Perawatan kulit sudah dilakukan secara rutin, tetapi jerawat masih bermunculan. Selain produk kosmetik, pola makan mungkin menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Pagi hari dimulai dengan membersihkan wajah, mengoleskan pelembap, dan menggunakan tabir surya. Malamnya, rutinitas dilanjutkan dengan produk perawatan jerawat yang dipilih secara hati-hati. Akan tetapi, ketika bercermin beberapa hari kemudian, muncul lagi jerawat di dagu atau pipi, seolah seluruh usaha merawat kulit belum membuahkan hasil.
Keadaan tersebut sering membuat seseorang mempertanyakan efektivitas produk yang digunakannya. Ada yang segera mengganti sabun wajah, mencoba serum baru, atau menambahkan bahan aktif dengan harapan jerawat lebih cepat menghilang. Sebagian lainnya mulai mencurigai makanan yang dikonsumsi sehari-hari, mulai dari gorengan, cokelat, susu, hingga minuman manis.
Pertanyaannya, apakah makanan benar-benar dapat memengaruhi kemunculan jerawat? Penelitian dermatologi menunjukkan adanya hubungan antara pola konsumsi tertentu dan kondisi kulit, meskipun hubungan itu tidak selalu sama pada setiap individu. Karena itu, memahami peran makanan membutuhkan penjelasan yang lebih cermat daripada sekadar menyebut daftar hidangan yang harus dihindari.
Baca Juga: Sama-Sama Produk Perawatan, Mengapa Ada yang BPOM, P-IRT, dan PKRT?
Ketika Pola Makan Ikut Memengaruhi Kondisi Kulit
Jerawat terbentuk melalui sejumlah proses yang saling berkaitan, antara lain produksi sebum atau minyak kulit, penyumbatan folikel, aktivitas bakteri Cutibacterium acnes, dan peradangan. Hormon serta faktor genetik turut memengaruhi proses tersebut, sehingga penyebab jerawat tidak dapat dijelaskan hanya melalui kebersihan wajah atau satu jenis makanan. Kondisi kulit seseorang juga dapat berubah seiring usia, siklus hormonal, penggunaan obat tertentu, dan respons terhadap produk perawatan.
Salah satu hubungan yang banyak diteliti adalah pola makan dengan beban glikemik tinggi. American Academy of Dermatology [AAD] menjelaskan bahwa makanan dan minuman yang menyebabkan kenaikan gula darah secara cepat mungkin berkaitan dengan memburuknya jerawat pada sebagian orang. Beberapa penelitian intervensi berskala kecil menunjukkan perbaikan kondisi jerawat ketika peserta menjalani pola makan dengan beban glikemik lebih rendah.
Beban glikemik tidak hanya mempertimbangkan seberapa cepat karbohidrat meningkatkan gula darah, tetapi juga jumlah karbohidrat yang dikonsumsi dalam satu porsi. Minuman berpemanis, kue manis, dan sejumlah makanan berbahan karbohidrat olahan dapat menyumbang beban glikemik tinggi, bergantung pada porsi dan komposisinya. Karena itu, kebiasaan meminum kopi susu dengan tambahan gula atau mengonsumsi makanan manis berulang kali lebih layak dievaluasi daripada langsung menyalahkan satu potong kue yang sesekali dinikmati.
Secara biologis, peningkatan insulin dan aktivitas jalur insulin-like growth factor-1 [IGF-1] diduga berhubungan dengan proses yang memengaruhi produksi sebum serta pembentukan sel kulit dalam folikel. Mekanisme tersebut membantu menjelaskan mengapa pola makan menjadi perhatian dalam penelitian jerawat. Akan tetapi, penjelasan mekanisme biologis tidak otomatis membuktikan bahwa makanan tertentu merupakan penyebab langsung jerawat pada semua orang.
Susu sapi juga menjadi bahan perdebatan dalam kajian dermatologi. Sejumlah penelitian observasional menemukan hubungan antara konsumsi susu, termasuk susu rendah lemak atau susu tanpa lemak, dan kemungkinan mengalami jerawat. AAD menjelaskan bahwa hubungan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut, sementara bukti mengenai produk olahan susu seperti yoghurt dan keju tidak menunjukkan pola yang sama secara konsisten.
Tinjauan ilmiah Diet and Acne: Facts and Controversies yang diterbitkan pada 2026 turut membahas kemungkinan hubungan jerawat dengan makanan tinggi beban glikemik, susu tertentu, dan suplemen protein whey. Para penelitinya menekankan bahwa jumlah penelitian intervensi terkontrol masih terbatas, sehingga hasil penelitian observasional belum cukup untuk menetapkan pantangan makanan secara umum. Faktor pola makan, perubahan berat badan, dan kebiasaan hidup lainnya juga dapat mempersulit penilaian hubungan sebab-akibat.
Baca Juga: Peptida dalam Kosmetik Sebenarnya Bekerja untuk Apa?
Merawat Kulit Tanpa Harus Memusuhi Makanan
Keberadaan hubungan antara makanan dan jerawat bukan berarti setiap orang perlu berhenti mengonsumsi nasi, susu, cokelat, atau makanan kesukaannya. National Institute for Health and Care Excellence [NICE] Inggris, melalui pedoman penanganan jerawat yang diperbarui pada 2026, menyatakan bahwa bukti ilmiah belum memadai untuk merekomendasikan diet khusus sebagai pengobatan jerawat. Pendekatan yang lebih masuk akal adalah menjaga pola makan seimbang dan mempertimbangkan kondisi individual.
Bagi seseorang yang merasa jerawatnya memburuk setelah mengonsumsi jenis makanan tertentu, pengamatan terhadap kebiasaan makan dan perubahan kulit dapat membantu menemukan kemungkinan pola. Catatan sederhana mengenai makanan, kondisi jerawat, siklus menstruasi jika relevan, serta penggunaan produk perawatan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh. Meski begitu, kemunculan jerawat beberapa hari setelah makan sesuatu belum cukup membuktikan bahwa makanan tersebut merupakan penyebabnya.
Pembatasan makanan sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan yang jelas, terutama jika melibatkan kelompok pangan penting seperti susu dan produk sumber protein. Menghilangkan berbagai jenis makanan sekaligus dapat menyulitkan pemenuhan kebutuhan nutrisi dan justru membuat hubungan seseorang dengan makanan menjadi penuh kekhawatiran. Apabila diperlukan perubahan pola makan yang cukup besar, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu memastikan kebutuhan tubuh tetap terpenuhi.
Ada pula anggapan bahwa gorengan menyebabkan jerawat karena minyak dari makanan akan langsung meningkatkan minyak pada wajah. Penjelasan tersebut terlalu menyederhanakan proses biologis karena sebum diproduksi oleh kelenjar kulit melalui mekanisme yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk hormon. Gorengan juga memiliki komposisi yang beragam, sehingga dampaknya tidak dapat disimpulkan hanya dari kenyataan bahwa makanan tersebut dimasak menggunakan minyak.
Persoalan serupa berlaku pada cokelat yang kerap dituduh menyebabkan jerawat. Produk cokelat memiliki komposisi berbeda-beda, mulai dari kandungan kakao, gula, susu, hingga bahan tambahan lainnya. Bukti yang tersedia belum cukup untuk menyatakan bahwa semua jenis cokelat pasti memperburuk jerawat, sehingga penilaian perlu mempertimbangkan komposisi produk dan respons masing-masing individu.
Sementara itu, rutinitas perawatan kulit tetap memiliki peran penting dalam mengendalikan jerawat. Pedoman NICE menganjurkan pembersihan wajah secara lembut menggunakan produk yang sesuai serta pemilihan pelembap dan tabir surya yang tidak mudah menyumbat pori. Untuk jerawat yang membutuhkan penanganan, terapi dengan bahan aktif atau obat yang sesuai perlu dipertimbangkan berdasarkan tingkat keparahan dan kondisi kulit.
Mengganti produk terlalu sering juga dapat menyulitkan seseorang menilai apakah perawatan yang sedang dijalani sebenarnya bekerja. Perbaikan jerawat umumnya membutuhkan waktu beberapa minggu, sementara penggunaan bahan aktif yang berlebihan dapat menimbulkan iritasi dan memperburuk kenyamanan kulit. Apabila jerawat terus berulang, terasa nyeri, meninggalkan bekas, atau menimbulkan tekanan psikologis, pemeriksaan dokter kulit lebih bermanfaat daripada terus-menerus mencoba produk maupun pantangan makanan berdasarkan dugaan.
Pada dasarnya, kesehatan kulit merupakan hasil interaksi berbagai proses di dalam tubuh dan pengaruh lingkungan. Makanan dapat menjadi salah satu bagian dari gambaran tersebut, tetapi bukan satu-satunya penentu keberhasilan perawatan. Seseorang tetap dapat mengalami jerawat meskipun telah menjaga pola makan dan menggunakan produk yang sesuai, sebagaimana orang lain mungkin tidak mengalami masalah berarti meskipun sesekali menikmati makanan manis atau berlemak.
Karena itu, merawat kulit tidak seharusnya berubah menjadi kegiatan mencari makanan yang harus disalahkan setiap kali jerawat muncul. Memahami pola konsumsi, menjaga keseimbangan nutrisi, dan menggunakan perawatan yang tepat merupakan langkah yang lebih masuk akal dibandingkan menerapkan larangan tanpa dasar yang kuat. Kulit yang sehat membutuhkan perhatian, tetapi menikmati makanan juga merupakan bagian dari kehidupan yang tidak perlu selalu disertai rasa bersalah. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.