Oleh Vikalena Lasmoskwa

Kalau diminta mengingat masa sekolah, saya yakin banyak dari kita masih hafal suasana yang hampir selalu berulang. Guru berdiri di depan kelas, menjelaskan materi, lalu mengajukan pertanyaan kepada murid. Siapa yang mampu memberikan jawaban yang benar akan mendapat pujian atau nilai yang baik. Sebaliknya, jawaban yang salah seringkali disambut dengan koreksi, bahkan kadang membuat murid merasa malu.

Tanpa kita sadari, bertahun-tahun kita tumbuh dalam sistem yang sangat menghargai jawaban. Sejak sekolah dasar, kita belajar bahwa keberhasilan sering diukur dari seberapa banyak jawaban yang mampu kita berikan. Ujian pilihan ganda, ujian esai, hingga berbagai bentuk evaluasi hampir selalu menempatkan jawaban sebagai tujuan utama. Semakin tepat jawaban kita, semakin tinggi nilai yang diperoleh.

Namun belakangan saya mulai bertanya, mengapa sekolah lebih sering mengajarkan cara menjawab daripada cara bertanya?

Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika hari ini hampir semua jawaban dapat ditemukan hanya dalam hitungan detik. Mesin pencari mampu menyajikan jutaan informasi. Kecerdasan buatan dapat menjelaskan berbagai konsep, merangkum buku, bahkan membantu memecahkan persoalan yang rumit. Dunia tampaknya tidak lagi kekurangan jawaban. Yang justru mulai terasa langka adalah pertanyaan yang baik.

Baca Juga: Mengapa Sulit Pergi dari Hubungan yang Menyakiti? 

Kita Terbiasa Mencari Jawaban yang Benar

Sistem pendidikan tentu memiliki alasan mengapa selama ini lebih banyak berfokus pada jawaban. Jawaban lebih mudah diukur. Nilai dapat diberikan dengan jelas. Guru dapat mengetahui apakah seorang murid memahami materi atau belum.

Tidak ada yang keliru dengan itu. Masalahnya muncul ketika cara belajar tersebut menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Anak-anak perlahan belajar bahwa tujuan belajar adalah menemukan jawaban yang diharapkan. Mereka menjadi terbiasa bertanya, "Apa jawaban yang benar?" daripada "Mengapa hal ini bisa terjadi?"

Padahal dua pertanyaan itu membawa seseorang ke arah yang berbeda. Pertanyaan pertama mendorong kita mencari informasi. Pertanyaan kedua mendorong kita mencari pemahaman. Di situlah letak perbedaannya.

Jawaban seringkali mengakhiri percakapan. Dan pertanyaan yang baik justru membuka percakapan baru.

Baca Juga: Benarkah Kita Mengenal Tetangga Kita?

Banyak Penemuan Besar Berawal dari Pertanyaan

Sejarah ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa hampir semua lompatan besar lahir bukan karena seseorang memiliki jawaban lebih dulu, melainkan karena ia berani mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa.

Isaac Newton tidak memulai dengan rumus gravitasi. Ia memulai dengan rasa ingin tahu tentang mengapa buah jatuh ke bawah.

Albert Einstein tidak langsung menemukan teori relativitas. Ia memulai dengan membayangkan bagaimana jika seseorang dapat bergerak secepat cahaya.

Jauh sebelum itu, Socrates memilih mengajar bukan dengan memberikan ceramah panjang, melainkan dengan mengajukan pertanyaan demi pertanyaan kepada murid-muridnya. Ia percaya bahwa pemahaman yang lahir dari proses berpikir sendiri akan bertahan lebih lama daripada jawaban yang sekadar diterima begitu saja.

Albert Einstein bahkan pernah mengatakan, "The important thing is not to stop questioning." Yang terpenting adalah jangan pernah berhenti bertanya. Kalimat itu terasa semakin relevan hari ini.

Karena jika semua jawaban sudah tersedia di ujung jari kita, mungkin yang akan membedakan manusia bukan lagi seberapa banyak jawaban yang dihafalnya, melainkan seberapa baik ia mampu mengajukan pertanyaan.

Baca Juga: Daripada Bapak Marah... 

Barangkali Guru Juga Terjebak oleh Sistem

Saya tidak ingin tulisan ini dibaca sebagai kritik kepada guru. Sebagian besar guru justru bekerja di dalam sistem yang sudah lama dibangun seperti itu.

Kurikulum harus diselesaikan. Target pembelajaran harus tercapai. Ujian harus dilaksanakan. Nilai harus diberikan.

Dalam kondisi seperti itu, menghabiskan waktu tiga puluh menit hanya untuk membahas satu pertanyaan dari seorang murid seringkali terasa seperti kemewahan yang sulit dilakukan.

Akibatnya, kelas menjadi lebih sibuk mengejar materi daripada mengejar rasa ingin tahu.

Guru bertanya. Murid menjawab. Pelajaran selesai. Padahal mungkin justru saat seorang anak mulai banyak bertanya, proses belajar yang sesungguhnya baru dimulai.

Sayangnya, tidak semua ruang kelas memiliki cukup waktu untuk merawat rasa ingin tahu seperti itu.

Baca Juga: Apa yang Membuat Sebuah Generasi Diingat?

Dunia Kerja Mulai Mencari Hal yang Berbeda

Perubahan teknologi membuat persoalan ini menjadi semakin menarik. Dulu, orang yang mampu menghafal informasi lebih banyak memiliki keunggulan. Hari ini, hampir semua informasi dapat ditemukan dengan cepat.

Perusahaan-perusahaan besar mulai mencari orang yang mampu memecahkan masalah, bekerja sama, berpikir kritis, melihat hubungan antarberbagai persoalan, dan menemukan pertanyaan yang belum pernah diajukan orang lain.

Kemampuan-kemampuan itu tidak selalu lahir dari kebiasaan menghafal. Ia tumbuh dari keberanian untuk mempertanyakan sesuatu. Dari rasa penasaran. Dari kebiasaan melihat sebuah persoalan dari lebih dari satu sudut pandang.

Karena itu, pendidikan masa depan mungkin tidak lagi cukup jika hanya menghasilkan anak-anak yang pandai menjawab soal ujian. Dunia yang berubah sangat cepat membutuhkan orang-orang yang mampu mengajukan pertanyaan baru ketika jawaban lama tidak lagi memadai.

Baca Juga: Kita Sedang Lelah Karena Cemas Terus-Menerus 

Mungkin yang Perlu Kita Rawat Adalah Rasa Ingin Tahu

Saya membayangkan sebuah ruang kelas yang sedikit berbeda. Guru tidak merasa terganggu ketika murid bertanya, "Mengapa?" Murid tidak takut dianggap bodoh hanya karena mengajukan pertanyaan yang sederhana. Diskusi menjadi sama pentingnya dengan jawaban. Kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus segera dihindari.

Barangkali suasana seperti itu memang tidak mudah diwujudkan. Sistem pendidikan memiliki banyak tantangan yang jauh lebih besar. Namun setiap perubahan besar hampir selalu dimulai dari cara kita memandang sesuatu.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggap pertanyaan hanya sebagai jalan menuju jawaban. Karena seringkali, pertanyaan yang baik justru jauh lebih berharga daripada jawaban yang cepat.

Anak-anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan. Mereka juga membutuhkan keberanian untuk merasa penasaran, meragukan sesuatu dengan cara yang sehat, mencari penjelasan yang lebih baik, dan tetap bertanya meskipun belum segera menemukan jawabannya.

Bukankah pendidikan pada akhirnya bukan sekadar proses memindahkan informasi dari kepala guru ke kepala murid?

Pendidikan adalah upaya menumbuhkan manusia yang terus belajar sepanjang hidupnya. Dan orang yang terus belajar biasanya bukan mereka yang merasa sudah memiliki semua jawaban. Mereka adalah orang-orang yang masih menyimpan cukup banyak pertanyaan.

Mungkin itulah sebabnya, di tengah dunia yang dipenuhi informasi dan kecerdasan buatan, sekolah tidak lagi hanya perlu mengajarkan anak bagaimana menemukan jawaban yang benar. Yang tidak kalah penting adalah membantu mereka mencintai pertanyaan. Sebab masa depan kemungkinan besar akan lebih membutuhkan manusia yang tahu apa yang perlu dipertanyakan daripada manusia yang sekadar pandai menghafal apa yang sudah diketahui. []

Bandung, 8 Juli 2026