Sebuah lagu membuat kita terdiam, mengingat seseorang, bahkan menangis. Jika ternyata penciptanya AI, apakah perasaan yang muncul kemudian menjadi berbeda?

Pertanyaan itu beberapa tahun lalu mungkin terdengar seperti eksperimen filsafat. Sekarang ia bisa muncul ketika kita sedang mendengarkan musik melalui streaming. AI tidak lagi hanya membantu membersihkan rekaman atau memberikan rekomendasi lagu, tetapi sudah mampu menghasilkan komposisi, instrumen, vokal, bahkan lagu utuh.

Jumlahnya tumbuh luar biasa cepat. Deezer mencatat hampir 90.000 lagu yang sepenuhnya dihasilkan AI dikirimkan ke platform-nya setiap hari pada Juni 2026. Pada titik tertingginya, jumlah itu bahkan melampaui 50 persen dari seluruh musik baru yang masuk ke Deezer dalam sehari.

Angka tersebut tidak berarti separuh musik yang kita dengarkan sekarang dibuat AI. Deezer menyebut musik AI masih hanya menyumbang sekitar 1–3 persen pemutaran di platformnya, sementara hingga 85 persen pemutaran pada konten tersebut terdeteksi sebagai manipulasi dan kemudian didemonetisasi. Namun angka unggahannya memperlihatkan sesuatu yang sulit diabaikan: kemampuan membuat musik telah berubah jauh lebih cepat daripada kebiasaan manusia mendengarkannya.

Baca Juga: Kenapa Lagu Lama Bisa Mendadak Populer Lagi Puluhan Tahun Kemudian?

Telinga Kita Ternyata Tidak Selalu Bisa Membedakannya

Deezer bersama Ipsos pernah menguji 9.000 orang berusia 18–65 tahun dari delapan negara. Peserta diminta mendengarkan tiga lagu dalam sebuah tes buta dan menentukan mana yang sepenuhnya dibuat AI serta mana yang dibuat manusia. Sebanyak 97 persen peserta gagal membedakannya dengan benar.

Yang menarik justru muncul setelah itu. Sebanyak 52 persen responden mengaku tidak nyaman karena mereka tidak mampu mengetahui perbedaannya. Bahkan 80 persen berpendapat musik yang sepenuhnya dihasilkan AI seharusnya diberi label secara jelas, sementara 73 persen pengguna layanan streaming ingin mengetahui ketika platform merekomendasikan musik semacam itu.

Seolah ada dua cara manusia mendengarkan musik yang sedang bertabrakan. Yang pertama berada di telinga: apakah melodinya menyenangkan, vokalnya meyakinkan, ritmenya membuat tubuh bergerak, atau liriknya membuat sesuatu bergetar di dalam diri. Yang kedua berada di balik telinga itu: siapa yang membuatnya, mengapa ia membuatnya, dan pengalaman apa yang melahirkan lagu tersebut.

Penelitian terbaru bahkan menunjukkan jawabannya belum sederhana. Studi eksperimental 2025 menemukan peserta memberikan penilaian kurang positif dan merasakan emosi kurang intens ketika musik yang sama mereka yakini berasal dari AI dibandingkan ketika diyakini berasal dari manusia. Efeknya lebih kuat pada orang yang memandang kreativitas sebagai sesuatu yang khas manusia.

Namun penelitian lain menghasilkan gambaran yang lebih rumit. Dalam studi mengenai musik pop yang juga terbit pada 2025, lagu yang diberi label AI justru memperoleh penilaian lebih tinggi pada beberapa emosi positif seperti ketertarikan, kekaguman, energi, dan kebahagiaan, sementara banyak dimensi penilaian lainnya tidak menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan label penciptanya.

Artinya, belum ada alasan ilmiah untuk mengatakan manusia pasti akan selalu lebih tersentuh oleh musik buatan manusia. Tinjauan penelitian pada 2026 juga menyimpulkan bahwa bukti yang tersedia masih beragam: atribusi AI kadang menurunkan kesukaan, otentisitas, atau keterlibatan, tetapi pada penelitian lain efek tersebut tidak muncul atau bahkan berbalik. Pertanyaan tentang apakah musik AI dapat membangun keterikatan emosional jangka panjang seperti musik manusia juga masih belum terjawab.

Baca Juga: Ketika No Na Membawa Angkot ke Dunia, Apakah yang Lokal Justru Membuat Kita Lebih Global?

Mungkin Kita Tidak Pernah Hanya Mendengarkan Lagu

Bayangkan sebuah lagu patah hati yang terdengar begitu tepat. Suaranya bergetar pada bagian tertentu, liriknya seperti memahami sesuatu yang pernah kita alami, dan melodinya terus teringat beberapa hari kemudian. Secara musikal, pengalaman itu tetap nyata meskipun kemudian kita mengetahui bahwa lagu tersebut dibuat dengan AI.

Tetapi ada pertanyaan lain yang segera muncul: patah hati siapa yang sedang kita dengarkan?

Pertanyaan itu terasa penting karena hubungan manusia dengan musik tidak berhenti pada susunan bunyi. Kita mengetahui kisah musikusnya, menunggu album berikutnya, melihatnya berubah dari satu masa ke masa lain, datang ke konsernya, atau menghubungkan lagu tertentu dengan periode kehidupan kita sendiri. Sebuah lagu dapat hidup tanpa semua informasi tersebut, tetapi pengalaman mengetahui manusia di belakangnya dapat memberikan lapisan makna lain.

AI juga tidak harus ditempatkan sebagai lawan dari hubungan itu. U.S. Copyright Office dalam laporan 2025 membedakan penggunaan AI sebagai alat bantu dengan karya yang sepenuhnya dihasilkan mesin. Penggunaan AI dalam proses kreatif tidak dengan sendirinya menghilangkan perlindungan hak cipta terhadap kontribusi manusia, sedangkan materi yang sepenuhnya dihasilkan AI tanpa kontribusi ekspresif manusia yang memadai tidak memperoleh perlindungan yang sama menurut kerangka hak cipta Amerika Serikat.

Perbedaan tersebut penting karena AI dapat pula menjadi instrumen. Musikus bisa menggunakannya untuk mengeksplorasi gagasan, mencoba variasi, atau memperluas proses produksi tanpa menyerahkan seluruh keputusan kreatif. Pertanyaannya bukan semata apakah AI hadir, tetapi berapa banyak keputusan artistik manusia yang masih berada di balik musik yang kita dengarkan?

Persoalannya menjadi lebih rumit ketika menyentuh ekonomi para musikus. American Federation of Musicians of the United States and Canada [AFM] pada Juni 2026 menggugat sejumlah label besar terkait lisensi katalog rekaman kepada Suno dan Udio. AFM menuduh label gagal memberikan kompensasi dan pemberitahuan sebagaimana diwajibkan perjanjian kerja mereka; tuduhan tersebut merupakan klaim dalam proses hukum, bukan putusan akhir.

Di sisi pendengar, transparansi mungkin menjadi salah satu jembatannya. Kita tidak harus melarang sebuah lagu menyentuh perasaan hanya karena AI terlibat dalam pembuatannya. Namun keinginan mengetahui asal sebuah karya juga bukan sikap yang aneh, terutama ketika identitas pencipta, hak musikus, dan proses kreatif menjadi bagian dari nilai yang kita berikan kepada musik.

Barangkali itulah sebabnya angka 97 persen dari survei Deezer-Ipsos terasa begitu menarik. Telinga kita mungkin semakin sulit mengetahui siapa yang berada di balik sebuah lagu, tetapi sebagian besar responden tetap menginginkan informasi tersebut tersedia. Kemampuan membedakan ternyata tidak sama dengan keinginan untuk mengetahui.

Sebab ketika mendengarkan musik, kita memang mencari bunyi, tetapi seringkali bukan bunyi saja yang kita bawa pulang. Kita membawa cerita tentang siapa yang menyanyikannya, masa ketika lagu itu dibuat, manusia yang pernah mengalaminya, dan bagian kehidupan kita sendiri yang kemudian melekat padanya.

AI mungkin dapat menghasilkan lagu yang membuat kita tersentuh. Perasaan yang muncul ketika mendengarnya pun tidak menjadi palsu hanya karena sumbernya ternyata mesin. Namun di zaman ketika mesin semakin pandai membuat musik, pertanyaan tentang siapa yang menciptakan sebuah lagu mungkin justru semakin penting—bukan untuk menentukan apakah kita boleh menikmatinya, melainkan untuk memahami dengan siapa sebenarnya kita sedang membangun hubungan melalui musik. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.