Oleh Liora Maheswari
Beberapa waktu terakhir, saya cukup sering melihat perdebatan tentang generasi di media sosial.
Ada yang bilang generasi sekarang terlalu sensitif, ada yang menganggap generasi sebelumnya terlalu keras, dan ada pula yang merasa zamannya adalah zaman yang paling sulit dibanding zaman-zaman lain.
Perdebatan seperti itu selalu menarik untuk diamati. Tapi setiap kali membacanya, saya justru teringat bahwa hampir setiap generasi tampaknya pernah mengatakan hal yang sama. Orangtua merasa anak-anaknya berbeda. Anak-anak merasa orangtuanya tidak memahami dunia yang sedang mereka hadapi. Siklus itu terus berulang dari satu masa ke masa berikutnya.
Karena itulah saya sering bertanya-tanya, ketika puluhan tahun berlalu dan generasi kita hanya tinggal cerita, apa yang sebenarnya akan diingat orang tentang kita?
Pertanyaan itu terasa sederhana. Tapi semakin dipikirkan, semakin sulit pula menemukan jawabannya.
Baca Juga: Budaya yang Masih Dipikul Anak Muda
Setiap Generasi Merasa Hidup di Masa yang Istimewa
Kita sering melihat generasi melalui hal-hal yang paling mudah terlihat. Ada generasi yang dikenal dekat dengan radio, ada yang tumbuh bersama televisi, ada yang akrab dengan internet, dan ada yang tidak pernah benar-benar jauh dari telepon pintar sejak kecil.
Perubahan teknologi memang membuat setiap generasi memiliki pengalaman yang berbeda. Cara belajar berubah, cara bekerja berubah, bahkan cara berkenalan dan berteman juga ikut berubah. Tidak mengherankan jika banyak orang merasa generasinya hidup dalam keadaan yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya.
Tapi saat melihat ke belakang, saya merasa sejarah ternyata tidak terlalu sibuk mengingat hal-hal seperti itu. Kita jarang membicarakan jenis alat komunikasi yang digunakan kakek-nenek kita ketika mereka masih muda. Kita juga tidak terlalu sering membahas hiburan apa yang paling populer pada masa mereka. Yang lebih sering diceritakan justru bagaimana mereka menjalani hidupnya.
Kita mengingat cerita tentang orang-orang yang bertahan melewati masa perang. Kita mendengar kisah tentang keluarga yang membangun kehidupan dari keadaan yang sangat sederhana. Kita mengenal cerita tentang orang-orang yang bekerja keras agar anak-anaknya memiliki kesempatan yang lebih baik daripada yang mereka miliki.
Dari situ saya mulai merasa bahwa yang membuat sebuah generasi dikenang mungkin bukan segala sesuatu yang mereka gunakan. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka menghadapi zamannya sendiri.
Karena setiap generasi selalu memiliki tantangannya masing-masing. Bentuknya mungkin berbeda, tetapi kebutuhan untuk menjawab tantangan itu selalu ada.
Baca Juga: Dulu Kita Mencari Informasi, Sekarang Informasi yang Mencari Kita
Mungkin yang Dikenang adalah Cara Kita Menjalani Zaman
Generasi kita hidup pada masa yang cukup unik. Kita menyaksikan perubahan teknologi yang sangat cepat. Informasi bergerak dalam hitungan detik. Banyak hal yang dahulu dianggap mustahil kini terasa biasa saja.
Tapi saya tidak yakin anak cucu kita nanti akan terlalu tertarik pada aplikasi apa yang paling sering kita gunakan atau perangkat apa yang paling canggih pada masa ini. Teknologi akan terus berubah. Sesuatu yang hari ini terasa revolusioner bisa jadi terlihat biasa beberapa puluh tahun dari sekarang.
Yang mungkin lebih menarik bagi mereka adalah bagaimana kita menggunakan semua perubahan itu.
Apakah kita menjadi generasi yang semakin sulit mendengarkan satu sama lain, atau justru semakin terbuka terhadap perbedaan? Apakah kita menjadi generasi yang hanya sibuk mengejar perhatian, atau tetap mampu membangun sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain? Apakah kita menjadi generasi yang mudah menyerah ketika keadaan memburuk, atau tetap berusaha mencari jalan keluar ketika menghadapi kesulitan?
Saya tidak tahu apa jawaban dari semua pertanyaan itu. Mungkin tidak ada satu jawaban yang bisa mewakili jutaan orang yang hidup dalam generasi yang sama. Tapi saya percaya ada sesuatu yang selalu bertahan lebih lama daripada tren dan teknologi. Sesuatu itu adalah cara manusia memperlakukan sesamanya.
Karena ketika kita mengenang orang-orang yang hidup sebelum kita, yang sering tertinggal dalam ingatan bukanlah benda-benda yang mereka miliki. Yang lebih sering diceritakan adalah kebaikan mereka, keberanian mereka, ketekunan mereka, atau cara mereka membantu orang lain di masa-masa sulit. Mungkin hal yang sama juga berlaku untuk sebuah generasi.
Ketika waktu terus berjalan dan berbagai hal yang hari ini terasa penting perlahan memudar, yang akan tetap tinggal barangkali bukan kegaduhan yang pernah memenuhi ruang publik. Yang akan tersisa adalah cerita tentang bagaimana generasi ini memilih menjalani hidupnya.
Dan jika suatu hari nanti generasi kita benar-benar dikenang, saya berharap bukan karena teknologi yang kita gunakan atau tren yang kita ikuti. Saya berharap generasi ini diingat karena tetap berusaha menjadi manusia yang baik di tengah dunia yang bergerak jauh lebih cepat daripada sebelumnya. []