Aspal dan beton biasanya membuat air mengalir di permukaan. Teknologi baru mencoba membalik keadaan: membuat sebagian permukaan kota kembali memberi jalan bagi air.
Hujan deras turun, halaman parkir mulai dipenuhi air, lalu genangan bergerak menuju jalan dan saluran drainase. Pemandangan seperti ini begitu biasa di kota sehingga kita mungkin menganggap air memang seharusnya mengalir di atas beton dan aspal. Padahal sebelum permukaan tanah ditutup, sebagian air hujan dapat meresap langsung ke dalam tanah.
Kota modern membutuhkan jalan, trotoar, area parkir, dan berbagai permukaan keras lainnya. Masalah muncul ketika terlalu banyak permukaan menjadi kedap air sehingga sebagian besar hujan harus dialirkan ke tempat lain. Saluran drainase kemudian menerima air dalam jumlah besar pada waktu yang hampir bersamaan.
Namun, perkembangan teknologi material menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih hanya memperbesar kemampuan kota membuang air, bagaimana jika sebagian permukaan yang kita injak dan lalui justru dapat memberi kesempatan air masuk ke bawahnya?
Teknologinya sudah ada dan dikenal melalui berbagai bentuk permeable pavement. Environmental Protection Agency [EPA] memasukkan pervious concrete, porous asphalt, dan permeable interlocking pavers sebagai jenis permukaan yang memungkinkan air hujan melewati lapisan atas, masuk ke lapisan batu atau tanah di bawahnya, kemudian meresap atau dialirkan melalui sistem bawah permukaan.
Baca Juga: Saat Tanah Kota Dipenuhi Beton dan Aspal, ke Mana Air Hujan akan Mengalir?
Ketika Jalan Tidak Lagi Hanya Menolak Air
Beton biasa dibuat cukup padat. Pada pervious concrete, struktur material sengaja menyisakan jaringan rongga sehingga air dapat melewatinya. Prinsip serupa digunakan pada porous asphalt, sementara sistem paving permeabel memberi jalur air melalui material atau celah di antara blok.
Di bawah permukaan tersebut biasanya terdapat lapisan agregat yang mempunyai fungsi penting. Air yang masuk dapat ditampung sementara sebelum perlahan meresap ke tanah, atau dialirkan melalui underdrain ketika kondisi lokasi tidak memungkinkan seluruh air diinfiltrasikan. Jadi yang bekerja bukan hanya permukaan berlubang, melainkan sebuah sistem berlapis.
Pendekatan tersebut berbeda dengan logika drainase konvensional yang terutama mengumpulkan dan memindahkan limpasan. EPA menjelaskan green infrastructure sebagai pendekatan yang mencoba meniru proses alam dengan menangkap air hujan di tempat ia jatuh. Dalam kondisi yang sesuai, infiltrasi juga dapat membantu pengisian kembali air tanah dan mengurangi volume limpasan yang bergerak menuju badan air.
Manfaatnya tidak berhenti pada persoalan genangan. Air yang mengalir di jalan dapat membawa sedimen, nutrien, logam berat, dan berbagai polutan lain menuju sungai atau danau. Sistem infrastruktur hijau dapat dirancang untuk menangkap, menyerap, atau menyaring sebagian limpasan tersebut sebelum mencapai badan air.
Penelitian bahkan mulai membawa gagasan ini lebih jauh. Studi yang terbit pada 2026 mengembangkan beton berpori menggunakan campuran agregat bata dan beton daur ulang untuk mempelajari kemampuannya menangani limpasan jalan. Hasilnya menunjukkan struktur pori berperan dalam menahan padatan, nutrien, dan logam berat, sekaligus membuka kemungkinan memanfaatkan limbah konstruksi sebagai bagian material perkerasan.
Penelitian 2025 terhadap pervious geopolymer concrete dengan agregat daur ulang juga memperlihatkan arah serupa. Material jalan mulai diteliti bukan hanya berdasarkan seberapa kuat ia menahan beban, tetapi juga kemampuan hidraulik, penggunaan kembali limbah, serta interaksinya dengan polutan dalam air hujan. Namun penelitian tersebut sekaligus menemukan bahwa kemampuan menghilangkan kontaminan dapat menurun ketika pori mulai tersumbat.
Baca Juga: Kita Mulai Terbiasa dengan Lingkungan yang Tidak Biasa?
Bukan Aspal Ajaib yang Bisa Dipasang di Semua Jalan
Melihat air menghilang dengan cepat melalui beton berpori memang mudah membuat teknologi ini terlihat seperti jawaban sederhana untuk genangan. Kenyataannya jauh lebih rumit. Jenis tanah, kedalaman air tanah, kemiringan, volume hujan, beban kendaraan, potensi pencemaran, dan rancangan lapisan bawah harus diperhitungkan sebelum sistem dipasang.
Lokasinya pun harus dipilih dengan tepat. Panduan EPA menyebut perkerasan permeabel tidak direkomendasikan begitu saja pada area dengan lalu lintas berat atau berkecepatan tinggi karena kapasitas strukturalnya dapat berbeda dari perkerasan konvensional. Area dengan potensi tumpahan bahan berbahaya juga membutuhkan pertimbangan khusus karena air yang diinfiltrasikan dapat berinteraksi dengan air tanah.
Ada pula musuh yang terdengar sangat sederhana: kotoran. Debu, tanah, daun, dan sedimen dapat masuk ke rongga permukaan lalu perlahan mengurangi kemampuan air melewatinya. FHWA karena itu menekankan inspeksi dan pemeliharaan berkala, termasuk pembersihan menggunakan penyedot khusus pada lokasi yang mempunyai risiko penyumbatan tinggi.
Artinya, kota tidak cukup memasang teknologi ramah lingkungan lalu menganggap pekerjaannya selesai. EPA mengingatkan bahwa green infrastructure, seperti infrastruktur lainnya, membutuhkan inspeksi, tenaga, anggaran, dan pemeliharaan sepanjang masa pakainya. Desain yang baik bahkan perlu memikirkan sejak awal bagaimana fasilitas tersebut kelak akan dibersihkan dan diperbaiki.
Karena itu, permeable pavement barangkali paling menarik jika tidak diposisikan sebagai pengganti seluruh aspal dan beton kota. Ia dapat menjadi salah satu bagian dari sistem yang lebih luas bersama taman hujan, pepohonan, bioswale, ruang terbuka, saluran drainase, kolam retensi, dan infrastruktur konvensional. EPA sendiri meneliti kombinasi infrastruktur hijau dan abu-abu sebagai bagian dari strategi pengelolaan air hujan perkotaan.
Perubahan terbesarnya mungkin justru berada pada cara berpikir. Selama puluhan tahun, air hujan di kota sering diperlakukan sebagai sesuatu yang harus segera dipindahkan dari jalan menuju saluran. Teknologi permeabel menawarkan kemungkinan lain: sebagian air dapat ditahan, diperlambat, disaring, dan bila kondisi memungkinkan, dikembalikan ke tanah.
Kota tentu tidak akan bebas genangan hanya karena mengganti beberapa trotoar dengan beton berpori. Hujan ekstrem, tata ruang, kapasitas drainase, kondisi sungai, dan luas daerah resapan tetap memainkan peran besar. Namun teknologi ini menunjukkan bahwa permukaan kota tidak harus selalu menjadi penghalang antara hujan dan tanah.
Barangkali kota yang lebih ramah terhadap hujan bukan kota yang mempunyai saluran paling besar untuk membuang air secepat mungkin. Ia adalah kota yang mengetahui bagian mana yang perlu mengalirkan air dan bagian mana yang masih bisa memberinya kesempatan untuk meresap. Di tengah semakin padatnya permukaan perkotaan, kemampuan sederhana itu bisa menjadi salah satu teknologi lingkungan yang justru membawa kota sedikit lebih dekat kepada cara alam bekerja. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.