Melalui dapur, meja makan keluarga, dan kanal YouTube, Hari Jisun memperlihatkan bagaimana kuliner Indonesia dapat mempertemukan orang-orang dari dua kebudayaan berbeda.
Ada sesuatu yang menyenangkan ketika menyaksikan sebuah keluarga Korea Selatan menikmati makanan Indonesia. Mereka mencicipi masakan yang sebelumnya asing, mencoba memahami rasa dan bahan-bahannya, kemudian membandingkannya dengan hidangan yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari. Percakapan di meja makan menjadi menarik bukan semata-mata karena makanannya disukai, melainkan karena rasa ingin tahu membuat orang-orang dari kebudayaan berbeda menemukan sesuatu yang dapat mereka bicarakan bersama.
Pemandangan seperti itulah yang kerap hadir dalam konten YouTube Hari Jisun, kreator asal Korea Selatan yang dikenal melalui perjalanan kuliner dan kedekatannya dengan Indonesia. Ia tidak hanya mengunjungi tempat makan dan mencicipi hidangan Nusantara, tetapi juga memasak serta memperkenalkannya kepada keluarga dan teman-temannya. Melalui kegiatan yang tampak sederhana tersebut, makanan Indonesia memperoleh kehidupan baru di tengah percakapan sehari-hari masyarakat Korea.
Hubungan antara makanan dan kebudayaan sebenarnya jauh lebih dalam daripada persoalan selera. Sebuah hidangan dapat memperkenalkan bahan pangan, kebiasaan makan, pengetahuan memasak, bahkan cara suatu masyarakat memandang kebersamaan. Ketika seseorang bersedia mengenal makanan dari negeri lain, ia sedang membuka pintu untuk memahami sebagian kehidupan orang-orang yang berasal dari negeri tersebut.
Baca Juga: Mengapa Restorasi Bangunan Bersejarah Tidak Boleh Sekadar Membuatnya Terlihat Baru?
Ketika Makanan Indonesia Menjadi Cerita di Meja Makan Korea
Pada April 2021, Jisun membuat suasana angkringan Indonesia untuk teman-temannya di Korea Selatan. Ia memperkenalkan sejumlah makanan yang biasa ditemukan di angkringan, termasuk nasi kucing, singkong goreng, sate telur puyuh, dan minuman tradisional. Bagi teman-temannya, pengalaman itu bukan hanya kesempatan menikmati makanan yang belum dikenal, tetapi juga mempelajari kebiasaan makan masyarakat Indonesia.
Salah satu percakapan menarik muncul ketika teman-teman Jisun mendengar istilah nasi kucing. Nama tersebut sempat menimbulkan kebingungan karena mereka mengira makanan itu berkaitan dengan daging kucing, sebelum Jisun menjelaskan bahwa sebutannya merujuk pada ukuran porsinya yang kecil. Kesalahpahaman sederhana itu memperlihatkan bagaimana nama makanan dapat menyimpan konteks budaya yang tidak selalu dipahami melalui terjemahan langsung.
Perjumpaan serupa berlangsung ketika Jisun memasak seblak untuk ibunya dan teman-teman sang ibu di Korea Selatan pada Juli 2026. Ia menggunakan bahan seperti kerupuk, sayuran, telur, dan bakso ikan, lalu memperkenalkan seblak melalui perbandingan dengan tteokbokki, makanan Korea yang juga dikenal dengan cita rasa pedas. Perbandingan tersebut membantu orang-orang yang belum pernah mengenal seblak membayangkan karakter hidangan yang akan mereka coba.
Sebagian orang yang mencicipinya menemukan kemiripan dengan makanan Korea, sementara yang lain menikmati rasa dan tekstur yang berbeda dari kebiasaan mereka. Makanan yang berasal dari Jawa Barat itu pun menjadi bahan percakapan di tengah kegiatan bersama teman-teman ibunya. Dalam peristiwa semacam ini, kegiatan memperkenalkan budaya tidak memerlukan penjelasan panjang mengenai sejarah sebuah negara karena percakapan dapat dimulai dari sesuatu yang sedang disantap.
Hari Jisun sendiri pernah membicarakan kedekatan selera makanan Indonesia dan Korea Selatan dalam wawancara yang diterbitkan Korea.net pada 1 Juni 2023. Ia menilai kebiasaan mengonsumsi nasi dan menyukai makanan pedas dapat menjadi titik temu kedua masyarakat, meskipun kuliner Indonesia memiliki karakter rempah yang berbeda. Jisun juga membandingkan penyajian hanjeongsik dari wilayah Jeolla di Korea dengan hidangan Padang karena keduanya menghadirkan beragam lauk dalam satu kesempatan makan.
Pengamatan tersebut tidak berarti seluruh orang Korea menyukai makanan Indonesia atau kedua tradisi kuliner memiliki cita rasa yang sama. Selera tetap bersifat personal, sementara setiap kebudayaan mempunyai sejarah bahan pangan dan teknik pengolahan yang berbeda. Justru perbedaan itulah yang memberi kesempatan bagi seseorang untuk bertanya, membandingkan, dan mempelajari sesuatu yang sebelumnya tidak dikenalnya.
Baca Juga: Ketika Bahasa Daerah Kehilangan Penutur, Apa yang Ikut Hilang Bersamanya?
Diplomasi Budaya yang Tidak Selalu Membutuhkan Panggung Besar
Dalam kajian hubungan internasional, kegiatan memperkenalkan budaya suatu negara melalui makanan dikenal dengan istilah gastrodiplomacy atau gastrodiplomasi. Peneliti diplomasi publik Johanna Mendelson Forman menjelaskan bahwa makanan dapat menjadi sarana untuk membentuk persepsi masyarakat asing terhadap suatu negara. Praktik ini sering berkaitan dengan upaya memperkenalkan identitas nasional, membangun ketertarikan, serta memperkuat hubungan antara masyarakat dari negara berbeda.
Gastrodiplomasi selama ini kerap dikaitkan dengan kebijakan pemerintah, promosi pariwisata, dan pengembangan restoran nasional di luar negeri. Thailand, misalnya, dikenal melalui strategi memperluas kehadiran restoran Thailand di berbagai negara. Akan tetapi, perkembangan media digital memperlihatkan bahwa perjumpaan budaya melalui makanan juga dapat berlangsung di luar program diplomasi resmi.
Kreator seperti Hari Jisun memiliki kesempatan memperkenalkan pengalaman kuliner kepada penonton yang mungkin belum pernah mengunjungi Indonesia. Melalui video, penonton dapat melihat proses memasak, mendengar penjelasan tentang bahan, serta menyaksikan bagaimana makanan itu diterima oleh orang yang berasal dari kebudayaan berbeda. Bentuk komunikasi tersebut terasa dekat karena berlangsung melalui kegiatan sehari-hari, bukan melalui presentasi formal mengenai keunggulan suatu bangsa.
Meski demikian, menyebut setiap konten kuliner sebagai keberhasilan diplomasi tentu terlalu sederhana. Kesukaan seseorang terhadap seblak tidak otomatis membuatnya memahami masyarakat Sunda, sebagaimana menikmati rendang tidak berarti seseorang telah mengenal seluruh kebudayaan Minangkabau. Makanan dapat menjadi pintu masuk, tetapi pemahaman yang lebih dalam tetap membutuhkan keinginan untuk belajar mengenai manusia, sejarah, dan lingkungan sosial yang membentuknya.
Dalam wawancara Korea.net pada 2023, Jisun menyampaikan harapannya agar semakin banyak orang Korea memiliki kesempatan mengenal makanan dan budaya Indonesia. Ia juga menginginkan lebih banyak ruang bagi kedua masyarakat untuk saling berbagi kebudayaan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan memperkenalkan makanan dapat memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menghadirkan tontonan yang menghibur.
Ada hal lain yang patut direnungkan dari popularitas konten kuliner semacam ini di kalangan penonton Indonesia. Kita sering merasa bangga ketika orang asing menyukai makanan dari negeri sendiri, seolah pengakuan tersebut menambah nilai pada sesuatu yang sudah lama menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Kebanggaan itu manusiawi, tetapi kekayaan kuliner Indonesia tentu tidak bergantung kepada persetujuan orang dari negara lain.
Yang lebih berharga adalah ketika seseorang dari kebudayaan berbeda bersedia mendekati makanan Indonesia dengan rasa hormat dan keingintahuan. Ia tidak harus menyukai setiap hidangan, tidak perlu menyatakan bahwa semua makanan Indonesia lebih unggul, dan boleh memiliki selera yang berbeda. Perjumpaan budaya menjadi lebih jujur ketika kekaguman tidak diwajibkan dan perbedaan tetap diberi tempat.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia juga dapat belajar dari cara makanan Korea Selatan memperkenalkan kebudayaannya kepada dunia. Hidangan yang dikenal melalui film, drama, restoran, dan konten digital sering mendorong orang mencari tahu lebih jauh mengenai bahasa, kebiasaan, hingga kehidupan masyarakat Korea. Pertukaran semacam ini akan lebih bermakna apabila berlangsung dua arah, ketika masing-masing masyarakat memperoleh kesempatan mengenal dan menghargai kebudayaan yang lain.
Barangkali itulah hal yang paling menarik dari perjalanan kuliner Hari Jisun. Sebuah angkringan yang dihadirkan di Korea atau sepanci seblak yang dibagikan kepada teman-teman keluarga mungkin tampak kecil dibandingkan berbagai program promosi budaya berskala internasional. Akan tetapi, di meja makan itu orang-orang memperoleh kesempatan untuk bertanya, tertawa, mengenali perbedaan, dan menemukan kedekatan yang sebelumnya tidak mereka duga.
Diplomasi memang sering dibayangkan berlangsung melalui pertemuan pejabat, perjanjian antarnegara, atau pidato di hadapan banyak orang. Padahal, hubungan antarmasyarakat juga tumbuh dari pengalaman yang jauh lebih sederhana, termasuk kesediaan mencicipi makanan yang belum dikenal dan mendengarkan cerita di baliknya. Melalui Hari Jisun, sepiring makanan Indonesia memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat melakukan perjalanan tanpa kehilangan asal-usulnya, lalu menemukan tempat baru dalam ingatan orang-orang yang menyambutnya. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.