Kita sering melihatnya lewat layar. Semangkuk salad dengan warna yang rapi, roti gandum yang dipanggang sempurna, atau menu sarapan dengan potongan buah yang terasa 'bersih' dan teratur. Semua terlihat sederhana, tapi juga terasa seperti standar yang sulit dicapai.

Lalu kita melihat meja makan sendiri. Nasi putih hangat, telur dadar, mie instan, atau gorengan di sore hari. Tidak seindah yang di internet, tapi justru itu yang paling dekat dengan keseharian.

Di media sosial, makanan seperti avocado toast, smoothie bowl, overnight oats, hingga grilled chicken salad sering muncul sebagai gambaran 'makan sehat'. Nama-nama ini terasa familiar, bahkan jadi referensi banyak orang ketika ingin mulai hidup lebih baik.

Namun, ketika masuk ke dapur sendiri, realitanya berbeda. Banyak orang lebih sering makan nasi dengan ayam goreng, tempe, sambal, atau sekadar mie instan karena praktis. Bukan karena tak ingin sehat, tapi karena itu yang paling memungkinkan.

Baca Juga: Kita Suka Makan Ini, Tak Suka Makan Itu, dari Mana Preferensi Selera Terbentuk?

Antara Tren dan Keseharian

Tren makanan sehat di internet sering datang dengan visual yang menarik. Smoothie hijau dengan chia seed, yogurt dengan granola, atau salad dengan dressing ringan terlihat seperti pilihan ideal. Semua tampak mudah, seolah tinggal mengikuti.

Namun di kehidupan nyata, ada banyak hal yang tidak terlihat di layar. Harga bahan, waktu menyiapkan, hingga kebiasaan makan sejak kecil ikut memengaruhi. Tidak semua orang terbiasa makan quinoa atau kale, dan tidak semua punya akses yang sama.

Di Indonesia, makanan seperti nasi goreng, bakso, soto, hingga ayam geprek justru lebih dekat dengan keseharian. Rasanya kuat, porsinya mengenyangkan, dan harganya lebih terjangkau. Di titik ini, pilihan makan bukan hanya soal sehat atau tidak, tapi juga soal konteks hidup.

Ketika tren tidak bertemu dengan realita, yang muncul sering kali bukan perubahan, tapi rasa bersalah. Seolah apa yang kita makan selalu kurang dari standar yang kita lihat.

Baca Juga: ‘Katanya Sehat’, Tapi Benarkah Kita Tahu Isinya?

Sehat Versi Siapa?

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih dalam. Ketika kita melihat makanan di internet, apakah itu benar-benar untuk kita? Atau hanya gambaran yang terlihat baik di layar?

Makan sehat sebenarnya tidak selalu harus terlihat seperti smoothie bowl atau salad mahal. Nasi dengan sayur, tempe, tahu, dan lauk sederhana juga bisa menjadi pilihan yang seimbang. Namun karena tidak terlihat 'menarik', ia jarang muncul sebagai standar.

Di sinilah persepsi mulai terbentuk. Kita mulai menganggap sehat sebagai sesuatu yang visual, bukan fungsional. Padahal, tubuh tidak menilai dari tampilan, tapi dari apa yang masuk dan bagaimana itu bekerja.

Mungkin yang perlu diubah bukan apa yang kita makan, tapi cara kita melihatnya. Bahwa meja makan kita tidak harus sama dengan yang ada di internet. Karena yang terlihat sehat, belum tentu paling sesuai.

Dan mungkin, di situlah kita mulai lebih jujur pada diri sendiri. Bahwa makan bukan tentang mengikuti tren, tapi tentang memahami kebutuhan. [][Rommy Rimbarawa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]