Beberapa tahun lalu, menulis caption media sosial terasa sangat personal. Sekarang, banyak orang cukup mengetik satu perintah ke AI, lalu kalimat siap diunggah dalam hitungan detik.
Fenomena itu berkembang sangat cepat sejak teknologi generatif semakin mudah diakses publik. Orang memakai AI untuk membuat caption Instagram, ucapan ulangtahun, promosi jualan, sampai kalimat motivasi yang terlihat rapi dan meyakinkan.
Di satu sisi, semuanya terasa praktis. Tidak semua orang punya waktu atau energi untuk memikirkan kata-kata setiap hari. AI akhirnya hadir sebagai alat yang membantu manusia menulis lebih cepat dan lebih mudah.
Namun di sisi lain, semakin banyak orang mulai merasa ada sesuatu yang aneh dari banyak caption digital sekarang. Kalimatnya rapi, susunannya benar, bahkan terdengar puitis. Tapi setelah dibaca, sering muncul kesan seperti ada sesuatu yang hilang. Rasanya penuh kata, tetapi kosong pengalaman.
Penulis dan profesor teknologi Sherry Turkle dalam Alone Together [2011] menjelaskan bahwa teknologi modern semakin mampu meniru bentuk komunikasi manusia, tetapi belum tentu benar-benar membawa kedalaman emosi yang sama. Sistem digital bisa menghasilkan respons yang terasa tepat, namun manusia tetap mampu merasakan perbedaan antara ekspresi yang lahir dari pengalaman dan yang hanya disusun secara otomatis.
Fenomena itu terasa semakin dekat di era AI generatif sekarang.
Baca Juga: Sekarang Banyak Orang Curhat ke AI Tengah Malam, Anda Salah Satunya?
AI Bisa Meniru Gaya Bahasa, Tapi Tidak Selalu Punya Pengalaman di Baliknya
Salah satu hal yang membuat tulisan manusia terasa hidup adalah pengalaman yang ikut menempel di dalamnya. Kadang bukan karena kalimatnya sempurna, tetapi karena ada emosi, keraguan, atau konteks nyata yang terasa di balik kata-kata tersebut.
Sementara itu, AI bekerja dengan cara berbeda. Sistem membaca pola bahasa dalam jumlah sangat besar, lalu memprediksi susunan kalimat yang paling mungkin terdengar masuk akal dan menarik untuk konteks tertentu.
Akibatnya, AI memang bisa menghasilkan tulisan yang terdengar halus dan profesional. Namun dalam banyak kasus, tulisan itu terasa seperti tahu bentuk emosi manusia tanpa benar-benar pernah mengalaminya.
Profesor linguistik Emily M. Bender pernah menjelaskan bahwa model bahasa AI pada dasarnya bekerja dengan memprediksi pola kata, bukan memahami pengalaman manusia seperti manusia memahaminya. Karena itu, teks yang dihasilkan bisa terlihat sangat meyakinkan, tetapi tetap terasa dangkal ketika dibaca lebih lama. Mungkin itu sebabnya banyak caption AI terasa cepat dilupakan meski susunan katanya terlihat bagus.
Baca Juga: Sekarang Orang Tanya AI Dulu Sebelum Cari di Google
Media Sosial Modern Membuat Banyak Orang Lebih Fokus Terlihat Menarik daripada Terasa Tulus
Perubahan ini juga tidak bisa dilepaskan dari budaya media sosial hari ini. Banyak orang merasa harus terus tampil menarik, aktif, dan terlihat punya sesuatu untuk dibagikan setiap saat. Akibatnya, caption sering berubah fungsi. Bukan lagi ruang untuk benar-benar bercerita, tetapi bagian dari tampilan digital yang harus terlihat rapi dan menarik perhatian.
AI akhirnya masuk sangat pas ke budaya seperti itu. Sistem bisa membantu membuat caption lebih cepat, lebih estetik, dan lebih aman untuk diunggah tanpa harus berpikir terlalu lama.
Pakar teknologi dan budaya digital Nicholas Carr dalam The Shallows [2010] menjelaskan bahwa kehidupan digital modern perlahan mendorong manusia menuju komunikasi yang semakin cepat dan dangkal. Arus informasi yang terlalu padat membuat orang semakin terbiasa mengonsumsi bentuk komunikasi singkat tanpa benar-benar berhenti untuk memproses kedalamannya.
Hal itu terlihat jelas di media sosial sekarang. Banyak caption terdengar indah di permukaan, tetapi terasa sulit meninggalkan kesan emosional yang benar-benar kuat.
Mungkin itu sebabnya AI bisa membantu manusia menulis lebih cepat, tetapi belum tentu membuat komunikasi terasa lebih dekat. Yang terjadi kemudian adalah, manusia bukan hanya membaca susunan kata, melainkan juga mencari jejak pengalaman, ketulusan, dan rasa yang biasanya lahir dari sesuatu yang benar-benar pernah dijalani. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.