Oleh Liora Maheswari
Pagi, jalanan di Buniwangi dipenuhi suara tabuhan yang pelan-pelan mendekat.
Udara Bandung Barat terasa dingin seperti biasa. Orang-orang mulai keluar dari rumah, berdiri di pinggir jalan, lalu menunggu iring-iringan pengantin lewat dengan wajah yang terlihat akrab satu sama lain. Tidak ada panggung besar, tidak ada lampu pertunjukan berlebihan, tetapi suasananya terasa hidup dengan cara yang sulit dijelaskan.
Di depan iring-iringan, lengser berjalan perlahan sambil membuka jalan dengan gerakan yang sudah diwariskan sangat lama. Setelah itu, datang sisingaan yang dipikul ramai-ramai oleh anak-anak muda. Mereka mengangkat tandu singa yang ditunggangi kedua mempelai sambil menari, berputar, meloncat kecil mengikuti irama musik yang terus bergerak di sepanjang jalan kampung.
Pemandangan itu terasa menarik justru karena tubuh-tubuh muda yang memikulnya.
Belakangan ini, terlalu banyak orang bicara tentang generasi muda seolah mereka hidup sepenuhnya jauh dari budaya lokal. Anak muda dianggap lebih dekat dengan layar, lebih hafal tren media sosial dibanding tradisi kampungnya sendiri, dan perlahan kehilangan hubungan dengan akar budaya tempat mereka lahir.
Namun pagi itu, anggapan seperti itu terasa sedikit goyah.
Anak-anak muda yang memikul sisingaan itu mungkin juga pengguna media sosial. Mereka mungkin pulang sambil membuka TikTok, mendengarkan musik digital, atau membuat konten di telepon genggam mereka. Namun di tengah semua itu, tubuh mereka masih hafal cara menjaga tandu tetap seimbang sambil bergerak mengikuti ritme budaya yang jauh lebih tua dari usia mereka sendiri.
Saya tersentuh. Budaya ternyata tidak selalu mati hanya karena dunia berubah modern. Kadang ia hanya berpindah cara hidup. Ia tetap bergerak, tetapi tidak selalu muncul di tempat-tempat yang ramai dibicarakan orang kota.
Baca Juga: Antek Asing vs Rezim Koruptor, Kapan Kita Berhenti Saling Melabeli?
Kampung yang Masih Menyimpan Napas Budaya
Ada sesuatu yang sering luput ketika orang membicarakan seni dan budaya hari ini. Banyak perhatian terlalu fokus pada festival besar, pertunjukan resmi, atau acara kebudayaan yang dipentaskan dengan tata cahaya megah. Padahal banyak budaya justru masih hidup diam-diam di kampung-kampung.
Ia hidup di hajatan, di khitanan, di pernikahan, di syukuran kecil, dan di jalan-jalan sempit yang masih dipenuhi suara tabuhan tradisional. Budaya di sana tidak selalu dipentaskan demi dokumentasi atau konten media sosial. Ia hidup karena masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Sisingaan pagi itu terasa seperti contoh kecil dari keadaan tersebut. Yang memikulnya bukan orang-orang tua yang sedang mengenang masa lalu. Yang bergerak justru anak-anak muda dengan tenaga yang penuh dan tubuh yang masih ringan mengikuti irama.
Mungkin mereka tidak akan menjelaskan semuanya dengan bahasa akademik tentang pelestarian budaya. Mereka mungkin juga tidak terlalu memikirkan istilah identitas kultural atau warisan tradisi. Namun tubuh mereka tetap datang, tetap memikul, tetap bergerak bersama musik yang diwariskan turun-temurun.
Dan mungkin budaya memang bertahan dengan cara seperti itu. Tidak selalu lewat seminar atau slogan besar tentang pelestarian. Kadang budaya hidup hanya karena masih ada orang yang mau memainkan tubuhnya untuk menjaga ritmenya tetap bergerak.
Kampung sering dianggap tertinggal dibanding kota. Namun di banyak tempat, justru kampung yang masih menyimpan hubungan paling alami dengan kebudayaan. Di kota, budaya sering berubah menjadi pertunjukan atau simbol identitas visual. Sementara di kampung, budaya masih menjadi bagian dari cara orang berkumpul dan merayakan hidup bersama.
Hal seperti itu terasa semakin langka hari ini. Dunia modern membuat manusia semakin individual, semakin sibuk, dan semakin terpisah dari ruang komunal. Namun di acara-acara seperti itu, masih ada orang yang berkumpul bukan karena algoritma mempertemukan mereka, melainkan karena hubungan sosial yang benar-benar hidup.
Baca Juga: Benarkah Indonesia Rendah Literasi?
Anak Muda yang Masih Mau Memikulnya
Ada alasan mengapa pemandangan itu terasa cukup emosional. Karena diam-diam banyak orang sebenarnya takut budaya lokal kehilangan pewarisnya. Ketika generasi muda semakin dekat dengan dunia digital, muncul kekhawatiran bahwa tradisi hanya akan tinggal menjadi dokumentasi masa lalu.
Namun, pagi itu memperlihatkan kemungkinan lain. Anak muda ternyata tidak sepenuhnya meninggalkan budaya. Mereka hanya tumbuh dalam dunia yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Mereka bisa hidup di dua dunia sekaligus. Di satu sisi dekat dengan teknologi global, tetapi di sisi lain masih mengenali suara kendang dan gerakan sisingaan. Mereka mungkin tidak selalu mengekspresikan budaya dengan cara lama, tetapi bukan berarti hubungan itu benar-benar hilang.
Mungkin karena itu, budaya tidak selalu membutuhkan romantisasi berlebihan untuk tetap hidup. Ia hanya membutuhkan tubuh yang masih mau memainkannya. Selama masih ada yang menabuh, menari, memikul, dan berkumpul bersama, budaya sebenarnya masih bernapas.
Pemandangan di Buniwangi pagi itu terasa sederhana. Tidak ada pidato besar tentang identitas budaya. Tidak ada kampanye resmi tentang pelestarian tradisi. Namun justru dalam kesederhanaan itu, ada sesuatu yang terasa sangat utuh.
Anak-anak muda itu memikul sisingaan sambil tertawa, berkeringat, dan bergerak mengikuti irama musik yang memenuhi jalan kampung. Tidak terlihat seperti generasi yang sepenuhnya tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Mungkin memang budaya tidak benar-benar hilang. Ia hanya lebih diam di kota, lalu masih bernapas pelan di kampung-kampung, lewat tubuh-tubuh muda yang masih mau memikulnya pulang ke masa depan. []