Saat melihat foto bersama, banyak orang pertama-tama mencari wajahnya sendiri. Dan sering kali, dari situlah perasaan kurang itu bermula.
Ada yang merasa hidungnya terlalu besar. Ada yang menganggap pipinya terlalu chubby. Ada yang langsung memperhatikan warna kulit, bentuk rahang, atau garis-garis halus yang mulai muncul di wajah. Menariknya, saat melihat foto yang sama, orang lain sering kali tidak memperhatikan kekurangan-kekurangan itu sama sekali.
Namun kita tetap melakukannya. Kita melihat wajah sendiri dengan cara yang berbeda dibandingkan saat melihat wajah orang lain. Pertanyaannya, mengapa selalu ada perasaan kurang dari wajah yang setiap hari kita lihat?
Baca Juga: Mengapa Kita Sering Tak Puas dengan Wajah yang Setiap Hari Kita Lihat?
Kita Adalah Pengkritik Paling Keras untuk Diri Sendiri
Sebagian besar orang hidup bersama wajah yang sama selama bertahun-tahun. Kita melihatnya setiap pagi di depan cermin, setiap kali mengambil swafoto, dan setiap kali membuka galeri ponsel. Kedekatan yang begitu tinggi membuat kita hafal setiap detail kecil yang ada di sana.
Masalahnya, semakin akrab kita dengan sesuatu, semakin mudah pula kita menemukan hal-hal yang dianggap tidak sempurna. Apa yang sebenarnya biasa saja bisa terasa besar karena terus-menerus mendapat perhatian.
Kita juga cenderung mengingat komentar yang bernada negatif lebih lama daripada pujian. Satu komentar tentang bentuk hidung atau warna kulit bisa bertahan di kepala selama bertahun-tahun, sementara puluhan pujian sering lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas yang berarti.
Akibatnya, banyak orang tidak lagi melihat wajahnya secara utuh. Mereka hanya melihat bagian-bagian yang dianggap kurang dan melupakan keseluruhan diri yang dilihat orang lain.
Baca Juga: Apakah Kulit Kita Benar-Benar Membutuhkan Terlalu Banyak Produk?
Perbandingan yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai
Perasaan kurang juga tumbuh dari kebiasaan membandingkan diri. Dahulu, pembanding kita mungkin hanya teman sekolah, tetangga, atau rekan kerja. Kini, dalam hitungan menit, kita bisa melihat ratusan wajah dari berbagai belahan dunia melalui media sosial.
Sebagian foto telah melalui proses pemilihan sudut terbaik. Sebagian lagi sudah melewati penyuntingan, filter, pencahayaan khusus, bahkan sentuhan teknologi yang membuat wajah tampak lebih sempurna daripada kondisi sebenarnya.
Meski kita mengetahui hal itu, otak tetap melakukan perbandingan. Tanpa sadar, kita menempatkan wajah sehari-hari milik kita berdampingan dengan versi terbaik dari wajah orang lain.
Perbandingan semacam ini sulit dimenangkan. Ketika satu hal berhasil diperbaiki, biasanya muncul standar baru yang harus dikejar. Ketika tren alis berubah, orang menyesuaikan alisnya. Ketika bentuk wajah tertentu dianggap ideal, muncul keinginan untuk mengikuti bentuk tersebut. Prosesnya terus bergerak tanpa garis akhir yang jelas.
Baca Juga: Dulu Kita Ingin Menghilangkan Semua Bakteri, dan Kini Kita Mulai Belajar Hidup Bersama Mereka
Wajah Kita Tidak Berubah Sebanyak yang Kita Kira
Yang menarik, wajah seseorang sering kali tidak berubah sedrastis yang dibayangkan. Yang berubah justru cara kita memandangnya.
Usia bertambah, tren kecantikan berganti, teknologi menghadirkan standar visual baru, dan media sosial memperluas ruang perbandingan. Semua itu memengaruhi cara kita menilai diri sendiri. Wajah yang sama bisa terasa cukup pada satu masa, lalu terasa kurang pada masa yang lain.
Karena itulah, persoalan ini tidak selalu berkaitan dengan bentuk wajah semata. Banyak orang yang secara objektif dianggap menarik tetap merasa kurang percaya diri. Sebaliknya, ada orang yang tidak memenuhi berbagai standar kecantikan populer, tetapi mampu merasa nyaman dengan dirinya sendiri.
Rasa puas terhadap penampilan ternyata tidak hanya lahir dari apa yang terlihat di cermin. Ia juga dipengaruhi oleh cara kita menerima diri, memahami kelebihan yang dimiliki, dan menyadari bahwa nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh satu bagian wajah saja.
Mungkin perasaan kurang itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun ada baiknya kita sesekali mengingat bahwa wajah yang selama ini kita kritik begitu keras adalah wajah yang dikenali keluarga, disambut sahabat, dan menjadi bagian dari cerita hidup kita sendiri. Bisa jadi, orang lain melihatnya dengan jauh lebih ramah daripada cara kita melihat diri sendiri. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.