Pengantar Redaksi — Edisi Kedua

Selamat datang kembali di Pojok Bedah. Pada edisi pertama serial 25|50, Eva Evilia sudah memulai percakapan dengan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., tentang masa kecil, keluarga, dan awal mula ia menemukan dunia Farmasi. Jika Anda belum sempat membacanya, kami sangat menyarankan untuk mampir di sini [https://kedaikata.com/pojok-bedah/pojok-bedah002-2550-bagian-1] terlebih dahulu—karena perjalanan kali ini adalah kelanjutan dari kisah yang sama, tetapi dengan cakupan yang jauh lebih luas: bagaimana satu SKS kosmetik di bangku kuliah membawanya ke pabrik, customer, dan akhirnya menjadi pemilik usaha sendiri.

Kali ini, Eva kembali duduk bersama apt. Cahya untuk menggali bagian kedua dari wawancara mereka: perjalanan kariernya di industri kosmetik. Dari Wardah yang ia sebut sebagai "sekolah spesialis kosmetik pertama," ke fase AFU yang ia ibaratkan sebagai "S2 dalam marketing dan sales," hingga peran sebagai Penanggung Jawab Teknis di Surya Permata yang mengajarkannya arti tanggung jawab penuh atas sebuah pabrik.


Tak ketinggalan, Eva juga mengupas momen paling emosional dalam buku ini—kehilangan anak ketiga, Rayyan—dan bagaimana peristiwa itu mengubah cara Cahya memandang hidup, usaha, dan amanah. Bagi Anda yang sedang membangun sesuatu dari nol, atau sedang belajar bertahan di tengah badai—edisi ini adalah teman yang tepat. Selamat menikmati, dan selamat berdiskusi di Pojok Bedah kami.


BAGIAN 2: "Dari Satu SKS Menuju Pabrik"


KK: Setelah lulus, Teh Cahya kerja di apotek terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk Wardah. Apa yang membuat Teteh berpindah dari apotek ke dunia kosmetik, dan bagaimana lowongan di koran Republika jadi titik balik?

Cahya: Saya sebenarnya ingin memberi pelayanan berupa informasi obat kepada pasien. Apotek adalah jalur yang wajar bagi lulusan Farmasi. Tetapi ketika seorang teman kuliah, Agus, memberi informasi tentang lowongan di koran Republika yang mencari R&D dengan kualifikasi sangat spesifik: apoteker berjilbab, kalimat itu meninggalkan kesan tersendiri. Sebelumnya saya pernah melamar di tempat lain dan ditanya bagaimana jika harus membuka kerudung. Pertanyaan itu membuat saya menimbang bukan hanya posisi kerja, tetapi juga nilai yang boleh saya bawa ke dalam pekerjaan.


Ketika membaca lowongan yang justru menyebut ‘apoteker berjilbab’, saya merasa menemukan pintu yang berbeda. Ada peran Teh Siti—kakak tingkat Farmasi Unpad yang sudah lebih dulu berada di Wardah—yang ikut menaikkan nama saya. Dari rangkaian kecil itulah, langkah saya ke dunia kosmetik mulai menemukan tempat. Saya nggak pernah membayangkan bahwa satu kabar lowongan di koran akan mengubah arah hidup saya.


KK: Teh Cahya menyebut Wardah sebagai ‘sekolah spesialis kosmetik pertama’. Apa pelajaran terbesar yang Teh Cahya bawa dari masa enam tahun di Wardah, dari R&D hingga Prodev dan makloon?

Cahya: Wardah adalah tempat saya mengenal dunia kosmetik secara nyata. Saya masuk sebagai R&D dengan bekal Farmasi, tetapi kosmetik ternyata jauh lebih luas dari yang pernah saya pelajari. Saya belajar bahwa formula nggak selalu berjalan seperti catatan kuliah—bahan, alat, suhu, dan proses produksi semuanya mempengaruhi hasil.


Saya belajar membuat lipstick, two way cake, blush on, dan eyeshadow dari nol. Ketika pindah ke Prodev, saya belajar bahwa produk nggak cukup hanya benar secara formula; ia juga harus bisa hidup di pasar. Saya mulai berdiri di antara dua dunia: teknis yang bertanya apakah formula bisa dibuat, dan pasar yang bertanya apakah produk dibutuhkan.


Dari makloon, saya belajar tentang customer, komunikasi, dan kepercayaan. Wardah mengajarkan saya bahwa kosmetik bukan hanya mencampur bahan, tetapi memahami bagaimana bahan-bahan itu bereaksi dan bagaimana produk itu sampai ke tangan konsumen. Enam tahun di sana memberi saya bekal yang tak ternilai.


KK: Setelah Wardah, Teh Cahya mengambil jeda sekitar satu tahun untuk keluarga. Mengapa jeda itu penting, dan bagaimana Teteh mengisi waktu tersebut sebelum kembali ke dunia kerja?

Cahya: Setelah enam tahun di Wardah, saya memutuskan keluar pada Mei 2006. Saya mengambil jeda sekitar satu tahun untuk menemani Raka memasuki masa preschool, menemani Rai yang belum genap satu tahun, kembali dekat dengan rumah, dan menjalani ritme yang tidak sepenuhnya diukur oleh target kantor.


Dalam jeda itu, saya juga kembali ke hobi olahraga dan mencoba dunia menjahit. Menjahit memberi pengalaman yang berbeda dari laboratorium—saya berhadapan dengan kain, pola, ukuran, kesalahan potong, dan proses menyesuaikan sesuatu agar bisa dipakai. Kegiatan itu tidak menjadi pusat hidup, tetapi cukup menunjukkan bahwa masa jeda tetap berisi proses belajar. Jeda itu penting karena saya perlu mengisi ulang, hadir untuk anak-anak, dan mempersiapkan diri untuk fase berikutnya. Saya percaya bahwa terkadang berhenti sejenak bukanlah kemunduran, tetapi cara untuk melangkah lebih jauh dengan arah yang lebih jelas.


KK: Teh Cahya menyebut fase di AFU [Anugerah Familindo] sebagai ‘S2 dalam marketing, sales, dan service client’. Apa yang membuat fase ini begitu berharga bagi pembelajaran Teh Cahya, meski tidak ada ijazah formal?

Cahya: Di AFU, saya mulai belajar kosmetik dari sisi yang lebih dekat dengan lapangan. Produk nggak hanya harus benar secara formula, tetapi juga harus bisa dikerjakan, dijelaskan, dikirim, dan dipertanggungjawabkan di hadapan customer. Saya jadi sales makloon—bukan sales bergaji, tetapi berkomisi. Sistem itu mengajarkan saya bahwa hasil berhubungan langsung dengan usaha, keberanian mencari peluang, dan kemampuan menjaga customer. Saya belajar menghadapi customer dengan watak yang berbeda-beda—ada yang marah-marah, ada yang ingin cepat, dan ada yang banyak komplain. Semua harus dilayani dengan baik.


Saya juga belajar bahwa pabrik berjalan melalui bahan, alat, jadwal, orang, dan keputusan harian yang harus terus disambungkan. AFU tidak memberi ijazah formal, tetapi memberi pengalaman yang langsung bersentuhan dengan masalah sehari-hari. Dari sana, saya mulai memahami bahwa ilmu Farmasi dan kosmetik harus bisa bekerja dalam keadaan nyata.


KK: Di Surya Permata, Teh Cahya menjabat sebagai Penanggung Jawab Teknis [PJT]. Apa perbedaan terbesar antara menjadi konsultan/pendamping dan memegang tanggung jawab teknis langsung di sebuah pabrik?

Cahya: Ada perbedaan besar antara membantu sebuah pabrik dan memegang tanggung jawab atas pabrik itu. Ketika membantu dari luar, kita bisa memberi masukan, memperbaiki proses, atau mengarahkan langkah. Tapi ketika sebuah pabrik menjadi amanah yang harus dijalankan, semua keputusan mulai terasa lebih dekat, lebih nyata, dan lebih berat.


Di Surya Permata, saya masuk lebih dalam ke urusan formulasi, izin, CPKB [Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik-Red], dan kesiapan teknis pabrik. Pak Henry mengingat saya sebagai orang yang bertanggung jawab—datang dengan sederhana, bekerja dengan sungguh-sungguh.


Peran PJT mengajarkan saya bahwa tanggung jawab tidak hanya tertulis dalam dokumen, tetapi benar-benar terasa dalam pekerjaan harian. Saya harus memperhatikan apakah formula dapat dijalankan, apakah izin dan dokumen bergerak ke arah yang benar, dan bagaimana memahami kebutuhan pemilik usaha yang sedang membangun produk. Dari sana, saya belajar bahwa pabrik tidak bisa berjalan hanya berdasarkan niat baik—ia membutuhkan sistem, dokumen, dan orang yang bertanggung jawab.


KK: Perjalanan Jakarta-Bandung menjadi ritme hidup Teh Cahya selama bertahun-tahun. Apa tantangan terbesar dari hidup berpindah-pindah antara dua kota, dan bagaimana Teteh menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga?

Cahya: Perjalanan Jakarta-Bandung pada masa itu bukan sekadar jarak antarkota. Di dalamnya ada waktu tempuh, jadwal yang harus dicocokkan, dan pekerjaan yang sering belum selesai ketika kendaraan sudah kembali bergerak. Ada hari ketika saya pergi ke Bandung, kembali ke Jakarta, lalu kembali lagi menyiapkan pekerjaan dan urusan rumah berikutnya. Saya belajar bahwa seorang ibu yang bekerja tidak hanya membawa tas kerja, tetapi juga membawa banyak pikiran yang tidak terlihat. Ada urusan anak yang terbawa saat bekerja, dan ada urusan pekerjaan yang terbawa saat pulang. Saya harus terus belajar membagi diri, meskipun tidak selalu tahu apakah pembagian itu sudah cukup adil.


Yang membantu adalah dukungan keluarga—A Wendra [suami Cahya-Red], anak-anak, dan orang-orang di sekitar saya—serta kesadaran bahwa ini adalah pilihan yang saya jalani dengan konsekuensinya. Saya tidak pernah mengeluh karena saya tahu bahwa setiap perjalanan adalah bagian dari proses membangun sesuatu yang lebih besar.


KK: Bab tentang Rayyan adalah bagian paling emosional dalam buku ini. Teh Cahya menulis bahwa Teteh merasakan takut bukan hanya karena sakit, tetapi karena merasa belum memiliki bekal yang cukup. Apa yang berubah dalam diri Teh Cahya setelah peristiwa itu?

Cahya: Saya merasakan takut yang bukan takut sederhana—bukan hanya takut pada sakit tubuh, tetapi takut pulang kepada Allah dalam keadaan belum siap membawa bekal. Namun setelah Rayyan lahir, rasa itu berubah. Saya merasa telah diberi kesempatan untuk melahirkan anaknya.


Pada titik tertentu, saya merasa siap jika memang harus dipanggil. Ketika kemudian saya bangun kembali, pertanyaan yang muncul bukan hanya mengapa saya masih hidup, tetapi tugas apa lagi yang Allah berikan kepada saya. Peristiwa itu mengajarkan saya bahwa manusia tidak memegang hidupnya sendiri. Ada masa ketika hidup bergerak cepat, lalu tubuh meminta didengar dengan cara yang nggak bisa diabaikan.


Saya belajar bahwa tawakal bukan berarti pasrah, tetapi menerima bahwa setelah seluruh ikhtiar dilakukan dengan sebaik-baiknya, keputusan akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah. Saya juga belajar bahwa hidup yang dikembalikan adalah amanah yang harus dijalani dengan cara yang berbeda.


KK: Teh Cahya dan Kang Wendra mendirikan RayCorp pada 9 Juli 2013. Mengapa tanggal itu penting, dan apa yang berubah dalam cara Anda memandang usaha setelah mendirikan perusahaan bersama pasangan?

Cahya: Tanggal 9 Juli memiliki kedekatan batin dengan cerita keluarga yang sudah saya tulis sebelumnya. RayCorp adalah perusahaan pertama yang kami bangun bersama, dan namanya diambil untuk mengenang Rayyan. Tapi RayCorp bukan pengganti Rayyan—kehilangan seorang anak tetap memiliki ruangnya sendiri. Setelah Rayyan, alasan di balik langkah kami mulai bergeser.


Sebelumnya, impian masih mudah dibayangkan melalui hal-hal yang terlihat: rumah, kendaraan, pencapaian. Setelah peristiwa itu, pertanyaannya bergeser menjadi lebih sederhana sekaligus lebih berat: untuk apa semua ini dikerjakan? Kami nggak berhenti bekerja, tetapi kerja mulai dibaca bukan hanya sebagai cara mencapai sesuatu, tetapi juga sebagai cara memberi manfaat.


RayCorp mempertemukan dua dunia yang sebelumnya tampak berjalan sendiri-sendiri—kosmetik dari saya, dan komunikasi dari A Wendra. Kami belajar bahwa tidak perlu sama untuk bisa membangun sesuatu bersama. Perbedaan justru menjadi cara untuk melihat pekerjaan dari dua sisi.


KK: Teh Cahya menyebut Dian Indah Abadi sebagai ‘reborn’. Apa yang membuat akuisisi pabrik itu terasa seperti kelahiran kembali, dan bagaimana Teteh membangun tim dari nol?

Cahya: Dian Indah nggak datang sebagai pabrik yang sudah siap berjalan. Ketika saya masuk, orang yang ada masih sangat sedikit—belum ada HRD, belum ada QC, belum semua bagian kerja terbentuk.


Kami menyusun CPKB sambil mengenali ruang, area, dan kebutuhan pabrik satu per satu. Rina mengingat ruangan yang lama tidak digunakan, udara yang terasa pengap, dan pekerjaan membersihkan area yang ikut dilakukan sendiri. Kami menyapu, mengepel, menata ruang, dan mulai menyesuaikan alur kerja.


Dari situlah tim mulai terbentuk: Dede, Puty, Rina sebagai penanggung jawab teknis, Andri sebagai plant manager [pimpinan tertinggi operasional di pabrik, bertanggung jawab penuh mengelola produksi, efisiensi biaya, pemeliharaan mesin, logistik, hingga keselamatan kerja-Red], Didah sebagai admin, lalu dibantu Dini dan Riza.


Pada 9 Juli 2019, izin CPKB keluar, dan itu menjadi penanda bahwa pabrik mulai memenuhi syarat. Saya menyebutnya reborn karena pabrik itu seperti dilahirkan kembali dalam tanggung jawab yang berbeda. Dian Indah jadi tempat ketika pengalaman lama saya mendapat rumah yang lebih konkret. Ilmu dari R&D, makloon, customer, packaging, dan konsultasi mulai berkumpul di satu pabrik.


KK: Pandemi Covid-19 justru membawa berkah bagi Dian Indah dengan meningkatnya permintaan hand sanitizer. Apa yang Anda pelajari dari masa krisis itu tentang kepemimpinan dan ketahanan usaha?

Cahya: Pandemi mengubah hampir semua hal yang sebelumnya terasa biasa. Namun Dian Indah seolah telah disiapkan lebih dulu—setelah akuisisi dan proses perizinan selesai pada 2019, pabrik itu akhirnya bisa beroperasi sesuai regulasi.


Belum genap setahun berjalan, Covid datang. Kebutuhan hand sanitizer meningkat tajam, dan pabrik ikut masuk ke arus kebutuhan yang datang cepat. Di saat banyak tempat mengalami kesulitan dan ada perusahaan yang harus mengurangi karyawan, produksi di Dian Indah justru bergerak positif. Kami memutuskan untuk tidak memutuskan hubungan kerja dengan karyawan—bahkan menambah tenaga karena pekerjaan meningkat. Bagi tim, pandemi bukan hanya soal pabrik bertahan, tetapi juga soal pekerjaan mereka tetap dijaga.


Saya belajar bahwa dalam krisis, keputusan harus diambil lebih cepat, tetapi kecepatan tidak boleh mengalahkan tanggung jawab. Saya juga belajar bahwa kepercayaan kepada tim dan koordinasi menjadi dua hal yang sama-sama dibutuhkan. Pandemi mengajarkan bahwa usaha yang berakar pada nilai akan lebih mampu bertahan ketika badai datang. [][bersambung]


***


Sebuah Memoir 25|50 dapat diakses di sini