Segelas cairan cokelat keemasan tersaji saat berbuka. Rasanya manis lembut, tidak menusuk. Kurma yang biasanya dikunyah, kini hadir dalam bentuk minuman.

Kurma identik dengan Ramadan, tetapi manfaatnya tidak berhenti di momen berbuka. Di banyak negara Timur Tengah, kurma juga diolah menjadi air rendaman atau jus yang diminum untuk memulihkan energi dengan cepat. Praktis, ringan, dan tetap kaya nutrisi.

Air kurma biasanya dibuat dengan merendam beberapa butir kurma dalam air matang selama beberapa jam hingga sari alaminya larut. Sementara jus kurma diolah dengan cara diblender bersama air atau susu, menghasilkan tekstur lebih kental dan rasa lebih kuat.

Meski terlihat sederhana, minuman ini menyimpan kandungan gizi yang tidak bisa diremehkan. Kurma mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa, serta serat, kalium, magnesium, dan antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh.

Baca Juga: Bosan dengan Menu Berbuka Puasa yang Itu-Itu Saja?

Sumber Energi Alami yang Cepat Diserap

Salah satu alasan kurma populer sebagai menu berbuka adalah kemampuannya mengembalikan energi dengan cepat. Gula alami dalam kurma mudah dicerna, sehingga membantu tubuh yang seharian kekurangan asupan kalori untuk kembali stabil.

Kalium dalam kurma juga berperan menjaga keseimbangan elektrolit. Setelah beraktivitas atau berpuasa, tubuh memerlukan asupan mineral untuk membantu fungsi otot dan saraf tetap optimal. Air kurma bisa menjadi alternatif minuman manis tanpa tambahan gula rafinasi.

Selain itu, kandungan antioksidan seperti flavonoid dan asam fenolat membantu melawan radikal bebas. Bagi pekerja urban dengan ritme padat dan paparan polusi tinggi, asupan antioksidan tambahan tentu bukan hal sepele.

Serat dalam kurma, meski jumlahnya tidak sebanyak saat dimakan utuh, tetap membantu sistem pencernaan bekerja lebih baik. Jika dibuat sebagai jus tanpa disaring, kandungan seratnya tetap terjaga.

Baca Juga: Gorengan Saat Berbuka Puasa, Nikmatnya Dapat, Sehatnya Jangan Lewat

Air Rendaman atau Jus, Mana Lebih Baik?

Air rendaman kurma cenderung lebih ringan dan cocok bagi yang ingin minuman cepat serap tanpa rasa terlalu pekat. Proses perendaman membuat sari kurma larut perlahan, menghasilkan rasa manis yang lebih halus.

Sementara jus kurma memiliki tekstur lebih padat dan mengenyangkan. Jika dicampur susu atau yogurt, kandungan proteinnya meningkat dan bisa menjadi pilihan sahur atau camilan sehat di sela aktivitas.

Meski bermanfaat, konsumsi tetap perlu bijak. Kurma tetap mengandung gula alami yang cukup tinggi. Bagi penderita diabetes atau yang sedang mengontrol asupan kalori, jumlahnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan harian.

Air atau jus kurma bukan sekadar tren musiman. Ia adalah cara sederhana memanfaatkan bahan alami untuk mendukung energi dan daya tahan tubuh. Di tengah gaya hidup cepat dan serba instan, segelas minuman berbasis kurma bisa menjadi pilihan yang lebih bersahabat bagi tubuh. [][Rommy Rimbarawa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]