Dalam beberapa hari terakhir, linimasa media sosial kembali dipenuhi potongan video berdurasi singkat yang langsung memicu reaksi besar. Seorang figur publik, dalam sebuah acara terbuka, mengeluarkan pernyataan yang dianggap kontroversial. Tanpa menunggu penjelasan utuh, potongan tersebut menyebar cepat, diikuti gelombang komentar, penilaian, dan penghakiman.
Saya melihat pola ini berulang. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, dengan aktor yang berbeda dan konteks yang sering tidak lengkap. Yang berubah hanya wajahnya, tapi cara kita merespons tetap sama: cepat, tegas, dan jarang memberi ruang untuk memahami.
Dalam hitungan jam, seseorang bisa berubah dari tidak dikenal menjadi pusat perhatian, lalu menjadi objek penilaian massal. Komentar datang dari berbagai arah, sering dengan nada pasti, seolah semua konteks sudah jelas. Padahal, yang kita lihat sering hanya sebagian kecil dari keseluruhan cerita.
Yang menarik, kecepatan ini terasa seperti hal yang wajar. Kita tidak lagi merasa perlu menunggu. Ketika sesuatu terlihat, kita langsung bereaksi. Ketika ada celah untuk menilai, kita langsung mengisinya.
Baca Juga: Loneliness Epidemic: Kita Tidak Sendiri, Tapi Kenapa Tetap Merasa Sendiri?
Ketika Potongan Cerita Terasa Cukup
Media sosial bekerja dengan potongan. Video singkat, kutipan kalimat, atau tangkapan layar sering menjadi sumber utama informasi. Dalam format seperti ini, konteks mudah terlepas, tapi kesan tetap terbentuk.
Saya melihat banyak orang merasa sudah cukup tahu hanya dari satu potongan. Reaksi muncul bukan karena seluruh cerita dipahami, tetapi karena sebagian kecilnya sudah cukup untuk memicu emosi. Dari sini, penilaian terasa sah, meskipun belum tentu lengkap.
Fenomena ini pernah dibahas oleh psikolog Daniel Kahneman dalam konsep fast thinking, yaitu ketika manusia cenderung mengambil kesimpulan cepat berdasarkan informasi terbatas. Dalam dunia digital yang serba cepat, kecenderungan ini tidak hanya muncul, tetapi juga diperkuat.
Masalahnya, ketika semua orang bereaksi dalam waktu yang hampir bersamaan, ruang untuk memperlambat menjadi semakin sempit. Siapa yang berhenti untuk memahami sering terlihat seperti terlambat, bahkan dianggap tidak peduli.
Dari sini, kecepatan menjadi nilai. Bukan lagi ketepatan, bukan juga kedalaman.
Baca Juga: Semakin Kita Mengenal Diri, Kenapa Rasanya Semakin Tidak Pasti?
Menghakimi Memberi Rasa Pasti
Ada sesuatu yang membuat penghakiman terasa memuaskan. Ketika kita memberi label pada seseorang atau sebuah peristiwa, ada rasa bahwa kita memahami situasinya. Rasa tidak pasti berubah menjadi kesimpulan yang terasa jelas.
Saya melihat ini sebagai kebutuhan yang sangat manusiawi. Di tengah banyaknya informasi yang tidak utuh, kita mencari cara untuk merasa mengerti. Menghakimi menjadi jalan pintas untuk mencapai rasa itu.
Sosiolog Zygmunt Bauman menggambarkan bagaimana kehidupan modern penuh dengan ketidakpastian, dan manusia terus mencari bentuk kepastian, meskipun bersifat sementara. Dalam konteks ini, penilaian cepat menjadi salah satu bentuknya.
Namun, kepastian yang terlalu cepat sering datang dengan harga. Kita kehilangan kesempatan untuk melihat lebih dalam, mendengar lebih lengkap, dan memahami lebih utuh. Apa yang kita anggap sebagai kebenaran, bisa jadi hanya bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar.
Baca Juga: Kasus Bank Terulang: Masalah di Orangnya?
Lambat Memahami, Karena Tidak Lagi Dibiasakan
Jika kita melihat lebih jauh, masalahnya bukan hanya pada kecepatan menghakimi. Tapi pada semakin jarangnya kita melatih diri untuk memahami. Proses memahami membutuhkan waktu, kesabaran, dan keinginan untuk melihat dari lebih dari satu sisi.
Dalam ritme media sosial hari ini, hal-hal seperti itu terasa berat. Kita terbiasa dengan alur cepat, respons instan, dan informasi yang langsung bisa diproses. Dari sini, memahami bukan hanya jarang dilakukan, tapi juga tidak lagi terasa perlu.
Saya tidak melihat ini sebagai kesalahan individu semata. Ini adalah pola yang terbentuk dari sistem yang kita gunakan setiap hari. Ketika semua dirancang untuk cepat, wajar jika kita juga menjadi cepat.
Namun di titik ini, mungkin kita perlu bertanya ulang. Apakah semua hal memang perlu dinilai secepat itu. Dan apakah setiap potongan yang kita lihat sudah cukup untuk kita jadikan kesimpulan.
Karena bisa jadi, yang kita lewatkan bukan hanya konteks. Tapi juga kesempatan untuk melihat sesuatu dengan lebih utuh.

Eva Evilia/KK