu yang ikut berjalan bersama kata-kata tersebut. Sesuatu yang sulit diukur, tetapi mudah dirasakan.

Mungkin itulah alasan mengapa manusia masih terus mencari percakapan yang hangat di tengah dunia yang semakin dipenuhi informasi. Sebab dalam banyak kesempatan, yang tinggal paling lama bukanlah apa yang dikatakan seseorang kepada kita. Melainkan bagaimana perasaan yang muncul ketika kata-kata itu sampai. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.