Pocong biasanya hadir untuk menakuti. Di Bandung, ia juga bisa jadi pekerjaan. Dalam CONJURIG, kostum hantu bahkan menjadi jalan pulang menuju diri sendiri.

Film drama komedi CONJURIG sudah tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Diproduksi Global Borneo Entertainment bersama Bima Sakti Pictures dan Imagine, film ini mempertemukan cerita patah hati, pencarian identitas, dan kehidupan para cosplayer hantu di Bandung. 

Cerita berpusat pada Piit [Dito Darmawan], pemuda yang kehilangan pekerjaan dan pulang ke Bandung tanpa arah yang jelas. Ia kemudian menjadi cosplayer pocong di kawasan Alun-Alun Bandung, pekerjaan yang mengharuskannya menyembunyikan wajah di balik riasan dan kostum. Ironisnya, justru dari tempat persembunyian itulah Piit perlahan menemukan kembali dirinya. 

Piit kemudian bertemu Tamy [Maizura], cosplayer gothic misterius yang mempunyai persoalan berbeda. Tamy berusaha keluar dari bayang-bayang identitasnya sebagai cucu seorang penyanyi ternama dan mencari kehidupan yang dapat ia kenali sebagai miliknya sendiri. Dua orang yang sama-sama ingin bersembunyi itu akhirnya bertemu di jalanan Bandung. 

Baca Juga: Kenapa Lagu Lama Bisa Mendadak Populer Lagi Puluhan Tahun Kemudian?

Dari Comjurig di Jalanan Bandung ke Layar Lebar

Dunia yang menjadi latar CONJURIG bukan sepenuhnya hasil imajinasi. Film ini terinspirasi dari Comjurig, komunitas nyata berisi orang-orang berkostum hantu yang biasa berada di kawasan Asia Afrika dan Braga. Dengan menjadi ‘jurig’, mereka menghibur wisatawan sekaligus mencari penghasilan. 

Dari fenomena itulah sutradara Tubagus Deddy melihat sesuatu yang lebih jauh daripada kostum pocong dan sosok menyeramkan yang mengundang orang berfoto. Ia ingin menangkap energi Alun-Alun Bandung sekaligus menghadirkan Piit dan Tamy sebagai dua orang yang mencoba bersembunyi dari masalah. Namun, di tengah keramaian, keduanya justru perlahan menemukan diri mereka sendiri. 

Ada ironi yang menarik di sana. Orang-orang yang wajah aslinya tertutup riasan justru bisa sangat terbuka mengenai alasan mereka mengenakan kostum tersebut. Tubagus melihat para cosplayer itu sebagai orang yang jujur mengenai pekerjaan yang mereka pilih, sementara seseorang yang tidak mengenakan topeng secara fisik belum tentu hidup dengan kejujuran yang sama. 

Bagi Dito Darmawan, gagasan tersebut harus diterjemahkan melalui keterbatasan kostum yang nyata. Riasan tebal dan kostum pocong tetap harus memungkinkan penonton membaca Piit sebagai manusia yang sedang sedih dan berusaha menyembunyikan luka. Tantangannya bertambah karena proses pengambilan gambar tidak hanya dilakukan pada malam hari. 

Baca Juga:  Kalau Sebuah Lagu Menyentuh Kita, Masih Pentingkah Siapa yang Membuatnya?

Cerita Bandung tentang Persoalan yang Bisa Terjadi di Mana Saja


CONJURIG memang tumbuh dari wajah Bandung. Alun-alun, komunitas cosplayer jalanan, logat, dan candaan keseharian menjadi bagian dari dunia yang dibangun film ini. Namun cerita yang dibawanya tidak berhenti sebagai potret sebuah kota. 

Patah hati tidak hanya terjadi di Bandung, begitu pula kebingungan mengenai siapa diri kita setelah kehilangan pekerjaan, hubungan, atau identitas yang selama ini melekat. Ada kalanya manusia memang ingin bersembunyi sebentar sebelum mempunyai keberanian untuk kembali terlihat. CONJURIG memilih menceritakan pengalaman itu melalui dua orang yang secara harfiah justru bekerja dengan menyembunyikan wajah mereka.

Produksi ini sekaligus memberi ruang bagi talenta muda Bandung untuk tampil bersama sejumlah nama yang lebih dulu dikenal luas. Muhammad Ariza Darmawan dari Global Borneo Entertainment menyebut kehadiran talenta lokal berdampingan dengan aktor senior sebagai cara membawa wajah Bandung menuju layar lebar nasional. Mathias Muchus, Joe P Project, dan Ferry Maryadi termasuk di antara nama yang terlibat dalam film tersebut. 

Selain mereka, CONJURIG dibintangi Shella Fernanda, Bucek Deep, Trie Utami, Anyun Cadel, Ikbal Fauzi, dan Wina Marrino. Film produksi Global Borneo Entertainment, Bima Sakti Pictures, dan Imagine tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia awal Oktober kemarin. 

Mungkin itu pula yang membuat kostum hantu dalam CONJURIG mempunyai arti lebih dari sekadar sumber komedi. Piit dan Tamy sama-sama menyembunyikan sesuatu, tetapi persembunyian tersebut justru membawa mereka berhadapan dengan pertanyaan mengenai siapa diri mereka sebenarnya. Kadang-kadang, keberanian memperlihatkan diri memang bisa ditemukan setelah kita sempat bersembunyi. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.