Kita sering ikut sesuatu karena sedang ramai. Beli, coba, lalu pindah ke hal berikutnya. Semuanya terasa cepat, ringan, dan seolah tidak meninggalkan beban.

Di layar, tren terlihat menyenangkan dan nyaris tanpa konsekuensi. Minuman viral, outfit baru, atau barang lucu yang muncul di feed terasa seperti bagian wajar dari keseharian. Nggak ada yang salah, karena hampir semua orang melakukan hal yang sama.

Kita ikut, menikmati, lalu melupakan. Seolah tren hanya soal pengalaman sesaat yang tidak perlu dipikirkan lebih jauh. Padahal, ada lapisan lain yang tidak ikut tampil bersama konten yang kita lihat.

Yang jarang kita sadari adalah apa yang tertinggal setelah tren itu lewat. Barang yang jarang dipakai, kemasan yang menumpuk, dan sisa konsumsi yang tidak pernah benar-benar hilang. Di situlah cerita yang lebih panjang sebenarnya dimulai.

Baca Juga: Konsumsi Instan dan Dampak Lingkungan yang Jarang Disadari

Kita Mengikuti Tren, Tapi Tidak Mengikuti Jejaknya

Fenomena ini terlihat jelas dalam kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Minuman take away yang dibeli hampir setiap sore, lengkap dengan gelas plastik, tutup, dan sedotan sekali pakai. Sekilas terasa sepele, tapi dalam hitungan minggu, jumlahnya bisa menggunung.

Hal yang sama terjadi pada tren fashion yang terus berputar. Baju dibeli karena sedang populer, dipakai beberapa kali untuk konten atau acara tertentu, lalu disimpan atau dilupakan. Siklus ini terus berulang, dan tanpa disadari, limbah tekstil ikut bertambah dari waktu ke waktu.

Belanja online juga membawa cerita yang mirip. Satu barang kecil bisa datang dengan beberapa lapisan kemasan, dari plastik pembungkus, bubble wrap, hingga kardus luar. Kita membuka, mengambil isi, lalu membuang sisanya tanpa benar-benar memikirkan ke mana semua itu pergi.

Di titik ini, konsumsi terasa normal dan bahkan terasa perlu. Kita tidak merasa melakukan sesuatu yang berlebihan, karena semuanya terjadi dalam skala kecil. Tapi jejak yang ditinggalkan tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah tempat dari rumah kita ke lingkungan yang lebih luas.

Baca Juga: Petasol dan Bobibos: Harapan Baru di Tengah Ketergantungan BBM Fosil

Yang Cepat Datang, Tidak Selalu Cepat Hilang

Masalahnya bukan pada tren itu sendiri, karena tren adalah bagian dari dinamika kehidupan manusia. Yang sering terlewat justru kecepatan kita mengonsumsi, tanpa memberi ruang untuk memahami dampaknya. Kita bergerak cepat, sementara dampaknya tertinggal jauh lebih lama.

Sampah dari tren tidak hilang hanya karena kita berhenti menggunakannya. Plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai, kain sintetis menumpuk di tempat pembuangan, dan sisa produksi terus bertambah setiap hari. Semua itu berjalan diam-diam, jauh dari perhatian kita.

Dalam banyak kasus, kita merasa kontribusi kita terlalu kecil untuk dianggap berarti. Hanya satu gelas, satu baju, satu paket yang datang ke rumah. Namun ketika jutaan orang melakukan hal yang sama, akumulasi itu menjadi sesuatu yang nyata dan sulit diabaikan.

Yang membuatnya semakin kompleks adalah dampak itu tidak langsung kembali ke kita. Tidak terasa hari ini, tidak terlihat di sekitar kita, sehingga mudah dianggap bukan masalah pribadi. Padahal, lingkungan menyimpan semua itu dalam jangka panjang, dan efeknya perlahan kembali ke kehidupan manusia.

Mungkin yang perlu diubah bukan tren yang kita ikuti, karena itu bagian dari cara kita hidup hari ini. Tapi cara kita menyadari apa yang tertinggal setelahnya, sesuatu yang jarang kita lihat tapi selalu ada. Kesadaran kecil ini bisa mengubah cara kita memilih.

Kita tidak harus berhenti mengikuti tren untuk menjadi lebih peduli. Tapi kita bisa mulai bertanya, apakah semua yang kita ikuti benar-benar perlu, atau hanya sekadar lewat. Dari situ, keputusan yang kita ambil bisa menjadi sedikit lebih sadar dan lebih bertanggung jawab. [][Rommy Rimbarawa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]