Tiket lama tak bisa dipakai lagi. Surat kecil mungkin sudah menguning. Namun beberapa benda tetap kita simpan karena kegunaannya memang sudah berubah.
Di sebuah laci mungkin tersimpan tiket konser bertahun-tahun lalu, kartu ucapan, gelang masuk tempat wisata, atau koin dari perjalanan yang bahkan tidak lagi kita ingat nilainya. Secara praktis, benda-benda itu sudah menyelesaikan tugasnya. Anehnya, membuangnya tetap terasa seperti keputusan yang membutuhkan pertimbangan.
Kita bahkan dapat mempunyai benda yang nilai ekonominya hampir tidak ada. Sebuah struk makan malam mungkin hanya kertas tipis dengan tulisan yang mulai pudar, sementara tiket bioskop lama sudah tidak mempunyai fungsi apa pun. Namun ketika benda itu terkait dengan seseorang atau suatu peristiwa, ukurannya yang kecil dapat membawa cerita yang jauh lebih besar.
Di sinilah kata 'berguna' mulai mempunyai arti berbeda. Sebuah benda tidak lagi dipertahankan karena dapat digunakan, melainkan karena mampu membawa kita menuju sesuatu yang tidak dapat disentuh secara langsung: ingatan.
Baca Juga: Barang Lama Bisa Jadi Benda Bersejarah, Tetapi Kapan Nilainya Mulai Berubah?
Ketika Benda Berubah Menjadi Tempat Menyimpan Cerita
Peneliti perilaku konsumen Russell Belk sejak lama membahas hubungan antara kepemilikan dan identitas melalui konsep extended self. Benda yang dimiliki manusia tidak selalu berada di luar dirinya sebagai objek semata. Sebagian dapat menjadi bagian dari bagaimana seseorang memahami dan menceritakan siapa dirinya.
Itu mudah terlihat pada benda-benda yang mengikuti perjalanan hidup. Medali lomba sekolah mungkin tidak lagi mempunyai kegunaan setelah puluhan tahun, tetapi ia menyimpan hubungan dengan versi diri yang pernah berlatih keras. Sebuah kartu pos dapat mengingatkan bahwa kita pernah tinggal jauh dari rumah, sementara tiket perjalanan membawa kembali masa ketika pergi ke suatu kota terasa seperti pengalaman besar.
Dalam konteks benda kenangan, penelitian mengenai mementos juga menunjukkan bahwa objek dapat digunakan sebagai pengingat pengalaman bermakna. Benda fisik memberi semacam jalan masuk menuju peristiwa yang tidak selalu mudah dipanggil hanya melalui kemauan untuk mengingat. Kita melihat bendanya, lalu orang, tempat, percakapan, bahkan suasana pada masa tertentu dapat ikut muncul.
Karena itulah nilai sebuah benda dapat sangat personal. Dua tiket konser dengan bentuk dan harga yang sama bisa mempunyai arti berbeda bagi dua orang. Bagi seseorang ia hanya kertas bekas, sementara bagi orang lain ia mungkin merupakan sisa malam terakhir bersama seorang sahabat sebelum mereka tinggal di kota yang berbeda.
Nilai tersebut juga menjelaskan mengapa benda pengingat tidak harus indah atau mahal. Kita tidak memilihnya berdasarkan standar museum. Kadang justru benda yang paling biasa menjadi penting karena kebetulan berada di sana ketika sesuatu yang penting dalam hidup terjadi.
Baca Juga: Ada Foto yang Tak Pernah Lagi Kita Buka, Tapi Tetap Sulit Dihapus
Kita Mungkin Tidak Menyimpan Bendanya, tetapi Versi Diri yang Menyertainya
Menariknya, kenangan yang melekat pada benda tidak selalu tentang peristiwa besar. Sebuah catatan kecil bertuliskan daftar belanja dari orangtua dapat terasa lebih berharga daripada hadiah mahal. Tulisan tangan, pilihan kata, atau lipatan kertasnya membawa jejak seseorang dengan cara yang sulit digantikan oleh benda baru.
Penelitian dalam psikologi mengenai autobiographical memory menunjukkan bahwa ingatan mengenai pengalaman pribadi berperan dalam kesinambungan identitas. Kita memahami diri hari ini dengan menghubungkannya kepada pengalaman, hubungan, dan fase kehidupan sebelumnya. Benda dapat membantu menyediakan petunjuk konkret bagi proses mengingat tersebut.
Itulah yang membuat keputusan membuang terkadang terasa tidak proporsional terhadap benda yang sedang dipegang. Secara rasional kita tahu sebuah tiket lama bukanlah konsernya, surat bukanlah orang yang menulisnya, dan gelang rumah sakit bukanlah seluruh pengalaman yang pernah terjadi di sana. Namun benda tersebut telah menjadi penghubung yang membuat masa itu terasa sedikit lebih mudah dijangkau.
Kebiasaan ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Manusia telah lama menggunakan benda untuk memperingati perjalanan, hubungan, kematian, pencapaian, hingga peristiwa kolektif. Museum melakukan sesuatu yang serupa dalam skala budaya: benda dipertahankan bukan hanya karena materialnya, tetapi karena konteks dan cerita yang dapat dibawanya.
Tentu bukan berarti setiap benda lama harus disimpan. Ketika semua objek dianggap penting, rumah dapat berubah menjadi gudang kenangan yang justru sulit dinikmati. Memilih beberapa benda yang benar-benar mewakili suatu periode kadang membuat cerita di baliknya menjadi lebih jelas.
Teknologi juga memberi pilihan lain. Tiket dapat difoto, surat dipindai, dan benda yang tidak mungkin terus disimpan dapat didokumentasikan sebelum dilepaskan. Namun salinan digital belum tentu menghadirkan pengalaman yang sama karena benda fisik mempunyai ukuran, tekstur, bekas lipatan, tulisan tangan, bahkan kerusakan yang menjadi bagian dari perjalanan waktunya.
Mungkin itu sebabnya sebuah kotak kecil berisi benda-benda lama dapat membuat seseorang duduk jauh lebih lama daripada yang direncanakan. Kita membuka tutupnya untuk mencari satu barang, lalu menemukan diri sedang berpindah dari satu masa ke masa lainnya. Benda-benda itu tidak melakukan apa-apa, tetapi cerita yang dibawanya masih bekerja.
Jadi, mengatakan benda-benda kecil tersebut 'tidak berguna' sebenarnya hanya benar jika kegunaan selalu diukur secara praktis. Ada benda yang tugasnya bukan lagi membantu kehidupan hari ini, melainkan menjaga hubungan kecil dengan kehidupan yang pernah kita jalani. Kita menyimpannya bukan karena tidak sanggup meninggalkan masa lalu, tetapi terkadang karena ingin tetap mempunyai satu pintu kecil untuk mengunjunginya. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.