Dulu teman bisa muncul hampir tanpa dicari. Semakin dewasa, kita bertemu banyak orang baru. Anehnya, semakin sedikit yang benar-benar menjadi teman dekat.
Bagi banyak laki-laki, persoalannya bahkan bukan tidak mempunyai teman. Masih ada teman sekolah, teman kuliah, rekan kerja, tetangga, atau orang-orang dalam grup percakapan yang sesekali saling menyapa. Namun jika pertanyaannya diubah menjadi “siapa orang baru yang menjadi teman dekat dalam beberapa tahun terakhir?”, jawabannya mungkin membutuhkan waktu lebih lama.
Penelitian tidak menunjukkan bahwa laki-laki berhenti membutuhkan persahabatan ketika dewasa. Studi longitudinal terhadap laki-laki Australia justru menemukan bahwa mempunyai lebih banyak teman dan lebih sering bertemu teman atau keluarga berkaitan dengan tingkat kesepian yang lebih rendah pada berbagai tahap kehidupan. Persahabatan tetap penting, tetapi kondisi yang memungkinkan persahabatan baru tumbuh semakin sulit ditemukan.
Ada pekerjaan, pasangan, anak, perjalanan pulang-pergi, tanggung jawab keluarga, dan kebutuhan untuk beristirahat. Waktu yang dahulu tersedia untuk sekadar nongkrong tanpa tujuan kini harus bersaing dengan banyak hal. Padahal kedekatan ternyata membutuhkan sesuatu yang sangat sederhana sekaligus semakin mahal ketika kita dewasa: waktu bersama.
Baca Juga: Laki-Laki Juga Membutuhkan Validasi. Hanya Saja Bentuknya Sering Berbeda
Dulu Kita Berteman Tanpa Menjadwalkannya
Jeffrey A. Hall dari University of Kansas meneliti berapa banyak waktu yang diperlukan untuk membentuk persahabatan. Hasilnya menunjukkan hubungan antara banyaknya waktu yang dihabiskan bersama dan meningkatnya kedekatan, sementara aktivitas santai bersama juga membantu perkembangan persahabatan. Penelitiannya memperkirakan sekitar 40–60 jam interaksi diperlukan untuk bergerak dari kenalan menuju teman biasa, sedangkan hubungan yang lebih dekat membutuhkan investasi waktu yang lebih besar.
Ketika masih sekolah atau kuliah, puluhan jam itu datang hampir tanpa terasa. Kita duduk di kelas yang sama, makan bersama, menunggu kegiatan dimulai, pulang bersama, bermain setelah sekolah, atau sekadar tidak melakukan apa-apa selama berjam-jam. Kedekatan tumbuh di sela-sela kehidupan karena pertemuan berulang sudah disediakan oleh lingkungan.
Kehidupan dewasa menghilangkan banyak ruang tersebut. Kita memang dapat bertemu seseorang setiap hari di kantor, tetapi Hall menemukan bahwa waktu bersama dalam aktivitas santai lebih berhubungan dengan perkembangan kedekatan dibandingkan waktu yang hanya dihabiskan bersama untuk bekerja. Mengenal seseorang selama bertahun-tahun karenanya belum tentu membuat hubungan bergerak dari ‘teman kantor’ menjadi teman yang benar-benar dekat.
Ada persoalan lain yang lebih khas pada laki-laki. Penelitian psikolog Niobe Way terhadap persahabatan anak laki-laki menemukan bahwa pada masa awal dan pertengahan remaja, anak laki-laki dapat mempunyai persahabatan yang sangat intim dan menjadi tempat berbagi rahasia. Ketika bergerak menuju akhir masa remaja, kedekatan semacam itu cenderung berkurang meskipun keinginan memilikinya tetap ada.
Artinya, gambaran bahwa laki-laki memang sejak awal tidak membutuhkan kedekatan emosional terlalu sederhana. Sebagian laki-laki justru belajar sepanjang pertumbuhannya bahwa kerentanan, kebutuhan akan orang lain, atau percakapan emosional tertentu kurang sesuai dengan gambaran maskulinitas yang diharapkan. Kebutuhan terhadap kedekatan tidak otomatis hilang hanya karena cara menunjukkannya berubah.
Baca Juga: Mengapa Banyak Persahabatan Laki-Laki Tak Dihiasi Banyak Bicara, tetapi Tetap Bertahan Lama?
Temannya Ada, Tetapi Apakah Hubungannya Masih Dipelihara?
Persahabatan laki-laki juga sering dibangun melalui kegiatan bersama. Bertemu untuk olahraga, bermain gim, memancing, mengutak-atik kendaraan, menonton pertandingan, atau sekadar minum kopi memberi alasan untuk berada bersama tanpa harus menjadikan percakapan emosional sebagai agenda utama. Pola seperti ini bukan berarti persahabatan tersebut dangkal, tetapi ia membutuhkan kesempatan untuk terus melakukan sesuatu bersama.
Ketika kesempatan itu menghilang, hubungan dapat tetap terasa dekat secara identitas meskipun interaksinya semakin jarang. Survei Pew Research Center di Amerika Serikat menemukan laki-laki dan perempuan hampir sama mungkin memiliki setidaknya satu teman dekat, tetapi laki-laki yang mempunyai teman dekat cenderung berkomunikasi dengan mereka lebih jarang dibandingkan perempuan.
Penelitian PubMed Central [PMC] tentang maskulinitas dan kesepian juga menunjukkan bahwa kedekatan tidak hanya membutuhkan keberadaan orang lain. Keintiman berkembang melalui proses dua arah berupa keterbukaan yang rentan, respons dari orang lain, dan perasaan bahwa respons tersebut benar-benar memahami kita. Seseorang karenanya dapat mempunyai banyak kenalan sekaligus merasa tidak mempunyai cukup orang untuk diajak berbicara ketika hidup sedang tidak baik.
Ini membuat tantangan menambah teman dekat ketika dewasa menjadi sedikit paradoks. Untuk menjadi dekat, dua orang perlu menghabiskan waktu dan perlahan menjadi lebih terbuka. Namun orang dewasa mempunyai waktu yang lebih sedikit, sementara sebagian laki-laki juga tidak terbiasa secara eksplisit mengatakan bahwa mereka ingin hubungan pertemanan menjadi lebih dekat.
Akibatnya, banyak pertemanan potensial berhenti pada fase “kapan-kapan kita ngopi”. Bukan karena kedua orang tidak cocok, melainkan karena kedekatan membutuhkan pertemuan kedua, ketiga, kesepuluh, hingga percakapan yang perlahan bergerak melampaui pekerjaan dan kesibukan sehari-hari. Persahabatan jarang tumbuh hanya dari niat baik.
Mungkin karena itu menambah teman ketika dewasa memerlukan sedikit keberanian yang dahulu tidak diperlukan. Kita perlu menjadi orang yang menghubungi lebih dulu, mengajak bertemu lagi, mempertahankan kebiasaan kecil, atau sesekali mengatakan sesuatu yang lebih pribadi daripada biasanya. Hal-hal tersebut terdengar sederhana, tetapi semuanya membuka kemungkinan bahwa ajakan tidak dibalas atau keterbukaan tidak mendapatkan respons yang diharapkan.
Semakin dewasa, laki-laki sebenarnya belum tentu semakin sulit berteman. Yang semakin langka adalah keadaan yang dahulu membuat persahabatan tumbuh dengan sendirinya. Setelah sekolah, kampus, dan waktu luang tidak lagi menyediakan kedekatan secara otomatis, persahabatan membutuhkan sesuatu yang terasa kurang spontan: sengaja menyediakan waktu untuk seseorang.
Mungkin teman dekat baru memang tidak datang semudah dahulu. Namun itu bukan berarti pintunya sudah tertutup. Kadang sebuah persahabatan dewasa hanya menunggu satu orang berhenti mengatakan “kapan-kapan” dan mulai menentukan kapan. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.