Setiap kali nilai tukar rupiah melemah, keresahan yang sama biasanya kembali muncul. Harga barang naik. Biaya produksi bertambah. Dunia usaha mulai menghitung ulang pengeluarannya. Masyarakat pun bertanya-tanya mengapa gejolak nilai tukar bisa terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di tengah situasi seperti itu, satu pertanyaan sering muncul: Mengapa Indonesia masih sangat bergantung pada barang impor? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar soal membeli barang dari luar negeri.

Karena yang dipertaruhkan bukan hanya perdagangan internasional. Melainkan juga cara sebuah negara membangun industrinya selama puluhan tahun.

Baca Juga: Mengapa Negara Kini Berlomba Menjual Produk, Bukan Lagi Sekadar Bahan Baku?

Ketergantungan Itu Tidak Terjadi Dalam Semalam

Ketika mendengar kata impor, banyak orang langsung membayangkan barang-barang konsumsi yang datang dari luar negeri. Ponsel, pakaian, kendaraan, atau produk elektronik. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar impor Indonesia justru berupa bahan baku dan barang penolong yang digunakan oleh industri dalam negeri. Selama bertahun-tahun, kelompok ini menjadi porsi terbesar impor Indonesia. 

Artinya, banyak pabrik di Indonesia masih membutuhkan bahan, komponen, mesin, atau teknologi yang berasal dari luar negeri untuk menghasilkan produk yang kemudian dijual kembali kepada masyarakat.

Di sisi lain, Databoks mencatat data perdagangan Indonesia juga menunjukkan bahwa mesin, peralatan transportasi, bahan bakar, bahan kimia, serta berbagai barang manufaktur masih mendominasi daftar impor nasional. Kondisi ini tidak muncul dalam semalam.

Selama beberapa dekade, Indonesia tumbuh sebagai salah satu pemasok komoditas penting dunia. Batu bara, kelapa sawit, karet, nikel, hingga berbagai hasil tambang lainnya menjadi sumber devisa yang besar.

Namun, pada saat yang sama, kemampuan untuk mengolah sebagian besar sumber daya tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi berkembang lebih lambat dibanding kebutuhan industri yang terus meningkat.

Akibatnya, banyak sektor masih membutuhkan pasokan dari luar negeri. Ketika rupiah melemah, biaya impor ikut naik. Dan karena impor tersebut digunakan dalam rantai produksi nasional, dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi.

Baca Juga: Seringkah Kita Mengulang Penjelasan yang Sama kepada Orang Berbeda?

Yang Dipertaruhkan Bukan Sekadar Nilai Tukar Rupiah

Di berbagai negara, diskusi tentang impor sebenarnya bukan semata-mata soal perdagangan. Yang lebih sering dibahas adalah kapasitas produksi. Apakah sebuah negara mampu menghasilkan barang yang dibutuhkannya sendiri? Apakah industri dalam negerinya cukup kuat untuk menciptakan nilai tambah? Apakah sumber daya alam yang dimiliki benar-benar diolah hingga menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat banyak negara kini berlomba melakukan hilirisasi dan memperkuat industri domestiknya.

Dilansir dari The Guardian, Ekonom peraih Nobel Joseph Stiglitz berulang kali menekankan pentingnya investasi pada teknologi, pendidikan, infrastruktur, dan kapasitas produksi untuk menciptakan ekonomi yang lebih produktif dan tahan terhadap guncangan. 

Pandangan serupa juga sering disampaikan oleh Dani Rodrik yang menilai bahwa kemampuan membangun sektor industri dan menciptakan nilai tambah merupakan bagian penting dari perjalanan negara-negara menuju ekonomi yang lebih maju.

Dalam konteks Indonesia, persoalannya bukan bagaimana menghapus impor sepenuhnya. Tidak ada negara modern yang hidup tanpa impor. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana memperbesar kemampuan memproduksi lebih banyak kebutuhan di dalam negeri, terutama pada sektor-sektor yang strategis.

Karena selama ketergantungan terhadap bahan baku, komponen, atau teknologi impor masih tinggi, setiap gejolak nilai tukar akan terus terasa hingga ke tingkat masyarakat. Rupiah yang melemah memang sering menjadi sorotan. Namun sesungguhnya, yang sedang diuji bukan hanya kekuatan mata uang. Yang sedang diuji adalah seberapa kuat fondasi produksi sebuah negara.

Dan pertanyaan yang lebih penting untuk masa depan Indonesia adalah: bukan sekadar berapa nilai rupiah terhadap dolar hari ini, melainkan seberapa banyak kebutuhan bangsa ini yang suatu hari nanti dapat dihasilkan oleh tangannya sendiri. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.