Kel­­ahiran anak membawa kebahagiaan sekaligus perubahan besar bagi laki-laki. Menjadi ayah ternyata bukan sekadar menambah tanggung jawab mencari nafkah.

Seorang laki-laki berdiri di samping tempat tidur sambil menggendong bayi yang baru beberapa hari lahir. Sudah hampir pukul tiga pagi, tetapi tangisan anaknya belum juga berhenti. Ia telah mencoba mengganti popok dan menenangkan bayi itu, sementara istrinya masih kelelahan setelah menjalani persalinan.

Sebelum anaknya lahir, ia merasa cukup siap menjadi ayah. Pekerjaannya relatif stabil, perlengkapan bayi telah tersedia, dan berbagai nasihat pengasuhan sudah dibacanya. Tetapi ketika harus menghadapi malam tanpa tidur, tangisan yang sulit dipahami, dan perubahan kebutuhan istrinya, ia menyadari bahwa banyak hal tidak dapat dipersiapkan hanya melalui perencanaan.

Cerita ilustratif tersebut menggambarkan pengalaman yang mungkin dialami sebagian ayah baru. Kelahiran anak bukan hanya mengubah susunan keluarga, tetapi juga kebiasaan, hubungan, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Lantas, apa sebenarnya yang berubah ketika seorang laki-laki mulai menjalani kehidupan sebagai ayah?

Baca Juga: Semakin Dewasa, Mengapa Laki-Laki Semakin Sulit Menambah Teman Dekat?

Dari Kehidupan Pribadi Menuju Tanggung Jawab Pengasuhan

Menjadi ayah merupakan proses penyesuaian yang melibatkan berbagai aspek kehidupan. Penelitian Catherine White dan Kathryn Jarvis, yang diterbitkan dalam British Journal of Occupational Therapy pada 2024, mengidentifikasi perubahan identitas, hubungan, tanggung jawab, serta kebutuhan dukungan sebagai bagian dari pengalaman laki-laki selama tahun pertama setelah kelahiran anak.

Sebelum memiliki anak, seseorang mungkin lebih bebas menentukan waktu bekerja, beristirahat, atau bertemu teman. Setelah bayi lahir, berbagai keputusan tersebut perlu mempertimbangkan kebutuhan anggota keluarga yang belum mampu mengurus dirinya sendiri. Perubahan itu dapat menimbulkan kebahagiaan sekaligus kelelahan dan kebingungan.

Tantangan lain berkaitan dengan pembagian peran. Sebagian laki-laki tumbuh dengan pandangan bahwa tanggung jawab utama ayah adalah menyediakan kebutuhan finansial, sedangkan pengasuhan merupakan urusan ibu. Padahal, kebutuhan bayi meliputi perhatian dan perawatan sehari-hari yang dapat dilakukan bersama.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa ayah dapat berperan sejak awal kehidupan bayi melalui kontak kulit, mengganti popok, mendampingi pemberian ASI, serta membantu menenangkan anak. Keterlibatan tersebut memberi kesempatan bagi ayah untuk membangun kedekatan sekaligus mempelajari kebutuhan bayinya.

Perubahan juga terjadi dalam hubungan pasangan. Waktu berdua menjadi lebih terbatas, kebutuhan tidur meningkat, sementara pekerjaan rumah tangga tetap harus diselesaikan. Jika pembagian tanggung jawab tidak dibicarakan, kelelahan dapat berkembang menjadi kesalahpahaman atau perasaan kurang didukung.

Kondisi ibu setelah melahirkan perlu memperoleh perhatian khusus karena ia sedang menjalani pemulihan fisik dan mungkin mengalami perubahan psikologis. Dukungan ayah bukan sekadar membantu ketika diminta, melainkan ikut mengambil tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan rumah sesuai keadaan keluarga.

Baca Juga: Mengapa Ada Laki-Laki yang Terlihat Kuat di Tempat Kerja, tetapi Kehilangan Kata-Kata Saat Pulang ke Rumah?

Ketika Ayah Juga Membutuhkan Waktu untuk Menyesuaikan Diri

Kehadiran anak dapat mengubah cara laki-laki memandang keberhasilan dan tanggung jawab. Keputusan yang sebelumnya berpusat pada kebutuhan pribadi mulai mempertimbangkan kesejahteraan keluarga. Proses tersebut tidak selalu berlangsung cepat karena keterampilan mengasuh dan rasa percaya diri sering berkembang melalui pengalaman.

Tinjauan sistematis yang diterbitkan pada 2018 mengenai kesehatan mental ayah baru menemukan bahwa perubahan identitas, tuntutan peran, dan kekhawatiran menjadi bagian penting dari pengalaman mereka. Sebagian ayah juga merasa kekurangan dukungan atau kesulitan membicarakan tekanan yang dialami.

Persoalan kesehatan mental ayah patut diperhatikan tanpa mengabaikan kebutuhan ibu. Penelitian longitudinal terhadap 6.299 laki-laki di Prancis yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders pada 2024 menunjukkan bahwa masa transisi menjadi ayah dapat menjadi periode meningkatnya kerentanan terhadap gejala kecemasan dan depresi. Temuan pada populasi tersebut tidak dapat langsung dianggap menggambarkan seluruh ayah di Indonesia.

Kelelahan sesekali bukan berarti seseorang mengalami gangguan mental. Akan tetapi, kesedihan berkepanjangan, kecemasan yang sulit dikendalikan, atau perubahan perilaku yang mengganggu kehidupan sehari-hari layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Meminta bantuan merupakan bagian dari tanggung jawab menjaga diri dan keluarga.

Penyesuaian dapat dimulai melalui hal sederhana, seperti membicarakan pembagian tugas, bergantian menangani kebutuhan bayi ketika memungkinkan, dan mencari dukungan keluarga tanpa mengabaikan kenyamanan ibu. Ayah juga perlu mempelajari dasar perawatan bayi agar kehadirannya tidak terbatas pada urusan pekerjaan dan penghasilan.

Menjadi ayah tidak berarti seseorang harus langsung mengetahui jawaban atas setiap persoalan pengasuhan. Kesalahan kecil, kebingungan, dan proses belajar merupakan bagian dari pengalaman yang membutuhkan kesediaan mendengarkan serta memperbaiki diri. Kesiapan pun dapat berkembang seiring keterlibatan yang nyata dalam kehidupan anak.

Kelahiran anak mungkin membuat seorang laki-laki memperoleh sebutan ayah dalam sekejap. Tetapi memahami arti sebutan tersebut membutuhkan waktu, kehadiran, dan kesediaan berbagi tanggung jawab dengan orang-orang yang menjadi keluarganya. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.