Oleh Vikalena Lasmoskwa
Setiap kali sebuah hubungan tidak sehat menjadi pembicaraan publik, komentar yang paling sering muncul biasanya terdengar sederhana. Banyak orang bertanya mengapa seseorang tidak pergi sejak awal, mengapa ia masih bertahan, atau mengapa ia memberi kesempatan berkali-kali kepada orang yang sudah jelas menyakitinya.
Dari luar, pertanyaan itu memang tampak masuk akal. Jika sebuah hubungan membuat seseorang terluka, maka jalan keluarnya terlihat jelas: pergi. Sayangnya, kehidupan batin manusia jarang sesederhana kalimat yang ditulis di kolom komentar.
Saya kira di situlah kita perlu lebih berhati-hati. Tidak semua orang yang bertahan dalam hubungan yang menyakitkan sedang tidak tahu bahwa ia terluka. Kadang ia tahu, tetapi belum memiliki cukup kekuatan, dukungan, atau keberanian untuk benar-benar meninggalkan hubungan itu.
Baca Juga: Daripada Bapak Marah...
Yang Terlihat Mudah dari Luar, seringkali Rumit dari Dalam
Hubungan yang tidak sehat jarang dimulai dengan luka yang besar. Banyak yang bermula dari perhatian, kedekatan, janji, dan rasa dibutuhkan. Ketika seseorang mulai mencintai, ia tidak sedang membuat rencana untuk disakiti.
Masalahnya, luka dalam hubungan sering datang perlahan. Pada awalnya mungkin hanya berupa komentar yang merendahkan. Lalu berubah menjadi kontrol, kecemburuan berlebihan, permintaan maaf yang terus berulang, atau perilaku yang membuat seseorang mulai meragukan dirinya sendiri.
Dalam situasi seperti itu, orang yang berada di dalam hubungan sering tidak langsung menyadari bahwa ia sedang kehilangan dirinya. Ia mungkin berpikir pasangannya hanya sedang lelah, sedang marah, atau sedang melewati masa sulit. Ia berharap keadaan akan membaik karena pernah melihat sisi baik dari orang yang sama.
Harapan itulah yang sering membuat seseorang bertahan lebih lama daripada yang dibayangkan orang lain. Ia bukan hanya mengingat luka yang diterima, tetapi juga mengingat masa-masa ketika hubungan itu terasa indah. Di antara dua ingatan itu, seseorang bisa terus ragu untuk pergi.
Ada pula rasa bersalah yang membuat keputusan menjadi semakin sulit. Seseorang bisa merasa bahwa ia akan menjadi jahat jika meninggalkan pasangannya saat sedang bermasalah. Ia bisa merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan hubungan, bahkan ketika hubungan itu justru membuatnya semakin hancur.
Baca Juga: Amicus Curiae untuk Nadiem Makarim dan Rasa Keadilan yang Ikut Gelisah
Cinta yang Tidak Sehat Sering Membuat Orang Meragukan Dirinya Sendiri
Salah satu hal paling berbahaya dari hubungan yang menyakitkan adalah cara ia mengubah cara seseorang melihat dirinya. Ketika terus-menerus disalahkan, direndahkan, atau dibuat merasa berlebihan, seseorang bisa mulai percaya bahwa masalahnya memang ada pada dirinya. Ia tidak lagi yakin apakah rasa sakit yang ia alami benar-benar sah untuk disebut luka.
Dalam psikologi relasi, ada pola yang sering muncul dalam hubungan tidak sehat. Seseorang disakiti, lalu diberi permintaan maaf, lalu diberi harapan bahwa semua akan berubah. Siklus itu berulang cukup lama hingga korban merasa bahwa setiap luka mungkin akan menjadi yang terakhir.
Sayangnya, harapan seperti itu sering menjadi perangkap yang sangat halus. Setiap permintaan maaf membuat seseorang ingin percaya lagi. Setiap momen baik membuat ia lupa sebentar pada rasa takut yang sebelumnya ia alami.
Itulah sebabnya keluar dari hubungan yang menyakitkan tidak selalu hanya membutuhkan keputusan. Ia juga membutuhkan pemulihan cara berpikir. Seseorang perlu kembali percaya bahwa rasa sakitnya nyata, bahwa keselamatannya penting, dan bahwa mencintai orang lain tidak berarti harus terus mengorbankan diri sendiri.
Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua orang memiliki dukungan yang sama. Ada yang takut dihakimi keluarga. Ada yang bergantung secara ekonomi. Ada yang takut ancaman pasangannya menjadi nyata. Ada yang merasa tidak punya tempat aman untuk pulang.
Karena itu, kalimat “tinggal pergi saja” seringkali terdengar terlalu ringan bagi mereka yang sedang berada di dalam hubungan semacam itu. Pergi bisa menjadi keputusan yang benar, tetapi proses menuju keputusan itu sering panjang dan menyakitkan. Yang dibutuhkan bukan hanya keberanian pribadi, tetapi juga lingkungan yang cukup aman untuk menerima seseorang ketika ia akhirnya memilih menyelamatkan dirinya.
Dalam setiap kisah hubungan yang tidak sehat, kita memang boleh belajar mengenali tanda-tandanya. Kita boleh mengingatkan bahwa cinta seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan harga diri. Kita juga boleh mengatakan bahwa kekerasan, manipulasi, dan kontrol berlebihan tidak layak dinormalisasi atas nama cinta.
Namun, kita juga perlu mengurangi kebiasaan menghakimi orang yang belum mampu pergi. Sebab mungkin ia sedang berjuang dengan ketakutan yang tidak kita lihat. Mungkin ia sedang mengumpulkan keberanian sedikit demi sedikit. Mungkin ia sedang belajar percaya bahwa hidupnya masih bisa lebih baik tanpa orang yang selama ini menyakitinya.
Hubungan yang sehat seharusnya memberi rasa aman. Ia boleh memiliki konflik, perbedaan, dan masa sulit, tetapi tidak seharusnya membuat seseorang terus-menerus takut, merasa kecil, atau kehilangan dirinya sendiri. Jika sebuah hubungan membuat seseorang merasa harus bertahan sambil terus terluka, mungkin yang perlu diselamatkan pertama-tama bukan lagi hubungan itu, melainkan orang yang berada di dalamnya.
Dan barangkali itulah pelajaran yang paling penting dari setiap kisah seperti ini. Pergi dari hubungan yang menyakitkan memang tidak selalu mudah. Tetapi memahami bahwa kita layak diperlakukan dengan aman dan manusiawi adalah langkah pertama yang tidak boleh terus ditunda. []
Bandung, 26 Juni 2026