Beberapa waktu terakhir, pemberitaan tentang kesehatan mental kembali sering muncul. Kompas.com menulis tentang kasus mahasiswa yang mengalami tekanan akademik hingga berujung pada kondisi mental yang berat. 

BBC Indonesia juga mengangkat meningkatnya kecemasan dan burnout di kalangan anak muda. Sementara Tirto.id membahas fenomena self-diagnosis yang makin marak di media sosial. Dari luar, ini terlihat seperti meningkatnya kesadaran. Tapi di dalamnya, ada sesuatu yang tidak sesederhana itu.

Ada kesan bahwa generasi sekarang lebih mengenal dirinya sendiri. Istilah seperti anxiety, trauma, burnout, dan overthinking jadi semakin familiar. Banyak orang mulai mencoba memahami apa yang mereka rasakan, bahkan berusaha memberi nama pada setiap emosi yang muncul.

Namun di titik tertentu, menurut hemat saya, upaya ini tak selalu membawa kejelasan. Sebaliknya, semakin banyak yang dipahami, semakin muncul pertanyaan baru yang tidak selalu punya jawaban.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh di tengah arus informasi yang begitu cepat, ketika penjelasan tentang diri bisa ditemukan di mana saja. Dari artikel, video pendek, hingga pengalaman orang lain yang terasa sangat relatable.

Baca Juga: Kasus Bank Terulang: Masalah di Orangnya?

Ketika Memahami Diri Menjadi Terlalu Banyak

Dalam pemberitaan BBC Indonesia tentang burnout, disebutkan bahwa banyak anak muda merasa lelah bukan hanya karena aktivitas, tetapi karena tekanan untuk terus memahami dan memperbaiki diri. Mereka tidak hanya dituntut untuk menjalani hidup, tetapi juga untuk terus mengevaluasi apa yang mereka rasakan.

Di sisi lain, Tirto.id pernah mengangkat fenomena self-diagnosis yang semakin umum. Banyak orang merasa dirinya memiliki kondisi tertentu setelah melihat potongan informasi di media sosial. ADHD, misalnya. Atau Bipolar. Tanpa disadari, label-label ini mulai menempel, bahkan sebelum benar-benar dipahami secara utuh.

Carl Jung pernah mengatakan, “Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate.” Pernyataan ini sering digunakan untuk mendorong kesadaran diri. Namun dalam praktiknya, proses membuat yang tidak sadar menjadi sadar tidak selalu sederhana.

Ketika terlalu banyak hal dibawa ke permukaan tanpa struktur yang jelas, yang muncul bukan selalu pemahaman. Kadang justru kebingungan.

Baca Juga: Ikan Sapu-Sapu Semakin Banyak Bersarang, Tapi Kenapa Kita Baru Bergerak Sekarang?

Antara Menemukan dan Kehilangan Pegangan

Kompas.com dalam beberapa liputannya menunjukkan bahwa banyak kasus tekanan mental terjadi pada individu yang secara kasat mata terlihat ‘baik-baik saja’. Mereka menjalani rutinitas, memiliki arah, bahkan dianggap mampu.

Namun di balik itu, ada proses internal yang tidak terlihat. Proses ketika seseorang mencoba memahami dirinya sendiri, tapi tidak menemukan titik yang benar-benar bisa dipegang.

Psikolog Carl Rogers dalam On Becoming a Person menjelaskan bahwa individu sering hidup berdasarkan kondisi yang membuat mereka diterima, bukan berdasarkan pemahaman diri yang otentik. Ketika proses mengenal diri dimulai, banyak hal yang selama ini dianggap pasti justru mulai dipertanyakan.

Di sinilah muncul ketidakpastian. Bukan karena seseorang tidak mengenal dirinya, tetapi karena ia mulai melihat terlalu banyak kemungkinan tentang siapa dirinya.

Ketika satu label terasa tidak cukup, label lain dicoba. Ketika satu penjelasan tidak menjawab, penjelasan lain dicari. Dari sini, proses mengenal diri berubah menjadi proses yang tidak pernah selesai.

Baca Juga: Dari FH UI ke ITB, lalu ke Unpad, Kita Sedang Membaca Fakta, atau Menyusun Cerita?

Kita Tidak Selalu Siap Mengenal Diri Sendiri

Ada asumsi bahwa semakin kita mengenal diri, semakin kita akan merasa tenang. Padahal, dalam banyak kasus, yang terjadi justru sebaliknya.

Mengenal diri berarti membuka hal-hal yang selama ini tidak terlihat. Ia tidak hanya berisi jawaban, tetapi juga pertanyaan yang mungkin belum pernah muncul sebelumnya.

Dalam konteks ini, ketidakpastian bukan tanda kegagalan. Ia bisa jadi adalah bagian dari proses yang memang tidak linear.

Masalahnya, kita sering tidak diberi ruang untuk berada dalam ketidakpastian itu. Ada dorongan untuk segera menemukan jawaban, segera memahami, dan segera merasa ‘selesai’.

Saya tidak yakin semua hal tentang diri perlu segera disimpulkan. Mungkin yang membuat semuanya terasa semakin tidak pasti bukan karena kita salah dalam mencoba memahami diri. Tapi karena kita terlalu cepat ingin menemukan kepastian dari sesuatu yang memang belum selesai.

Di tengah banyaknya penjelasan tentang siapa kita, mungkin yang perlu dijaga bukan hanya keinginan untuk memahami. Tapi juga kemampuan untuk tetap berada di ruang yang belum sepenuhnya jelas.

Karena bisa jadi, di situlah proses mengenal diri benar-benar sedang berlangsung. []


Vikalena Lasmoskwa/KK