Semakin lama mengantre, semakin berat keputusan untuk pergi. Fenomena ini berkaitan dengan cara manusia menilai waktu yang sudah dihabiskan.

Sudah hampir satu jam seorang laki-laki berdiri dalam antrean sebuah restoran yang sedang populer. Beberapa orang di belakangnya mulai mengeluh karena barisan bergerak sangat lambat, sementara pelanggan yang baru datang memutuskan mencari tempat makan lain. Ia sebenarnya mulai lapar dan lelah, tetapi tetap bertahan.

Ketika temannya mengajak pindah ke restoran lain, ia justru menolak. Alasannya sederhana: sayang sekali jika waktu satu jam yang telah dihabiskan berakhir tanpa mendapatkan makanan yang diinginkan. Anehnya, semakin lama ia menunggu, semakin sulit pula keputusan untuk meninggalkan antrean tersebut.

Pengalaman ilustratif itu mungkin terasa akrab bagi siapa pun yang pernah mengantre makanan, membeli tiket, atau menunggu layanan tertentu. Orang dapat dengan mudah mengurungkan niat ketika melihat antrean panjang sebelum bergabung. Tetapi setelah berada di dalamnya cukup lama, keputusan untuk pergi menjadi jauh lebih rumit.

Baca Juga: Seberapa Jauh Kita Memahami Kosmetik yang Kita Pakai Setiap Hari?

Ketika Waktu yang Sudah Terbuang Justru Membuat Kita Bertahan

Dalam psikologi pengambilan keputusan, kecenderungan tersebut dapat dijelaskan melalui sunk cost effect. Istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang meneruskan suatu tindakan karena telah menginvestasikan waktu, uang, atau tenaga, meskipun investasi sebelumnya seharusnya tidak selalu menentukan keputusan berikutnya.

Peneliti Hal R. Arkes dan Catherine Blumer membahas fenomena tersebut dalam penelitian berjudul The Psychology of Sunk Cost, yang diterbitkan dalam jurnal Organizational Behavior and Human Decision Processes pada 1985. Mereka menemukan bahwa investasi yang telah dikeluarkan dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk melanjutkan suatu kegiatan. Salah satu penjelasannya adalah keengganan merasa telah menyia-nyiakan sumber daya.

Dalam antrean, waktu yang telah berlalu tidak dapat diperoleh kembali, baik seseorang memilih bertahan maupun pergi. Akan tetapi, meninggalkan barisan sering terasa seperti mengakui bahwa seluruh waktu tersebut telah terbuang. Perasaan itulah yang dapat membuat seseorang menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempertahankan keputusan sebelumnya.

Bayangkan seseorang telah menunggu 45 menit untuk membeli makanan yang sebenarnya bisa diperoleh di tempat lain. Ia mengetahui bahwa antrean mungkin masih membutuhkan waktu setengah jam, tetapi memilih bertahan karena merasa sudah terlalu lama menunggu untuk menyerah. Keputusan tersebut mulai dipengaruhi masa lalu, bukan semata manfaat yang akan diperoleh dari waktu tambahan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Management Science pada 2019 juga menemukan hubungan antara lamanya waktu mengantre dan keputusan pembelian. Peneliti menunjukkan bahwa konsumen yang menunggu lebih lama cenderung membeli lebih banyak, antara lain karena ingin membuat waktu yang dihabiskan terasa sepadan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa antrean dapat memengaruhi penilaian seseorang terhadap transaksi yang akan dilakukan.

Meski demikian, tidak semua orang yang bertahan dalam antrean panjang sedang terjebak dalam kekeliruan berpikir. Penelitian dalam Science Advances pada 2022 menjelaskan bahwa perilaku yang terlihat seperti sunk cost effect juga dapat muncul karena orang-orang yang sejak awal memiliki motivasi lebih besar memang cenderung bertahan lebih lama. Karena itu, lamanya seseorang mengantre saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa keputusannya tidak rasional.

Baca Juga: Kenapa Barang Murah Belum Tentu Membuat Kita Mengeluarkan Uang Lebih Sedikit?

Kapan Bertahan Masuk Akal dan Kapan Sebaiknya Pergi?

Ada alasan yang sepenuhnya masuk akal untuk tetap berada dalam antrean. Seseorang mungkin membutuhkan layanan yang tidak tersedia di tempat lain, sudah hampir mencapai giliran, atau memiliki waktu luang yang cukup. Dalam keadaan tersebut, melanjutkan antrean dapat memberikan manfaat lebih besar daripada mencari alternatif.

Persoalan muncul ketika alasan utama untuk bertahan hanyalah waktu yang sudah terlanjur dihabiskan. Pertanyaan yang lebih berguna bukan berapa lama seseorang telah menunggu, melainkan berapa lama lagi ia perlu menunggu dan apakah hasilnya masih sepadan. Waktu sebelumnya sudah berlalu, sedangkan keputusan berikutnya masih dapat diubah.

Informasi mengenai kondisi antrean juga memengaruhi pilihan. Penelitian Robert Batt dan Christian Terwiesch mengenai antrean layanan gawat darurat menunjukkan bahwa keputusan seseorang meninggalkan antrean turut dipengaruhi panjang barisan dan pergerakan orang di sekitarnya. Artinya, orang tidak hanya menghitung menit, tetapi juga membaca tanda-tanda apakah penantiannya akan segera berakhir.

Karena itu, memperkirakan sisa waktu tunggu dapat membantu mengambil keputusan lebih baik. Jika restoran yang dituju masih membutuhkan satu jam tambahan sementara pilihan lain tersedia dalam lima menit, pengunjung dapat mempertimbangkan apakah makanan tersebut memang layak ditunggu. Sebaliknya, apabila giliran tinggal beberapa orang lagi, bertahan mungkin merupakan keputusan yang wajar.

Cara sederhana lainnya adalah membayangkan seolah seseorang baru saja tiba di lokasi. Dengan informasi mengenai antrean dan kebutuhan saat itu, apakah ia masih bersedia bergabung? Pertanyaan tersebut membantu memisahkan nilai manfaat yang diharapkan dari keinginan mempertahankan waktu yang sudah dikeluarkan.

Tentu, keputusan tidak harus selalu didasarkan pada hitungan efisiensi. Menunggu bersama teman bisa menjadi pengalaman menyenangkan, sedangkan antrean sebuah acara mungkin memiliki nilai emosional tersendiri. Selama seseorang memahami alasan bertahan dan menerima konsekuensinya, keputusan tersebut tidak otomatis keliru.

Antrean memperlihatkan bagaimana manusia dapat memberi makna pada waktu yang telah dihabiskan. Semakin lama menunggu, seseorang mungkin semakin berharap bahwa hasilnya akan membenarkan seluruh pengorbanan sebelumnya. Padahal, meninggalkan antrean tidak membuat waktu yang telah berlalu menjadi lebih sia-sia daripada jika ia terus bertahan.

Barangkali yang membuat antrean panjang sulit ditinggalkan bukan hanya harapan segera mendapat giliran, melainkan keengganan menerima bahwa waktu yang sudah kita keluarkan tidak selalu harus dibayar dengan hasil yang kita inginkan. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.