Oleh Vikalena Lasmoskwa

Ada satu pertanyaan yang belakangan ini sering datang kepada saya, meski tidak pernah diucapkan secara langsung. 

Pertanyaan itu muncul setiap kali melihat seseorang yang dulu lantang mengkritik, tetapi kemudian menjadi jauh lebih hati-hati setelah memperoleh jabatan, proyek, kontrak, atau penghasilan dari pihak yang dahulu sering ia soroti. Sebagian orang menyebutnya munafik. Sebagian lagi menganggapnya sebagai bentuk kedewasaan. Ada pula yang buru-buru menuduh bahwa uang telah membeli suara seseorang.

Namun, benarkah manusia berubah sesederhana itu?

Saya justru merasa persoalannya jauh lebih rumit. Tidak semua perubahan lahir karena seseorang kehilangan integritas. Kadang-kadang, perubahan itu berawal dari sesuatu yang sangat manusiawi, yaitu munculnya rasa takut kehilangan apa yang selama ini menopang hidupnya.

Kita sering membayangkan keberanian sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Seolah-olah seseorang tinggal memilih untuk berani atau tidak berani. Padahal dalam kehidupan nyata, keberanian hampir selalu berhadapan dengan sesuatu yang harus dipertaruhkan. Semakin besar yang dipertaruhkan, semakin berat pula keputusan untuk tetap bersuara.

Barangkali karena itulah saya mulai bertanya, masih bisakah kita tetap kritis kepada tangan yang menghidupi kita?

Pertanyaan ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang bekerja di lingkungan pemerintahan atau menerima pembiayaan dari negara. Pertanyaan yang sama juga bisa ditujukan kepada karyawan sebuah perusahaan, dosen di sebuah universitas, konsultan, jurnalis, peneliti, bahkan siapa pun yang kehidupannya bergantung pada sebuah institusi. Ketika penghasilan datang dari satu tempat, ruang untuk berbeda pendapat sering kali menjadi lebih sempit, meskipun tidak ada satu pun larangan yang benar-benar diucapkan.

Yang bekerja bukan selalu tekanan dari luar. Seringkali, tekanan itu tumbuh dari dalam diri kita sendiri.

Baca Juga: Yang Hilang dari Kita Mungkin Bukan Kepedulian, Melainkan Kepekaan. Benarkah? 

Ketergantungan Tidak Selalu Mengubah Keyakinan, tetapi Dapat Mengubah Keberanian

Ada perbedaan yang sangat tipis antara kehilangan keyakinan dan kehilangan keberanian. Orang sering mengira keduanya adalah hal yang sama, padahal tidak selalu demikian.

Seseorang bisa saja tetap percaya bahwa sebuah kebijakan kurang tepat, tetap melihat adanya ketidakadilan, atau tetap menyadari adanya persoalan yang perlu dikritik. Namun ketika kritik itu berpotensi mengganggu sumber penghidupannya, muncul pertanyaan baru yang jauh lebih personal. Apakah saya siap menerima konsekuensinya? Apakah keluarga saya juga harus menanggung risikonya? Apakah saya sedang memperjuangkan sesuatu yang sebanding dengan apa yang mungkin saya kehilangan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak terdengar heroik. Bahkan mungkin terasa biasa. Tetapi justru di situlah pergulatan batin manusia sering berlangsung.

Kita terlalu mudah membagi dunia menjadi dua kelompok. Mereka yang dianggap idealis dan mereka yang dianggap telah berubah. Padahal kehidupan tidak sesederhana itu. Di antara keduanya ada wilayah yang jauh lebih luas, tempat manusia berusaha menyeimbangkan nilai yang diyakininya dengan tanggung jawab terhadap kehidupan yang harus terus berjalan.

Saya pernah berpikir bahwa integritas selalu ditentukan oleh seberapa keras seseorang menyuarakan pendapatnya. Semakin berani mengkritik, semakin tinggi integritasnya. Hari ini saya tidak lagi seyakin itu.

Integritas ternyata bukan hanya soal keberanian berbicara. Ia juga tentang kesediaan untuk terus jujur kepada diri sendiri, bahkan ketika keadaan membuat kita tidak lagi leluasa mengatakan semuanya. Masalahnya, kejujuran kepada diri sendiri pun bisa memudar apabila terlalu lama dibungkam. Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk menyesuaikan diri. Sesuatu yang awalnya terasa mengganggu, lama-kelamaan dapat dianggap sebagai hal yang biasa.

Barangkali perubahan terbesar bukan terjadi ketika seseorang menerima penghasilan dari sebuah institusi. Perubahan terbesar justru terjadi ketika ia mulai meyakinkan dirinya sendiri bahwa diam adalah pilihan yang paling masuk akal, sampai akhirnya ia lupa bahwa dulu ia pernah berpikir berbeda.

Baca Juga: Mengapa Sekolah Lebih Sering Mengajarkan Jawaban daripada Pertanyaan?

Menjaga Jarak dengan Kepentingan, Menjaga Kedekatan dengan Nurani

Saya tidak percaya bahwa semua orang yang bekerja di dalam sebuah sistem otomatis kehilangan daya kritisnya. Dunia ini masih dipenuhi orang-orang yang tetap menjaga profesionalisme, tetap mampu memberi masukan, bahkan berani menyampaikan pendapat yang berbeda kepada institusinya sendiri. Justru karena mereka berada di dalam sistem, kritik yang mereka sampaikan sering kali jauh lebih berharga daripada suara yang datang dari luar.

Namun, saya juga percaya bahwa menjaga daya kritis membutuhkan latihan yang tidak ringan.

Latihan itu dimulai dari kesediaan untuk terus bertanya kepada diri sendiri. Apakah saya benar-benar setuju dengan keputusan ini, atau saya hanya sedang merasa lebih aman jika menyetujuinya? Apakah saya diam karena persoalannya memang sudah selesai, atau karena saya takut kehilangan sesuatu? Pertanyaan seperti ini mungkin tidak pernah diketahui orang lain, tetapi jawabannya akan menentukan arah hidup kita sendiri.

Keberanian ternyata bukan hanya soal berbicara di depan banyak orang. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi, yaitu kemampuan mempertahankan kejernihan berpikir ketika kepentingan mulai datang mendekat. Sebab kepentingan tidak selalu memaksa kita berubah. Ia lebih sering mengajak kita berkompromi sedikit demi sedikit, sampai suatu hari kita sulit mengenali batas antara keyakinan dan kenyamanan.

Mungkin karena itulah saya selalu merasa bahwa kebebasan berpikir adalah sesuatu yang harus dirawat, bukan sesuatu yang otomatis kita miliki. Ia perlu dijaga melalui kebiasaan membaca berbagai sudut pandang, berdialog dengan orang yang berbeda pendapat, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk mengatakan, "Saya mungkin keliru." Orang yang terus belajar biasanya lebih sulit dikuasai oleh satu cara pandang, karena ia sadar bahwa kebenaran tidak pernah menjadi milik satu pihak saja.

Well, hidup memang akan selalu mempertemukan kita dengan berbagai bentuk ketergantungan. Tidak ada manusia yang benar-benar hidup sendiri tanpa membutuhkan orang lain atau sebuah institusi. Namun, barangkali yang perlu terus kita jaga bukanlah agar hidup tanpa ketergantungan, melainkan agar ketergantungan itu tidak mengambil alih cara kita memandang benar dan salah.

Sebab dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang bekerja dengan baik. Dunia juga membutuhkan orang-orang yang tetap mampu berpikir jernih ketika kenyamanan mulai menguji keberanian mereka. Dan mungkin, ukuran paling sunyi dari integritas bukanlah seberapa keras kita mengkritik pihak yang tidak kita sukai, melainkan apakah kita masih berani bersikap jujur ketika yang sedang kita nilai adalah tangan yang ikut menghidupi kita. []

Bandung, 01 Agustus 2026