Jalannya mungkin masih sama. Bangunannya belum banyak berubah. Namun, ketika datang untuk kedua kalinya, sebuah tempat bisa terasa seperti tempat yang berbeda.
Kita pernah mengalaminya ketika kembali ke kota, pantai, hotel, atau tempat wisata yang dahulu begitu membekas. Sebelum berangkat, bayangan kunjungan pertama ikut terbawa: makanan yang enak, udara yang menyenangkan, atau suasana yang rasanya sulit ditemukan di tempat lain. Anehnya, ketika sampai, pengalaman itu tidak selalu muncul kembali.
Kadang tempat tersebut memang berubah. Warung yang dahulu sepi menjadi ramai, jalan baru dibangun, harga naik, atau pemandangan terhalang bangunan. Namun ada kalanya hampir semuanya masih sama, sementara perasaan kita terhadap tempat itu tetap berbeda.
Barangkali karena perjalanan bukan hanya pertemuan antara manusia dan sebuah lokasi. Kita juga datang bersama harapan, ingatan, pengalaman baru, suasana hati, dan versi diri yang tidak persis sama dengan orang yang dahulu pernah berada di sana. Kunjungan kedua karena itu tidak pernah benar-benar menjadi pengulangan kunjungan pertama.
Baca Juga: Pantai Tidak Selalu Paling Dekat, Tetapi Mengapa Banyak Orang Selalu Ingin Kembali?
Kita Datang Membawa Tempat yang Sudah Tersimpan dalam Ingatan
Ingatan manusia bukan rekaman yang dapat diputar kembali secara utuh. Penelitian psikologi memandang memori sebagai sesuatu yang bersifat rekonstruktif: ketika mengingat pengalaman, manusia menyusun kembali informasi yang tersimpan, bukan sekadar membuka salinan sempurna dari kejadian sebelumnya. Karena itu, kenangan mengenai perjalanan pun dapat berubah seiring waktu.
Daniel Kahneman dan koleganya menunjukkan bahwa penilaian terhadap sebuah pengalaman tidak selalu mengikuti keseluruhan pengalaman secara merata. Dalam konsep yang kemudian dikenal sebagai peak-end rule, bagian yang paling intens dan bagaimana pengalaman berakhir dapat mempunyai pengaruh besar terhadap cara kita mengingatnya. Kunjungan pertama yang panjang karenanya bisa tersimpan hanya melalui beberapa momen yang paling menonjol.
Bayangkan liburan tiga hari yang sebenarnya diwarnai macet, antre, kehujanan, dan kelelahan. Namun pada sore terakhir, kita melihat matahari terbenam yang indah sambil makan bersama orang-orang terdekat. Bertahun-tahun kemudian, bagian itulah yang mungkin lebih mudah muncul ketika nama tempat tersebut disebut.
Masalah kecil muncul ketika ingatan itu berubah menjadi standar bagi kunjungan berikutnya. Kita bukan lagi sekadar melihat pantai, tetapi tanpa sadar membandingkannya dengan pantai yang telah tersimpan dalam memori. Kita tidak hanya mencicipi makanan, tetapi membandingkannya dengan rasa yang selama bertahun-tahun kita ingat sebagai ‘luar biasa’.
Kunjungan pertama juga mempunyai sesuatu yang sulit diulang: kebaruan. Kita belum mengetahui apa yang berada di tikungan berikutnya, seperti apa pemandangan dari kamar, atau apakah makanan yang dipesan akan enak. Pada kunjungan kedua, sebagian kejutan tersebut sudah hilang karena otak mempunyai prediksi mengenai apa yang akan ditemukan.
Itu bukan berarti perjalanan kedua pasti lebih membosankan. Hilangnya kebaruan justru dapat membuka perhatian terhadap detail yang dahulu terlewat. Kita mungkin tidak lagi sibuk mengejar tempat populer dan mulai memperhatikan gang kecil, pasar pagi, percakapan warga, atau ritme sebuah kota ketika wisatawan belum memenuhi jalan.
Baca Juga: Tidak Semua Orang Berani Bepergian Sendirian. Apa yang Sebenarnya Ditakutkan?
Tempatnya Berubah, tetapi Kita Juga Tidak Datang sebagai Orang yang Sama
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika mengatakan sebuah tempat “sudah tidak seperti dulu”. Jarak antara dua perjalanan bukan hanya memberi waktu kepada sebuah tempat untuk berubah. Waktu yang sama juga mengubah orang yang mengunjunginya.
Perjalanan pertama mungkin dilakukan ketika masih kuliah bersama teman-teman. Kunjungan kedua terjadi sepuluh tahun kemudian bersama pasangan dan anak. Kota yang sama sekarang dilihat melalui kebutuhan, tanggung jawab, kemampuan finansial, tenaga, dan perhatian yang sama sekali berbeda.
Dahulu perjalanan delapan jam menggunakan kendaraan mungkin terasa seperti petualangan. Setelah bertahun-tahun, perjalanan yang sama bisa terasa melelahkan. Sebaliknya, museum yang dahulu dianggap membosankan mungkin menjadi tempat yang ingin kita datangi lebih lama karena pengetahuan dan minat kita telah berubah.
Psikolog Dan McAdams melihat identitas manusia antara lain melalui narrative identity, yakni cerita mengenai diri yang terus dibentuk dengan menghubungkan masa lalu dan masa kini. Tempat-tempat tertentu dapat ikut masuk ke dalam cerita tersebut. Kembali ke sana membuat kita bukan hanya melihat lokasi, tetapi juga berhadapan dengan siapa diri kita ketika dahulu mengunjunginya.
Itulah sebabnya perjalanan kedua terkadang membawa perasaan yang sulit diberi nama. Kita berdiri di tempat yang pernah membuat bahagia, tetapi orang-orang yang dahulu bersama kita mungkin tidak lagi ada di sana. Tempat itu tetap nyata, sementara sebagian pengalaman yang ingin ditemukan kembali hanya hidup dalam satu periode kehidupan.
Namun kunjungan kedua tidak harus kalah dari yang pertama. Ia hanya membutuhkan kesediaan untuk tidak memaksanya menjadi salinan. Alih-alih terus mencari apakah restoran masih seenak dulu atau pantainya masih seindah ingatan, kita dapat memberi kesempatan kepada tempat yang sama untuk memberikan pengalaman yang baru.
Mungkin ada kedai baru yang ternyata menyenangkan. Mungkin jalan yang dahulu tidak sempat dimasuki membawa kita ke bagian kota yang lebih menarik. Bahkan mungkin kita menyadari bahwa hal yang dahulu membuat perjalanan itu istimewa sebenarnya bukan tempatnya, melainkan orang-orang dan fase kehidupan yang menyertainya.
Karena itu, ketika sebuah destinasi terasa berbeda pada kunjungan kedua, kita tidak selalu harus menyimpulkan bahwa tempat tersebut sudah kehilangan pesonanya. Bisa jadi sebagian memang berubah, sebagian hanya berbeda dari ingatan, dan sebagian lainnya berubah karena kita memandangnya dengan mata yang baru.
Perjalanan kedua tidak membawa kita kembali ke perjalanan pertama. Ia mempertemukan tempat yang terus berubah dengan manusia yang juga terus bergerak. Barangkali justru di situlah menariknya kembali: kita dapat mengetahui bukan hanya apa yang berubah dari sebuah tempat, tetapi juga seberapa jauh kita sendiri telah berubah sejak terakhir meninggalkannya. [][Adrian Damar/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.