Ada satu kata dalam bahasa Indonesia yang secara jumlah huruf sangat pendek, tetapi konsekuensinya bisa panjang sekali.
“Terserah.”
Hanya tujuh huruf.
Namun jangan pernah meremehkannya.
“Terserah” bisa berarti benar-benar bebas memilih.
Bisa berarti tidak tahu mau apa.
Bisa berarti malas berdebat.
Bisa berarti sedang kesal.
Bisa berarti, “Saya sebenarnya sudah punya pilihan, tetapi saya ingin kamu menebaknya sendiri.”
Dan yang paling berbahaya: bisa berarti apa pun pilihanmu, kemungkinan besar salah.
Contohnya sederhana.
“Mau makan apa?”
“Terserah.”
“Makan bakso?”
“Nggak mau.”
“Nasgor?”
“Bosan.”
“Ayam?”
“Lagi nggak pengin.”
“Terus maunya apa?”
“Terserah.”
Pada titik ini kita sadar bahwa masalahnya bukan mencari makanan.
Masalahnya adalah menyelesaikan teka-teki.
Orang yang bertanya sudah menjadi seperti peserta kuis yang harus menemukan jawaban dengan petunjuk yang tidak pernah diberikan.
Terserah dalam Hubungan
Dalam hubungan, kata “terserah” memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Misalnya:
“Kita mau pergi ke mana?”
“Terserah kamu.”
“Oke, kita ke tempat A.”
“Nggak mau ke sana.”
“Katanya terserah.”
“Iya, terserah. Tapi jangan ke sana.”
Lalu kita mulai memahami bahwa “terserah” ternyata memiliki syarat dan ketentuan.
Syarat dan ketentuan berlaku.
Tidak berlaku untuk pilihan A.
Tidak berlaku untuk pilihan B.
Tidak berlaku kalau cuaca panas.
Tidak berlaku kalau tempatnya terlalu ramai.
Tidak berlaku kalau parkirnya susah.
Tidak berlaku kalau mantan pernah datang ke sana.
Dan entah bagaimana, kita diharapkan mengetahui semuanya.
Itulah keajaiban komunikasi manusia.
Kita berharap orang lain memahami sesuatu yang bahkan kita sendiri belum mengatakannya.
Kenapa Kita Suka Bilang Terserah?
Mungkin karena sebenarnya kita ingin didengarkan.
Atau mungkin kita ingin orang lain mengambil keputusan.
Ada juga kemungkinan kita sedang lelah.
Bayangkan setelah seharian bekerja, seseorang bertanya, “Mau makan apa?”
Otak kita sudah kehabisan baterai.
Pekerjaan sudah menguras energi.
Macet menghabiskan kesabaran.
Pesan WhatsApp belum dibalas.
Tagihan menunggu.
Kemudian masih ditanya mau makan apa.
“Terserah.”
Bukan karena kita sedang membuat permainan psikologis.
Kita memang sudah tidak punya energi untuk memilih.
Masalahnya, orang yang menerima jawaban “terserah” sering menganggap dirinya diberikan kebebasan penuh.
Padahal belum tentu.
Kadang “terserah” sebenarnya berarti:
“Pilihkan sesuatu yang kira-kira saya suka.”
Nah.
Ini sudah bukan bahasa.
Ini telepati.
Di Kantor Pun Ada
“Terserah” ternyata bukan hanya milik pasangan.
Di kantor, kata ini juga hidup dengan tenang.
“Untuk desainnya mau seperti apa?”
“Terserah.”
“Baik, saya buat.”
Beberapa jam kemudian:
“Kayaknya bukan seperti ini.”
Lalu revisi.
“Kalau menurut saya lebih bagus yang sebelumnya.”
Revisi lagi.
“Coba dibuat lebih sederhana.”
Dibuat sederhana.
“Kurang menarik.”
Pada akhirnya kita sadar bahwa “terserah” di lingkungan kerja bukan berarti bebas berkreasi.
Artinya: silakan menentukan sendiri, tetapi jangan sampai keputusanmu bertentangan dengan keputusan yang ada di kepala saya.
Yang lebih menarik lagi adalah ketika seseorang berkata:
“Pokoknya bebas, silakan berkreasi.”
Lalu setelah hasilnya jadi:
“Kenapa tidak dibuat seperti contoh yang saya kirim?”
Contohnya baru dikirim setelah pekerjaan selesai.
Terima kasih.
Belajar Mengatakan Apa yang Kita Mau
Mungkin masalah sebenarnya bukan pada kata “terserah”.
Kita semua sesekali menggunakannya.
Masalahnya muncul ketika “terserah” digunakan untuk menggantikan komunikasi.
Padahal mengatakan keinginan sebenarnya tidak sesulit itu.
“Mau makan ayam, tapi jangan pedas.”
“Saya ikut kamu, tetapi jangan tempat yang terlalu ramai.”
“Saya belum tahu mau pilih yang mana. Bisa bantu pilih?”
Kalimat-kalimat tersebut terdengar sederhana.
Tidak ada teka-teki.
Tidak ada jebakan.
Tidak ada kebutuhan untuk membaca ekspresi wajah selama tiga menit.
Komunikasi memang seharusnya membantu manusia saling memahami, bukan membuat seseorang merasa sedang mengikuti ujian masuk sekolah tanpa kisi-kisi.
Dan mungkin kita perlu belajar bahwa mengatakan apa yang kita inginkan bukan berarti egois.
Begitu juga menerima bahwa orang lain tidak selalu bisa menebak keinginan kita.
Sebab pasangan bukan cenayang.
Teman bukan mesin pembaca pikiran.
Atasan bukan penerjemah kode rahasia.
Dan keluarga, meskipun sudah mengenal kita bertahun-tahun, tetap tidak otomatis tahu bahwa ketika kita mengatakan “nggak apa-apa”, sebenarnya ada 17 hal yang sedang dipikirkan.
Jadi lain kali ketika seseorang bertanya, “Mau makan apa?”
Daripada menjawab “terserah”, mungkin lebih baik mengatakan:
“Bakso.”
Selesai.
Tidak ada debat.
Tidak ada investigasi.
Tidak ada perang dingin.
Dan yang paling penting, malam itu semua orang bisa makan dengan tenang.
Karena ternyata dalam banyak persoalan hidup, jawaban yang paling sederhana memang sering kali adalah jawaban yang paling menyelamatkan.
Kecuali kalau ditanya pasangan:
“Menurut kamu aku gemukan nggak?”
Untuk pertanyaan yang satu itu, sebaiknya kita jangan buru-buru menjawab.
Itu bukan lagi soal komunikasi.
Itu soal strategi bertahan hidup.
[][Adib Kurniawan/KK]Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.