Oleh Rudi Tenggarawan
Ada masa ketika mendapatkan informasi membutuhkan usaha. Tapi itu dulu.
Orang harus membeli koran, menunggu siaran berita, pergi ke perpustakaan, membuka ensiklopedia, atau bertanya kepada seseorang yang dianggap lebih tahu. Informasi berada di suatu tempat, dan manusialah yang bergerak untuk mencarinya. Semakin penting informasi itu, semakin besar pula usaha yang harus dilakukan untuk mendapatkannya.
Hari ini, hubungan itu terasa hampir terbalik sepenuhnya.
Sebelum seseorang sempat bertanya, layar ponselnya sudah dipenuhi berbagai jawaban. Sebelum seseorang memutuskan ingin mengetahui sesuatu, algoritma sudah lebih dulu menawarkan video, berita, opini, rekomendasi, dan berbagai bentuk informasi lainnya. Bahkan sering kali kita tidak benar-benar mencari apa pun, tetapi tetap menghabiskan waktu berjam-jam mengonsumsi informasi.
Perubahan ini terjadi begitu perlahan hingga nyaris tidak terasa. Namun jika dipikirkan lebih jauh, ia mungkin telah mengubah salah satu kebiasaan paling mendasar dalam kehidupan manusia modern: cara kita menemukan pengetahuan.
Dulu tantangannya adalah kekurangan informasi. Hari ini tantangannya justru sebaliknya. Kita hidup dalam dunia yang tidak pernah berhenti berbicara.
Baca Juga: Dunia Terasa Semakin Buruk, Atau Kita Terlalu Sering Membaca Kabar Buruk?
Ketika Perhatian Menjadi Komoditas
Internet sering dipuji sebagai teknologi yang mendemokratisasi informasi. Dalam banyak hal, pujian itu memang layak diberikan. Pengetahuan yang dulu hanya tersedia di perpustakaan atau kampus kini bisa diakses dari layar ponsel dalam hitungan detik. Banyak batas yang dulu menghalangi seseorang untuk belajar kini semakin tipis. Namun, setiap perubahan besar biasanya membawa konsekuensi yang tidak selalu langsung terlihat.
Dalam ekonomi digital hari ini, yang paling berharga bukan lagi informasi. Informasi tersedia dalam jumlah yang hampir tidak terbatas. Yang semakin langka justru perhatian manusia.
Herbert Simon, peraih Nobel Ekonomi, pernah mengingatkan bahwa kelimpahan informasi akan menciptakan kelangkaan perhatian. Kalimat itu diucapkan puluhan tahun sebelum media sosial mendominasi kehidupan manusia. Namun semakin hari, peringatan tersebut terasa semakin relevan.
Laporan DataReportal 2025 menunjukkan rata-rata pengguna internet global menghabiskan lebih dari enam jam setiap hari di dunia digital. Dalam waktu tersebut, mereka berpindah dari media sosial ke aplikasi pesan, dari video ke berita, dari notifikasi ke notifikasi berikutnya. Tidak pernah dalam sejarah manusia perhatian menjadi komoditas yang diperebutkan sedemikian sengit.
Perusahaan teknologi memahami hal itu dengan sangat baik. Platform digital tidak hanya bersaing menyediakan informasi. Mereka bersaing memperebutkan waktu dan perhatian manusia. Semakin lama seseorang bertahan di dalam sebuah aplikasi, semakin besar nilai ekonomi yang dapat dihasilkan.
Akibatnya, berbagai sistem rekomendasi dirancang untuk terus menjaga perhatian tetap berada di dalam ekosistem mereka. Video berikutnya dipilihkan. Berita berikutnya direkomendasikan. Konten berikutnya muncul bahkan sebelum kita sempat memintanya.
Secara perlahan, manusia tidak lagi berjalan menuju informasi. Informasi yang mulai berjalan menuju manusia. Fenomena ini membuat kehidupan terasa lebih praktis. Banyak hal menjadi lebih mudah ditemukan. Banyak pengetahuan menjadi lebih cepat diakses. Namun kemudahan selalu datang bersama pertanyaan baru.
Jika informasi datang kepada kita tanpa diminta, siapa yang menentukan informasi mana yang tiba lebih dulu?
Baca Juga: Kita Kebanjiran Konten, dan Kehilangan Ruang Redaksi
Apakah Kita Masih Memilih Apa yang Kita Ketahui?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun dampaknya sangat besar.
Setiap orang hari ini memiliki beranda digital yang berbeda. Dua orang yang tinggal di kota yang sama, memiliki pekerjaan yang sama, bahkan berteman satu sama lain, bisa melihat dunia yang sangat berbeda melalui layar ponselnya. Algoritma mempelajari minat, kebiasaan, ketakutan, dan preferensi masing-masing pengguna. Dari situ, ia menyusun versi realitas yang dianggap paling relevan bagi setiap individu.
Akibatnya, informasi tidak lagi hadir sebagai ruang bersama seperti ketika jutaan orang membaca koran yang sama atau menonton siaran berita yang sama. Informasi semakin bersifat personal.
Di satu sisi, personalisasi membuat pengalaman pengguna menjadi lebih nyaman. Kita tidak perlu membuang waktu menyaring terlalu banyak hal yang tidak relevan. Namun di sisi lain, personalisasi juga menciptakan risiko yang tidak kecil. Kita semakin sering melihat hal-hal yang sesuai dengan keyakinan kita sendiri, dan semakin jarang bertemu dengan perspektif yang berbeda.
Fenomena ini sering disebut sebagai filter bubble atau gelembung informasi. Tanpa disadari, seseorang bisa hidup di dalam lingkungan digital yang terus mengonfirmasi apa yang sudah ia percayai sebelumnya. Semakin lama berada di dalamnya, semakin mudah muncul perasaan bahwa pandangan kita adalah satu-satunya pandangan yang masuk akal.
Yang menarik, keadaan ini tidak selalu terjadi karena niat buruk. Tidak ada seseorang yang secara khusus duduk di balik layar lalu memilihkan informasi untuk setiap individu. Sebagian besar proses tersebut dilakukan oleh sistem otomatis yang tujuan utamanya adalah mempertahankan perhatian pengguna.
Namun, hasil akhirnya tetap sama. Kita semakin sering mengonsumsi informasi yang dipilihkan untuk kita.
Mungkin karena itulah banyak orang merasa kelelahan secara mental meskipun tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat. Setiap hari, otak menerima begitu banyak informasi, opini, perdebatan, notifikasi, dan rangsangan yang datang tanpa henti. Tidak semuanya penting. Tidak semuanya relevan. Namun semuanya meminta perhatian.
Dalam situasi seperti itu, kemampuan yang paling berharga bukan lagi menemukan informasi. Teknologi sudah membuat hal tersebut menjadi relatif mudah. Kemampuan yang semakin penting justru kemampuan untuk memilih.
Memilih apa yang layak dibaca. Memilih apa yang layak dipercaya. Memilih apa yang layak mengisi ruang perhatian kita. Memilih kapan harus berhenti menerima informasi baru dan mulai memikirkan informasi yang sudah ada.
Boleh jadi inilah tantangan besar manusia modern yang jarang dibicarakan. Kita sering mengira hidup di era informasi berarti hidup di era pengetahuan. Padahal keduanya tidak selalu sama.
Informasi dapat datang dalam jumlah yang tidak terbatas. Pengetahuan membutuhkan waktu untuk dipahami. Informasi bisa memenuhi layar dalam hitungan detik. Kebijaksanaan sering membutuhkan refleksi yang jauh lebih panjang.
Dulu, manusia khawatir tidak menemukan informasi yang mereka butuhkan. Hari ini, tantangannya mungkin lebih rumit. Kita perlu memastikan bahwa di tengah begitu banyak informasi yang terus mencari kita, masih ada ruang untuk berpikir, mempertanyakan, dan memilih sendiri apa yang benar-benar layak diketahui.
Sebab ketika informasi mulai mencari manusia, kebebasan yang paling penting bukan lagi kebebasan untuk mengakses informasi. Kebebasan yang semakin berharga adalah kemampuan untuk menentukan informasi mana yang pantas mendapat perhatian kita. []Bandung, 07 Juni 2026