Oleh Vikalena Lasmoskwa

Beberapa menit saja membuka media sosial, kita bisa menyaksikan begitu banyak hal. Seorang ibu yang kehilangan anaknya. Rekaman banjir yang merendam sebuah kota. Kabar tentang kecelakaan di jalan raya. Video lucu seekor kucing. Potongan konser musik. Promo flash sale. Lalu berita tentang perang di belahan dunia lain. Semua lewat dalam satu layar yang sama, dengan gerakan jari yang sama, dalam hitungan detik.

Tidak ada jeda. Tak ada waktu bagi hati untuk benar-benar tinggal.

Kita berpindah dari satu emosi ke emosi berikutnya tanpa pernah benar-benar menyelesaikan emosi yang pertama. Kita ikut sedih, tetapi hanya beberapa detik. Kita ikut marah, tetapi sebentar saja. Kita ikut prihatin, lalu tanpa sadar tertawa karena video berikutnya memang dirancang untuk membuat kita tertawa. Dunia digital mengajarkan kita satu kebiasaan baru: terus bergerak, terus menggulir layar, terus mencari sesuatu yang berikutnya.

Mungkin itulah mengapa belakangan ini saya sering bertanya-tanya, apakah kita benar-benar sudah menjadi manusia yang kurang peduli? Atau jangan-jangan yang perlahan menghilang dari diri kita bukan kepedulian itu sendiri, melainkan kepekaan untuk benar-benar merasakan apa yang sedang terjadi di sekitar kita.

Sebab peduli tak pernah lahir begitu saja. Ia selalu didahului oleh kemampuan untuk menyadari.

Baca Juga: Mengapa Sekolah Lebih Sering Mengajarkan Jawaban daripada Pertanyaan?

Kita Tidak Kehilangan Hati, Kita Kehilangan Waktu untuk Merasakan

Ada sesuatu yang berubah dalam cara kita berhubungan dengan dunia. Dulu, sebuah kabar buruk bisa memenuhi percakapan selama berhari-hari. Orang membahasnya di rumah, di kantor, bahkan ketika bertemu tetangga. Bukan karena berita saat itu lebih penting, tetapi karena perhatian kita tidak terpecah ke mana-mana. Kita memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak, mencerna, lalu membiarkan perasaan bekerja sebagaimana mestinya.

Hari ini, sebuah peristiwa besar bisa tenggelam hanya dalam hitungan jam. Bukan karena dampaknya kecil, tetapi karena sesudahnya selalu ada peristiwa lain yang menunggu untuk mengambil perhatian kita. Algoritma media sosial tidak mengenal belas kasihan terhadap emosi manusia. Ia hanya mengenal satu hal: apa yang membuat kita terus menggulir layar.

Lama-kelamaan, kita terbiasa hidup dalam ritme seperti itu. Kita membaca kabar seseorang kehilangan rumah karena kebakaran, lalu beberapa detik kemudian melihat video resep masakan, disusul potongan komedi, lalu promosi belanja. Semua hadir dengan bobot yang hampir sama di layar kita. Tanpa disadari, bukan hanya informasi yang bercampur, tetapi juga cara kita merasakan.

Saya tidak sedang menyalahkan media sosial. Platform digital telah membantu banyak orang tetap terhubung, memperoleh informasi lebih cepat, bahkan saling membantu ketika terjadi bencana. Namun, di balik semua kemudahan itu, ada satu kemampuan yang pelan-pelan terkikis apabila tidak kita jaga sendiri, yaitu kemampuan untuk berhenti.

Padahal kepekaan justru tumbuh dari jeda. Kepekaan lahir ketika kita memberi waktu kepada diri sendiri untuk benar-benar melihat seseorang, mendengarkan cerita sampai selesai, atau membiarkan satu peristiwa tinggal lebih lama di dalam pikiran kita. Tanpa jeda, semua pengalaman berubah menjadi lintasan yang hanya lewat di permukaan.

Mungkin karena itulah sekarang kita sering merasa lelah tanpa tahu penyebabnya. Setiap hari kita menerima begitu banyak emosi dari kehidupan orang lain, tetapi tidak pernah benar-benar mengolahnya. Kita membawa semuanya, tetapi tidak sempat memahami apa pun.

Baca Juga: Mengapa Sulit Pergi dari Hubungan yang Menyakiti? 

Kepekaan Perlu Dilatih, Sama Seperti Otot yang Terus Digunakan

Saya percaya manusia pada dasarnya tidak dilahirkan untuk menjadi acuh tak acuh. Kita masih tersentuh ketika melihat orang tua kesulitan menyeberang jalan. Kita masih ikut sedih ketika mendengar teman kehilangan orang yang dicintainya. Kita masih ingin membantu ketika melihat seseorang mengalami kesusahan. Semua itu masih ada.

Yang mulai melemah adalah kebiasaan untuk menangkap isyarat-isyarat kecil sebelum semuanya terlambat.

Kepekaan bukan hanya soal menangis ketika melihat penderitaan orang lain. Kepekaan adalah kemampuan menyadari perubahan yang sering kali tidak diucapkan. Wajah teman yang tampak lebih murung dari biasanya. Rekan kerja yang mendadak pendiam. Tetangga lansia yang sudah beberapa hari tidak terlihat keluar rumah. Anak yang biasanya ceria, tetapi belakangan lebih banyak diam. Hal-hal seperti ini tidak pernah muncul sebagai breaking news. Ia hanya bisa dilihat oleh orang yang benar-benar hadir.

Sayangnya, kehadiran menjadi sesuatu yang semakin mahal. Kita sering berada di satu ruangan, tetapi perhatian kita ada di tempat lain. Kita mendengar, tetapi tidak benar-benar mendengarkan. Kita melihat, tetapi tidak sungguh-sungguh memperhatikan. Dunia membuat kita selalu terhubung, tetapi tidak selalu hadir.

Barangkali cara paling sederhana untuk mempertahankan kepekaan bukanlah dengan melakukan sesuatu yang luar biasa. Mungkin kita hanya perlu belajar memperlambat diri. Tidak selalu tergesa-gesa memberi komentar. Tidak buru-buru menyimpulkan. Tidak langsung berpindah ke cerita berikutnya setiap kali selesai membaca sebuah kabar.

Kadang-kadang, kepekaan hanya membutuhkan satu pertanyaan sederhana.

"Apa kabar? Kamu benar-benar baik-baik saja?" Atau satu keputusan kecil untuk menyimpan telepon genggam ketika seseorang sedang bercerita. Atau beberapa menit tambahan untuk mendengarkan tanpa merasa harus segera memberi solusi.

Kepekaan memang tidak menghasilkan angka yang bisa diukur. Ia tidak menjadi headline. Ia tidak viral. Tetapi hampir semua bentuk kepedulian yang besar selalu berawal dari kepekaan yang tampak kecil. Tidak ada orang yang bisa membantu jika ia tidak lebih dulu menyadari. Tidak ada empati tanpa kesediaan untuk memperhatikan.

Karena itu, mungkin yang perlu kita jaga hari ini bukan hanya kemampuan untuk mengetahui lebih banyak, melainkan kemampuan untuk merasakan lebih dalam. Dunia memang akan terus bergerak cepat. Linimasa akan terus berganti. Berita baru akan selalu datang menggantikan berita lama. Kita tidak mungkin menghentikan semua itu.

Tetapi kita masih bisa memilih untuk tidak membiarkan hati ikut berlari secepat layar yang kita gulir.

Sebab dunia tidak selalu kekurangan orang baik. Dunia lebih sering kekurangan orang yang cukup peka untuk melihat bahwa seseorang di dekatnya sedang menahan air mata, sedang kehilangan harapan, atau sekadar membutuhkan teman yang bersedia berhenti sejenak dan benar-benar hadir. Dan mungkin, di zaman yang serba cepat ini, kemampuan untuk benar-benar hadir adalah bentuk kepedulian yang paling berharga. []

Bandung, 29 Juli 2026