Kadang terasa aneh, bagaimana sebuah aplikasi bisa tahu apa yang ingin kita lihat. Lagu yang muncul terasa pas, video yang disarankan terasa dekat, bahkan produk yang ditawarkan sering terasa seperti memang sedang dibutuhkan.

Di permukaan, semua itu terlihat seperti kebetulan yang menyenangkan. Seolah-olah teknologi semakin pintar memahami manusia. Namun, di balik itu, ada proses yang jauh lebih sistematis daripada sekadar 'kecocokan'.

Setiap klik, pencarian, durasi menonton, hingga hal-hal kecil seperti apa yang kita lewati, semuanya menjadi data. Dari situ, sistem mulai membentuk pola. Bukan untuk memahami manusia secara utuh, tapi untuk memprediksi apa yang kemungkinan besar akan dipilih berikutnya.

Di titik ini, rekomendasi tidak lagi berdiri sebagai saran. Ia adalah hasil dari proses membaca yang terus berjalan. Semakin lama digunakan, semakin akurat sistem tersebut bekerja, karena ia terus belajar dari kebiasaan yang sama.

Hal ini membuat pengalaman terasa personal. Padahal, yang terjadi bukan sistem yang benar-benar 'mengerti', melainkan sistem yang terus menyesuaikan diri dengan pola yang sudah terbentuk.

Baca Juga: Menulis untuk Manusia, Tapi Harus Lolos AI, Bagaimana Caranya?

Kita Tidak Sekadar Menggunakan, Kita Diamati

Dalam banyak platform digital, interaksi pengguna menjadi sumber utama pengambilan keputusan sistem. Apa yang terlihat di layar bukan hasil acak, melainkan hasil dari perhitungan yang terus diperbarui.

Shoshana Zuboff, dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism, menjelaskan bahwa perusahaan teknologi mengumpulkan data perilaku untuk memprediksi dan memengaruhi tindakan pengguna. Ia menyebutnya sebagai bentuk ekonomi baru yang bertumpu pada pengawasan perilaku.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengguna tidak hanya berinteraksi dengan sistem. Mereka juga menjadi bagian dari sistem itu sendiri. Setiap aktivitas menjadi bahan bakar untuk membuat sistem semakin presisi.

Dalam konteks ini, rekomendasi yang terasa cocok bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Ia adalah konsekuensi dari proses pengamatan yang terus berlangsung. Semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin sempit kemungkinan hasil yang ditampilkan.

Ketika seseorang merasa algoritma 'mengerti', sebenarnya yang terjadi adalah sistem mengenali pola yang terus diulang. Dari pola itu, muncul prediksi yang semakin mendekati kebiasaan pengguna.

Masalahnya, pola yang sama juga bisa membuat variasi semakin berkurang. Apa yang sering dilihat akan terus muncul, sementara hal baru yang berbeda perlahan tersingkir.

Baca Juga: Algoritma dan Personalisasi: Kita Merasa Dipahami, Padahal Sedang Dipelajari

Ketika Pilihan Terasa Seperti Milik Sendiri

Masalahnya tidak berhenti pada kemampuan membaca pola. Yang lebih menarik adalah bagaimana hasil dari proses itu terasa seperti pilihan pribadi.

Cass Sunstein, dalam Nudge, menjelaskan bahwa manusia dapat diarahkan pada pilihan tertentu tanpa merasa dipaksa. Pilihan tetap terasa datang dari diri sendiri, meskipun sebenarnya sudah dipengaruhi oleh lingkungan yang dibentuk.

Dalam dunia digital, lingkungan itu adalah algoritma. Apa yang muncul lebih dulu, apa yang sering diulang, dan apa yang dibuat terlihat menarik, semuanya berperan dalam membentuk keputusan.

Di sinilah batas antara memilih dan dipilih mulai menjadi tipis. Pengguna tetap merasa bebas, tetapi pilihan yang tersedia sudah dipersempit oleh sistem.

Rekomendasi yang terasa tepat akhirnya bukan hanya soal kecocokan. Ia juga soal bagaimana pilihan diarahkan tanpa terasa diarahkan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa membentuk kebiasaan baru. Kita cenderung memilih dari apa yang tersedia, bukan dari apa yang sebenarnya ingin dicari. Pilihan terasa praktis, tapi tidak selalu luas.

Ketika sesuatu terasa “ini gue banget”, mungkin yang terjadi bukan sistem yang memahami sepenuhnya. Tapi sistem yang cukup lama mengamati, sampai akhirnya tahu bagian mana yang perlu ditampilkan.

Di titik itu, pertanyaannya bukan lagi apakah rekomendasi itu akurat. Tapi seberapa jauh kita masih benar-benar memilih, tanpa mengikuti apa yang sudah lebih dulu dipilihkan. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.