Tidak semua yang bisa kita beli harus kita miliki, dan tidak semua yang kita kurangi berarti kita sedang turun kelas.
Ada masa ketika kita ingin punya lebih banyak. Setelah memiliki penghasilan sendiri, keinginan membeli skincare baru, mencoba restoran yang sedang ramai, mengganti ponsel, membeli pakaian, atau sesekali pergi ke salon dan klinik terasa semakin mudah dilakukan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Masalahnya muncul ketika sesuatu yang awalnya hanya keinginan perlahan berubah menjadi kebiasaan, lalu dianggap sebagai kebutuhan.
Inilah yang sering disebut lifestyle inflation. Penghasilan meningkat, tetapi standar hidup ikut meningkat. Dulu membeli satu produk skincare sudah cukup, sekarang rasanya perlu mencoba beberapa produk sekaligus. Dulu pergi ke salon sesekali, kemudian menjadi rutinitas. Dulu nongkrong hanya ketika ada kesempatan, sekarang hampir setiap akhir pekan selalu ada alasan untuk keluar. Penghasilan bertambah, tetapi uang yang tersisa belum tentu ikut bertambah.
Downgrade lifestyle sebuah pilihan
Di titik itu, muncul pilihan yang berlawanan: downgrade lifestyle. Sederhananya, downgrade lifestyle adalah keputusan untuk menurunkan sebagian standar pengeluaran atau konsumsi yang sebelumnya dijalani. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena seseorang mulai merasa ada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipertahankan.
Bagi generasi muda, bentuknya tentu bukan menjual rumah besar atau mengganti mobil mewah dengan kendaraan yang lebih sederhana. Banyak yang bahkan belum memiliki rumah sendiri atau masih menggunakan kendaraan yang sama selama bertahun-tahun. Downgrade bisa jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: tidak lagi membeli skincare hanya karena viral, memilih beberapa produk utama yang memang cocok, mengurangi makan di luar, menunda membeli gadget baru, atau berhenti membeli pakaian hanya karena sedang tren.
Hal yang sama berlaku pada kosmetik. Downgrade bukan berarti berhenti merawat diri. Justru kita perlu membedakan kebutuhan perawatan dengan konsumsi yang muncul karena tren. Cleanser, pelembap, sunscreen, sabun, sampo, pasta gigi, deodorant dan kebutuhan personal hygiene tetap merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari.
Yang mungkin dikurangi adalah membeli terlalu banyak produk, mengganti produk yang masih berfungsi hanya karena ada keluaran terbaru, atau mengikuti setiap tren kecantikan yang muncul di media sosial.
Pandangan ini juga mendapat perhatian dari Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., yang memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di industri kosmetik, dengan pengalaman di bidang R&D, registrasi, produksi, sistem mutu dan pengembangan bisnis. Menurutnya, penggunaan kosmetik seharusnya tidak diukur dari banyaknya produk yang dimiliki, tetapi dari kesesuaiannya dengan kebutuhan pengguna.
“Downgrade lifestyle dalam penggunaan kosmetik bukan berarti berhenti merawat diri atau memilih produk yang paling murah. Yang lebih penting adalah memahami apa yang memang dibutuhkan kulit dan tubuh, kemudian memilih produk yang tepat, aman dan sesuai dengan kemampuan. Jadi bukan sebanyak apa produk yang kita punya, tetapi apakah produk tersebut memang memberikan manfaat yang kita perlukan.”
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika rutinitas kecantikan semakin mudah dipengaruhi tren. Konsumen dapat melihat produk baru setiap hari, mulai dari skincare, makeup hingga berbagai treatment di klinik dan salon. Padahal, semakin banyak produk tidak otomatis berarti semakin baik hasilnya.
Cahya menilai pendekatan yang lebih rasional dapat dimulai dengan memahami fungsi setiap produk. Jika satu produk sudah mampu memenuhi kebutuhan tertentu dan memberikan hasil yang sesuai, konsumen tidak harus terus menambah produk hanya karena muncul tren baru.
“Untuk kosmetik, prinsipnya bukan mengurangi sebanyak mungkin, tetapi memilih dengan lebih sadar. Produk yang memang dibutuhkan untuk menjaga kebersihan, kesehatan dan kenyamanan tetap harus dipenuhi. Personal hygiene, misalnya, bukan sesuatu yang perlu dihilangkan hanya karena seseorang sedang melakukan penghematan.”
Di sini terlihat bahwa downgrade lifestyle bukan berarti mengurangi semua hal. Seseorang tetap mandi, menyikat gigi, menggunakan deodorant, merawat rambut, membersihkan wajah atau menggunakan sunscreen ketika memang dibutuhkan. Yang dikurangi adalah konsumsi yang tidak memiliki manfaat sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Data konsumen juga menunjukkan bahwa pertimbangan tersebut semakin penting. Survei PwC Indonesia 2026 menemukan 77% konsumen mempertimbangkan kesetaraan antara manfaat dan biaya dalam keputusan terkait kesehatan dan wellness, sementara 65% menyesuaikan pembelian dengan kebutuhan.
Maka pergi ke salon atau klinik juga tidak otomatis menjadi pengeluaran yang harus dihilangkan. Jika seseorang memiliki kondisi kulit atau rambut yang membutuhkan penanganan profesional, tentu berbeda ceritanya. Tetapi jika treatment dilakukan hanya karena sedang tren atau merasa harus mengikuti apa yang dilakukan orang lain, mungkin ada baiknya berhenti sebentar dan bertanya: saya memang membutuhkannya atau hanya tidak ingin merasa tertinggal?
Pertanyaan itu penting karena industri kecantikan sangat dekat dengan tren. Produk baru terus bermunculan, influencer memperkenalkan rutinitas baru, dan media sosial membuat kita melihat standar penampilan orang lain hampir setiap hari. Sesuatu yang awalnya terlihat istimewa perlahan bisa terasa seperti kebutuhan biasa.
Riset mengenai generasi muda Indonesia juga menunjukkan adanya tantangan seperti pengeluaran impulsif dan FOMO dalam kesejahteraan finansial Generasi Z. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan mengatakan “tidak dulu” bisa menjadi bagian dari keputusan finansial yang sehat.
Fungsi downgrade lifestyle akhirnya bukan sekadar menghemat uang. Ia adalah cara menyusun ulang prioritas. Uang yang tidak jadi digunakan untuk pembelian impulsif bisa dialihkan untuk tabungan, dana darurat, pendidikan, investasi, membayar utang atau sekadar memberikan ruang lebih luas dalam mengatur kehidupan.
Yang menarik, manfaat downgrade tidak selalu langsung terlihat sebagai uang yang terkumpul. Kadang manfaat pertamanya justru berupa rasa lebih ringan. Kita tidak terlalu memikirkan tagihan, tidak merasa harus terus mengejar penghasilan lebih tinggi, dan tidak merasa bersalah ketika memutuskan tidak membeli sesuatu yang sedang viral.
Tetapi ada satu hal yang perlu diwaspadai. Jangan sampai downgrade lifestyle berubah menjadi gengsi baru. Dulu orang ingin terlihat berhasil karena menggunakan barang mahal. Sekarang seseorang bisa saja ingin terlihat keren karena memiliki gaya hidup paling minimalis. Jika tujuan akhirnya tetap mencari pengakuan orang lain, sebenarnya kita hanya berpindah bentuk dalam perlombaan yang sama.
Mungkin yang lebih penting adalah bisa memilih tanpa merasa harus membuktikan sesuatu. Bisa menggunakan kosmetik yang cocok tanpa harus membeli semua produk yang sedang viral. Bisa pergi ke salon atau klinik ketika memang dibutuhkan dan sesuai kemampuan. Bisa menggunakan produk personal hygiene yang sederhana selama memenuhi kebutuhan.
Tidak sedang turun kelas
Pada akhirnya, kita tidak harus memiliki semuanya hanya karena sudah mampu membelinya. Tidak harus mengikuti semua tren hanya karena orang lain mengikutinya. Dan tidak perlu malu memilih sesuatu yang lebih sederhana jika memang itu yang paling sesuai dengan kehidupan kita.
Mungkin sesekali kita perlu bertanya: kalau tidak ada yang melihat rumah, pakaian, gadget, kosmetik, tempat makan atau tempat liburan kita, apakah kita masih menginginkan semua itu?
Kalau jawabannya iya, tidak ada masalah. Tetapi kalau jawabannya mulai berubah, mungkin kita tidak sedang turun kelas. Mungkin kita hanya sedang belajar menentukan sendiri apa yang benar-benar cukup. [] [Salim Elantara/KK]