Pemandangan tersimpan rapi di galeri. Namun setelah perjalanan selesai, kadang foto justru lebih mudah ditemukan daripada ingatan tentang bagaimana rasanya berada di sana.

Matahari baru muncul di balik pegunungan ketika beberapa tangan hampir bersamaan meraih ponsel. Kamera dibuka, posisi dicari, beberapa foto diambil, kemudian video pendek direkam untuk story. Pemandangannya indah, tetapi sebagian menit pertama justru dilewati dengan melihatnya melalui layar berukuran beberapa inci.

Kebiasaan itu rasanya sudah menjadi bagian wajar dari perjalanan. Foto membantu menyimpan tempat yang mungkin hanya dikunjungi sekali, menjadi cara berbagi pengalaman kepada orang lain, sekaligus membawa pulang sesuatu yang bisa dilihat kembali bertahun-tahun kemudian. Rasanya sayang datang jauh-jauh tanpa mempunyai satupun gambar.

Namun, ada pertanyaan kecil setelah galeri dipenuhi ratusan foto. Ketika beberapa bulan kemudian melihat kembali sebuah gambar, masihkah teringat udara dinginnya, suara orang-orang di sekitar, bau tanah setelah hujan, atau percakapan yang terjadi beberapa menit sebelum tombol kamera ditekan? Jangan-jangan perjalanan berhasil disimpan sebagai gambar, tetapi sebagian pengalaman berada di dalamnya justru lewat tanpa cukup sempat dirasakan.

Baca Juga: Semakin Dewasa, Teman Memang Tidak Berkurang, Tapi yang Benar-Benar Dekat Semakin Sedikit, Mengapa?

Kamera Bisa Membantu Mengingat, Tetapi Cara Memotret Juga Penting

Memotret tidak selalu membuat seseorang kehilangan pengalaman. Kristin Diehl dari University of Southern California, Gal Zauberman dari Yale University, dan Alixandra Barasch dari New York University pernah menguji pengaruh mengambil foto terhadap pengalaman dalam sejumlah eksperimen. Hasil penelitian mereka yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa memotret dalam beberapa kondisi justru dapat meningkatkan keterlibatan dan kenikmatan karena perhatian visual terhadap pengalaman menjadi lebih besar.

Temuan itu terasa masuk akal ketika melihat orang berhenti karena menemukan detail kecil yang menarik untuk dipotret. Kamera membuat perhatian tertuju pada warna jendela sebuah rumah tua, pantulan cahaya di permukaan danau, atau bentuk makanan yang mungkin terlewat jika seseorang hanya berjalan melewatinya. Memotret dalam keadaan seperti itu bukan gangguan dari perjalanan, melainkan salah satu cara memperhatikannya.

Persoalannya berubah ketika tujuan utama bergeser dari mengalami menuju menghasilkan dokumentasi. Sebuah pemandangan tidak lagi cukup dilihat karena perlu dicari sudut terbaiknya, makanan menunggu karena foto belum selesai, dan kunjungan ke suatu tempat mulai diukur berdasarkan berapa banyak gambar yang berhasil dibawa pulang. Perjalanan perlahan memperoleh pekerjaan tambahan: harus terlihat bagus ketika diperlihatkan kembali.

Psikolog Linda Henkel dari Fairfield University menemukan sisi lain hubungan kamera dan ingatan melalui eksperimen di museum. Peserta yang diminta memotret objek secara keseluruhan kemudian mengingat lebih sedikit objek dan detail dibandingkan peserta yang hanya mengamatinya. Henkel menyebut fenomena tersebut sebagai photo-taking-impairment effect, meski penelitian lanjutan menunjukkan hubungan antara fotografi dan memori jauh lebih kompleks daripada sekadar 'memotret membuat lupa'.

Menariknya, efek tersebut berubah ketika peserta diminta melakukan zoom pada bagian tertentu dari objek. Perhatian yang lebih terarah dapat menghasilkan pola ingatan berbeda dibandingkan mengambil foto secara otomatis. Kamera rupanya bukan satu-satunya persoalan; seberapa jauh perhatian tetap hadir ketika kamera digunakan juga ikut menentukan.

Baca Juga: Barang Itu Terlihat Penting Saat Dibeli, Lalu Terlupakan Beberapa Minggu Kemudian

Ada Pengalaman yang Tidak Pernah Benar-Benar Muat di Dalam Foto

Sebuah foto pantai dapat menyimpan warna laut, tetapi tidak menyimpan rasa pasir panas di telapak kaki. Foto warung di sebuah kota asing dapat memperlihatkan meja dan makanan, tetapi tidak sepenuhnya mengembalikan suara pemiliknya ketika menjelaskan menu. Bahkan video hanya mampu menangkap sebagian kecil dari apa yang tubuh alami ketika berada di sebuah tempat.

Perjalanan memang selalu bersifat multisensorik. Bau, temperatur, suara, rasa lelah setelah berjalan, percakapan yang tidak direncanakan, bahkan kebingungan ketika salah arah menjadi bagian dari pengalaman yang kemudian membentuk ingatan. Kamera sangat baik menangkap sesuatu yang terlihat, sementara sebagian besar perjalanan justru berlangsung di luar bingkai.

Ada pula dorongan untuk segera membagikan apa yang sedang dialami. Sebuah matahari terbenam belum selesai ketika foto sudah dipilih, diberi tulisan, lalu diunggah kepada orang-orang yang berada ratusan kilometer jauhnya. Tubuh masih berada di pantai, tetapi perhatian sebagiannya sudah berpindah menuju siapa yang melihat dan bagaimana mereka merespons.

Alixandra Barasch bersama rekan-rekannya menemukan bahwa niat membagikan foto dapat memengaruhi pengalaman pengambilan gambar. Ketika fotografi dilakukan dengan tujuan berbagi kepada orang lain, perhatian dapat bergeser menuju bagaimana pengalaman tersebut akan dinilai dari luar, terutama pada pengalaman yang lebih berfokus kepada diri sendiri. Dokumentasi kemudian bukan hanya soal mengingat, tetapi juga soal membentuk bagaimana sebuah pengalaman akan terlihat di mata orang lain.

Ini bukan alasan untuk meninggalkan ponsel di hotel setiap kali bepergian. Foto perjalanan mempunyai nilai yang nyata, terutama ketika bertahun-tahun kemudian wajah, tempat, dan orang yang pernah ditemui mulai kabur dalam ingatan. Sebuah gambar lama bahkan dapat membuka kembali cerita yang mungkin sudah lama tidak muncul dalam percakapan.

Mungkin yang perlu dijaga bukan jumlah foto, melainkan kesempatan untuk mengalami sesuatu sebelum buru-buru menyimpannya. Ada pemandangan yang layak dilihat beberapa menit sebelum kamera dikeluarkan, makanan yang boleh dicicipi sebelum dipotret, dan percakapan yang tidak perlu dihentikan hanya karena tempat di belakangnya terlihat cocok untuk sebuah foto. Dokumentasi masih bisa dilakukan tanpa membuat perjalanan berubah menjadi rangkaian produksi gambar.

Galeri ponsel mungkin suatu hari berisi puluhan ribu foto. Sebagian akan dipindahkan ke penyimpanan lain, sebagian terlupakan, dan beberapa gambar akan muncul kembali secara acak bertahun-tahun kemudian. Foto-foto terbaik barangkali bukan selalu yang paling sempurna komposisinya, melainkan yang masih mampu memanggil sesuatu yang tidak terlihat di dalam gambar.

Sebab perjalanan bukan hanya tentang tempat mana yang pernah didatangi. Ada udara yang pernah dihirup, suara yang pernah didengar, orang yang pernah ditemui, dan beberapa menit ketika tidak ada sesuatu yang perlu dilakukan selain benar-benar berada di sana. Kamera dapat membantu membawa pulang gambarnya, tetapi ingatan tetap membutuhkan seseorang yang sempat hadir ketika gambar itu diambil. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.