Jadwal kuliah padat, tugas menumpuk, dan uang saku terbatas membuat perawatan kulit sering terabaikan. Padahal, merawat diri tidak selalu membutuhkan banyak produk.
Pukul sebelas malam, seorang mahasiswi masih duduk di depan laptop, menyelesaikan presentasi yang harus dikumpulkan keesokan paginya. Di meja belajarnya terdapat secangkir kopi, beberapa buku, serta deretan produk perawatan kulit yang sudah berhari-hari jarang disentuh. Ketika melihat pantulan wajahnya di layar ponsel, ia baru menyadari munculnya beberapa jerawat baru.
Ia teringat video seorang kreator kecantikan yang menyarankan rutinitas perawatan berlapis agar kulit tetap sehat dan bercahaya. Tetapi dengan waktu tidur yang semakin sedikit dan uang saku yang harus dibagi untuk makan, transportasi, serta kebutuhan kuliah, membeli lebih banyak produk terasa sulit dilakukan. Ia pun bertanya-tanya apakah merawat kulit memang harus serumit itu.
Cerita ilustratif tersebut cukup dekat dengan kehidupan banyak mahasiswa. Keinginan menjaga penampilan dapat berjalan beriringan dengan tuntutan akademik, aktivitas organisasi, dan tekanan sosial di lingkungan kampus. Masalahnya muncul ketika perawatan kulit yang semestinya membantu seseorang merasa nyaman justru berubah menjadi kewajiban tambahan yang melelahkan.
Baca Juga: Kosmetik Ilegal Masih Mudah Dibeli di Internet, Apa yang Bisa Dilakukan Konsumen?
Ketika Tekanan Akademik Ikut Mengubah Kebiasaan Merawat Kulit
Kondisi kulit dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari genetik, hormon, lingkungan, hingga kebiasaan sehari-hari. Pada masa perkuliahan, perubahan jadwal tidur, tekanan menghadapi ujian, serta aktivitas luar ruang dapat ikut memengaruhi keadaan tersebut. Meski demikian, tidak setiap jerawat atau kulit kusam dapat langsung disalahkan pada stres akademik.
American Academy of Dermatology [AAD] menjelaskan bahwa stres dapat memperburuk jerawat yang sudah ada. Ketika seseorang mengalami stres, perubahan hormonal dapat meningkatkan produksi minyak kulit dan berkontribusi terhadap munculnya jerawat. Artinya, stres bukan satu-satunya penyebab, tetapi dapat menjadi faktor yang memperparah kondisi kulit tertentu.
Kurang tidur juga patut diperhatikan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Skin Research and Technology pada 2020 terhadap 32 perempuan Korea berusia sekitar 40-an menunjukkan penurunan hidrasi kulit selama periode pembatasan tidur. Hasil tersebut memperlihatkan kemungkinan hubungan antara tidur dan kondisi kulit, meskipun tidak bisa langsung digeneralisasi kepada seluruh mahasiswa.
Di luar faktor biologis, kesibukan sering mengubah kebiasaan sederhana. Mahasiswa yang pulang larut mungkin tertidur tanpa membersihkan riasan, terlalu sering mencuci wajah karena merasa berminyak, atau mencoba berbagai produk baru ketika jerawat muncul. Kebiasaan seperti itu dapat meningkatkan risiko iritasi, terutama jika produk yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan kulit.
AAD mengingatkan bahwa mencuci wajah terlalu sering dan menggunakan produk yang keras dapat memperburuk iritasi. Membersihkan wajah dengan pembersih lembut umumnya cukup dilakukan dua kali sehari serta setelah banyak berkeringat. Kulit yang sedang bermasalah tidak selalu membutuhkan lebih banyak tahapan perawatan.
Baca Juga: Sudah Rajin Skincare, tetapi Masih Sering Jerawatan, Apakah Makanan Ikut Berperan?
Merawat Kulit dengan Waktu dan Anggaran yang Terbatas
Kabar baiknya, rutinitas perawatan kulit tidak harus terdiri atas banyak produk. Dalam panduan Skin Care on a Budget, AAD menekankan tiga langkah dasar, yaitu membersihkan, melembapkan, dan melindungi kulit dari sinar matahari. Produk yang mahal juga tidak otomatis lebih efektif dibandingkan produk terjangkau yang sesuai dengan kebutuhan kulit.
Bagi mahasiswa, pembersih wajah yang lembut dapat menjadi langkah awal untuk menghilangkan kotoran, minyak berlebih, dan sisa produk. Pelembap membantu mempertahankan kadar air kulit, termasuk pada kulit berminyak yang tetap membutuhkan kelembapan. Pemilihannya perlu disesuaikan dengan kondisi kulit, bukan sekadar mengikuti produk yang sedang populer.
Perlindungan matahari juga penting, terutama bagi mahasiswa yang sering berpindah gedung, berjalan kaki, atau menggunakan kendaraan menuju kampus. AAD merekomendasikan tabir surya berspektrum luas dengan SPF minimal 30, disertai perlindungan melalui pakaian dan tempat teduh. Penggunaan ulang diperlukan ketika berada di luar ruangan dalam waktu lama, terutama setelah berkeringat.
Mahasiswa yang memiliki jerawat tidak perlu buru-buru membeli berbagai serum atau produk eksfoliasi sekaligus. Penggunaan terlalu banyak produk, terutama yang mengandung bahan aktif kuat, dapat meningkatkan kemungkinan iritasi. Apabila jerawat terasa nyeri, meninggalkan bekas, atau terus memburuk, pemeriksaan dokter spesialis dermatologi dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai.
Pertimbangan keuangan juga tidak boleh diabaikan. Membeli produk berdasarkan kebutuhan dan menghabiskannya sesuai masa pakai lebih masuk akal daripada menumpuk kosmetik karena diskon atau rekomendasi media sosial. Perawatan kulit yang baik seharusnya dapat dilakukan secara konsisten tanpa mengorbankan kebutuhan makan, istirahat, maupun keperluan akademik.
Hal yang sama berlaku untuk standar penampilan. Wajah yang sedang berjerawat atau terlihat lelah setelah menghadapi ujian bukan tanda bahwa seseorang gagal merawat diri. Kondisi kulit dapat berubah, sementara tuntutan untuk selalu terlihat sempurna seringkali tidak sejalan dengan kenyataan hidup sehari-hari.
Mahasiswa tentu boleh menikmati kegiatan merawat kulit dan bereksperimen dengan penampilan selama produk yang digunakan aman serta sesuai kebutuhan. Tetapi merawat diri tidak harus berubah menjadi perlombaan memiliki produk terbanyak atau mengikuti setiap tren kecantikan. Di tengah jadwal kuliah yang sudah penuh, rutinitas sederhana yang membantu menjaga kesehatan kulit jauh lebih berguna daripada perawatan rumit yang justru menambah beban. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.