Pengantar Redaksi — Edisi Pertama [Bagian 1]

Selamat datang kembali di Pojok Bedah, rubrik yang lahir dari keinginan untuk membedah perjalanan dan pemikiran para ahli secara mendalam, santai, dan mudah dicerna. Setelah tiga edisi lalu kita menyelami pemikiran Wendra Wilendra tentang AI dan lapisan nilai yang hilang, kali ini kita berganti sudut pandang—masih dalam keluarga yang sama, tetapi dengan kisah yang sangat berbeda. Redaksi menugaskan jurnalis senior kami, Eva Evilia, untuk duduk berbincang dengan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm.—apoteker, pengusaha kosmetik, pendiri Lunaray Beauty Factory. Buku terbarunya, 25|50, adalah memoar yang merangkum 25 tahun berkarya dan 50 tahun perjalanan hidup yang penuh makna.


Buku ini dimulai dari sebuah ingatan kecil: bunyi "klik-klik" sepatu besi di kaki kiri seorang anak perempuan yang harus dilatih setiap pagi selama bertahun-tahun. Dari sepatu besi itulah, Cahya—begitu ia akrab disapa—belajar bahwa ketahanan tidak selalu tentang hal besar, tetapi tentang kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.

Dalam edisi pertama ini, Eva mengajak Cahya mengenang masa kecil, keluarga yang membentuk karakternya, perjalanan dari SD hingga memilih Farmasi sebagai jalan hidup, serta bagaimana satu SKS kosmetik di bangku kuliah kelak mengubah seluruh arah hidupnya. Bagi Anda yang percaya bahwa setiap perjalanan besar dimulai dari langkah kecil—ini adalah bacaan yang tepat. Selamat menikmati, dan selamat berdiskusi di Pojok Bedah kami.


BAGIAN 1: "Sepatu Besi dan Awal Perjalanan"


KK: Buku Teh Cahya dibuka dengan kisah tentang ‘sepatu besi’ yang Anda kenakan selama dua tahun sebagai anak kecil. Bisa ceritakan tentang momen itu dan mengapa Teteh menyebutnya sebagai ‘pintu pertama yang dibuka’?

Cahya: Sebelum mengenal laboratorium atau kosmetik, saya lebih dulu akrab dengan bunyi "klik-klik" dari pengait sepatu besi di kaki kiri saya. Selama dua tahun, besi itu menjadi bagian dari tubuh saya. Setiap pagi, selama tiga puluh menit, kaki saya harus dilatih—dan kebiasaan itu berlangsung sampai kelas enam SD. Dulu saya nggak tahu kenapa, tetapi Mamah dan Aah menjalani itu dengan tenang, tanpa membuat saya merasa berbeda.

Saya menyebut sepatu besi sebagai pintu pertama karena dari situlah saya belajar bahwa hidup kadang memberi kita sesuatu yang tidak kita pilih, tetapi kita bisa memilih bagaimana menyikapinya. Kaki yang dulu harus dilatih kini bisa membawa saya ke mana-mana—ke pabrik, kampus, dan ruang-ruang yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sepatu besi mengajarkan saya bahwa ketahanan tidak selalu tentang hal besar; kadang ia dimulai dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.

KK: Ibu dan Bapak—Mamah Enih dan Aah Endang Sumantri—adalah figur penting dalam pembentukan diri Teh Cahya. Nilai apa yang paling Teteh serap dari mereka, dan bagaimana nilai itu memengaruhi perjalanan hidup Anda?

Cahya: Mamah dan Aah mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya soal sekolah, tetapi cara hidup. Aah hidup dekat dengan dunia perguruan tinggi sebagai dosen dan akademisi, sementara Mamah mengabdi sebagai guru. Di rumah, pendidikan hadir bukan sebagai nasihat panjang, tetapi melalui meja belajar, lembar ujian yang dibawa pulang, dan suara Mamah yang mengingatkan sholat. Ada satu doa Mamah yang selalu saya ingat: "Ya Allah, bimbing anak-anakku melalui siapa pun orangnya." Itu mengajarkan saya bahwa kita nggak pernah benar-benar sendirian; Allah bisa menitipkan pelajaran melalui siapa saja.


Dari Aah, saya belajar bahwa belajar adalah sesuatu yang dijalani dalam waktu panjang—ia kehilangan orangtuanya di usia muda, tetapi tetap berjalan melalui pendidikan sampai menjadi profesor. Dari Mamah, saya belajar bahwa perhatian tidak selalu harus keras; kadang ia hadir dalam ketenangan, konsultasi dokter, dan doa yang terus berjalan. Nilai-nilai itu membentuk cara saya melihat pekerjaan, keluarga, dan amanah sampai hari ini.


KK: Teh Cahya menulis bahwa meskipun Mamah mengajar di SMA 2, Anda memilih untuk tidak masuk ke sekolah yang sama dengan Ibunda Teteh. Mengapa Anda mengambil keputusan itu, dan apa yang Teh Cahya pelajari dari pilihan tersebut?

Cahya: Saya ingin punya ruang sendiri. Mamah mengajar di SMA 2, tetapi saya memilih SMA 5 Bandung. Bukan karena saya tidak dekat dengan Mamah, tetapi karena saya ingin membangun identitas saya di luar bayangan beliau. Saya juga masih ingin menjaga kedekatan saya dengan basket, dan SMA 5 memberi ruang untuk itu. Keputusan itu mengajarkan saya bahwa mencintai orangtua nggak berarti harus selalu berada di tempat yang sama dengan mereka.

Kadang, cara terbaik untuk menghormati mereka adalah dengan berani mengambil jalan sendiri—dan membuktikan bahwa nilai-nilai yang mereka tanamkan tetap terbawa, di mana pun kita melangkah. Di SMA 5, saya bertemu sahabat-sahabat yang kelak menemani saya dalam banyak fase hidup, dan saya juga bertemu Wendra—meskipun saat itu saya belum tahu bahwa ia adalah bagian dari cerita panjang saya.

KK: SMP dan SMA adalah masa ketika Teh Cahya mulai menemukan diri sendiri, terutama melalui basket. Teh Cahya menyebut diri Teteh sebagai ‘playmaker’, bukan ‘shooter’. Apa arti posisi itu bagi Teh Cahya, dan bagaimana pola itu terbawa ke kehidupan profesional?

Cahya: Di lapangan basket, saya bukan yang paling banyak mencetak angka. Saya lebih nyaman sebagai playmaker—melihat permainan, membagi bola, dan menciptakan peluang agar teman satu tim bisa mencetak poin. Pola itu ternyata nggak berhenti di lapangan. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya membangun usaha, saya menyadari bahwa saya jarang menjadi orang yang paling ingin berada di depan sorotan. Saya lebih nyaman berada di balik strategi, menghubungkan orang yang tepat, menyusun sistem, dan menciptakan peluang.


Bagi saya, keberhasilan bukan tentang siapa yang paling terlihat bersinar, tetapi tentang bagaimana seluruh tim bisa bergerak ke arah yang sama. Seperti seorang playmaker, kepuasan saya bukan berasal dari mencetak angka terbanyak, melainkan dari melihat permainan berjalan baik karena keputusan-keputusan yang saya buat membuka jalan bagi keberhasilan bersama. Saya membawa pola itu ke pabrik, ke tim, dan ke cara saya membangun relasi.


KK: Di SMA, Teh Cahya memiliki sahabat-sahabat yang bertahan hingga sekarang—Ratih, Irma, Anna, Siska, Ade Prima. Apa yang membuat persahabatan itu bertahan, dan apa yang Teteh pelajari dari mereka tentang kehidupan?

Cahya: Ratih pernah berkata bahwa saya adalah yang paling care di antara kami berenam. Mungkin itu sebabnya kami tetap dekat. Kami tumbuh di masa ketika pertemanan belum diatur oleh pesan singkat atau lokasi yang bisa dibagikan dari telepon genggam. Kalau ingin bertemu, kami harus membuat janji lebih dulu, menelepon ke rumah, atau benar-benar datang. Karena itu, setiap pertemuan terasa lebih diusahakan, dan setiap perjalanan bersama meninggalkan jejak yang lebih lama.

Dari Ratih dan teman-teman, saya belajar bahwa persahabatan sejati nggak selalu tentang siapa yang paling sering bertemu, tetapi tentang siapa yang tetap hadir ketika dibutuhkan. Mereka adalah saksi dari banyak fase hidup saya—dari masa SMA, UMPTN, pernikahan, hingga kehilangan dan kebangkitan. Saya bersyukur Allah mempertemukan saya dengan mereka.


KK: Teh Cahya pernah bercerita tentang momen ketika ranking turun dan Teteh menangis. Bukan karena tuntutan orangtua, tetapi karena standar pribadi. Mengapa Teteh memiliki standar yang begitu tinggi untuk diri sendiri?

Cahya: Di rumah, saya nggak dibesarkan dengan tuntutan ranking yang keras. Orangtua saya nggak pernah memaksa saya harus menjadi yang teratas. Namun di dalam diri saya, ada dorongan untuk memberi hasil yang baik. Saya bukan tipe yang ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa saya sedang mengejar sesuatu, tetapi saya punya target yang saya tetapkan sendiri.

Waktu ranking turun, saya sedih karena kecewa kepada diri sendiri, bukan karena orangtua marah. Setelah menangis, saya bangkit lagi dan mengejar di semester berikutnya. Dari situ saya belajar bahwa kegagalan kecil bukan akhir dari segalanya—ia adalah pengingat bahwa kita bisa mencoba lagi. Standar tinggi yang saya miliki bukan untuk membuktikan sesuatu kepada dunia, tetapi untuk menjaga komitmen saya terhadap proses belajar.


KK: Teteh memilih Farmasi sebagai pilihan kedua, sementara pilihan pertama adalah Kedokteran. Bagaimana Teteh menerima kenyataan bahwa pintu pertama tidak terbuka, dan apa yang membuat Teh Cahya akhirnya mencintai Farmasi?

Cahya: Tahun 1994, pengumuman UMPTN masih dicari lewat koran. Ketika nomor Farmasi ditemukan, ada rasa lega, tetapi juga sisa kecewa karena Kedokteran nggak terbuka. Mamah sempat membuka kemungkinan untuk mencoba perguruan tinggi swasta, tetapi saya memilih tetap berjalan di Farmasi. Bukan karena sejak awal semuanya terasa selesai, tetapi karena ada satu jalan yang sudah terbuka.


Awalnya Farmasi memang terasa seperti jalan cadangan. Namun dari hari ke hari, melalui praktikum, laboratorium, teman-teman seperti Lola dan Mita, serta dosen-dosen yang membimbing, Farmasi perlahan berhenti terasa sebagai pilihan pengganti. Ia menjadi bagian dari hidup yang saya jalani dengan sungguh-sungguh. Saya belajar bahwa nggak semua pintu utama terbuka sesuai rencana—kadang jalan kedua justru menjadi tempat hidup memperlihatkan maksudnya. Farmasi membawa saya ke dunia kosmetik, dan dunia kosmetik membawa saya ke tempat yang nggak pernah saya bayangkan.


KK: Di masa kuliah, Teteh Cahya menjalani berbagai usaha kecil—berjualan kerudung, cafe-cafean, parcel Lebaran, hingga desain kartu nama. Apa yang mendorong Teteh untuk berwirausaha sejak muda, dan apa pelajaran berharga dari pengalaman itu?

Cahya: Saya sejak kecil memang punya kebiasaan mencari cara. Dulu ada Perpustakaan Cahya Khairani dengan stempel dan catatan peminjaman. Di masa kuliah, bentuknya berubah: kerudung, cafe-cafean di Gasibu, parcel Lebaran, hingga desain kartu nama. Hasilnya mungkin nggak selalu besar, tetapi prosesnya membuat saya belajar bertahan dan mencoba lagi. Tujuannya sederhana: saya ingin punya uang lebih untuk nonton film, membeli buku, atau menyewa buku di taman bacaan.


Nggak ada bahasa perusahaan besar di sana, hanya keinginan kecil yang diusahakan dengan cara yang saya mampu. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa usaha nggak harus dimulai dari hal besar. Ia bisa dimulai dari kebutuhan kecil, dan dari sana kita belajar membaca peluang, mengatur keuangan, dan membangun relasi. Itu adalah sekolah kewirausahaan pertama saya—jauh sebelum saya mengenal pabrik atau brand.


KK: Lola, sahabat kuliah Teteh, menggambarkan Farmasi dengan kalimat: "Farmasi mah semuanya sulit." Apa yang membuat masa kuliah Farmasi begitu berat, dan bagaimana Teh Cahya bertahan?

Cahya: Farmasi memang nggak ringan. Ada Biologi, Kimia, Matematika, dan praktikum yang menuntut ketelitian. Jatinangor panas, ruang praktikum belum ber-AC, dan kipas angin benar-benar menjadi teman bertahan. Praktikum kualitatif dan kuantitatif mengharuskan kami berdiri lama, mencatat, mengamati reaksi, dan mengulang pekerjaan.


Tapi di tengah kesulitan itu, saya nggak sendirian. Lola, Mita, dan Irma jadi teman yang membuat hari-hari berat terasa lebih ringan. Kami pulang-pergi bersama, praktikum bersama, nongkrong bersama, dan saling masuk ke kehidupan masing-masing. Lola pernah berkata bahwa persahabatan kami bertahan bukan karena nggak ada perbedaan, tetapi karena kami nggak saling menjatuhkan. Dari masa itu, saya belajar bahwa kesulitan akan terasa lebih ringan jika kita memiliki orang-orang yang mau berjalan bersama kita.


KK: Anda menulis bahwa ‘kosmetik’ hanya hadir sebagai satu SKS di bangku kuliah, tanpa praktik. Pada saat itu, apakah Anda membayangkan bahwa satu SKS itu kelak akan mengubah seluruh arah hidup Anda?

Cahya: Sama sekali tidak. Kosmetik saat itu hanya hadir sebagai bagian kecil dari kurikulum, sementara perhatian kami lebih banyak terserap oleh praktikum, ujian, dan ritme kuliah sehari-hari. Nggak ada yang sedang membayangkan bahwa bagian kecil itu kelak akan kembali dengan cara yang berbeda. Namun begitulah hidup bekerja.


Satu SKS yang dulu hanya lewat di ruang kuliah, tanpa praktik dan tanpa kesan mendalam, kelak jadi pintu yang membawa saya ke Wardah, ke laboratorium, ke pabrik, ke customer, dan ke semua yang saya jalani hari ini.


Saya belajar bahwa nggak semua bekal terasa besar ketika pertama kali diterima. Ada ilmu yang mula-mula hanya lewat sebagai catatan kecil. Tapi pada waktunya, ilmu itu bisa menjadi pintu yang mengubah arah hidup seseorang. Satu SKS itu mengajarkan saya untuk tidak pernah meremehkan apa pun yang kita pelajari—karena kita nggak pernah tahu kapan ilmu itu akan dipanggil kembali. [][bersambung]


Buku 25|50 dapat diakses di sini.

***