Hobi semestinya menjadi ruang untuk bersenang-senang. Namun ketika hasilnya mulai dibandingkan dan dipamerkan, sesuatu yang dahulu ringan bisa perlahan terasa seperti tuntutan.

Seseorang mulai berlari karena senang berada di luar rumah pada pagi hari. Beberapa bulan kemudian, jam tangannya mencatat jarak, kecepatan, detak jantung, dan rekor pribadi, sementara hasil setiap latihan diunggah ke media sosial. Hari ketika larinya lambat kemudian terasa sedikit mengecewakan, meski sebenarnya pagi itu tetap menyenangkan.

Hal serupa dapat terjadi pada fotografi, memasak, melukis, bersepeda, bermain musik, berkebun, bahkan membaca buku. Pada mulanya tidak ada sesuatu yang harus dibuktikan karena kegiatan tersebut dilakukan hanya karena menyenangkan. Namun perlahan muncul standar baru: hasilnya harus semakin bagus, kemampuan harus meningkat, dan kalau dibagikan kepada orang lain, sebaiknya cukup menarik untuk mendapatkan perhatian.

Perubahan itu tidak selalu buruk. Keinginan menjadi lebih mahir dapat membuat seseorang belajar lebih serius, menemukan komunitas, bahkan mengubah hobi menjadi pekerjaan. Persoalannya muncul ketika kesenangan melakukan kegiatan tersebut mulai bergantung kepada sesuatu di luar kegiatan itu sendiri.

Baca Juga: Hobi Itu Tidak Selalu Harus Menghasilkan Uang, Benarkah?

Ketika 'Senang Melakukannya' Mulai Bersaing dengan 'Ingin Diakui'

Psikologi membedakan motivasi yang datang dari aktivitas itu sendiri dengan dorongan yang bergantung pada hasil di luarnya. Edward Deci, salah satu pengembang self-determination theory, mendefinisikan motivasi intrinsik sebagai dorongan melakukan aktivitas karena kegiatan tersebut menarik dan memberikan kepuasan pada dirinya sendiri. Orang bermain gitar karena menikmati bermain gitar, bukan karena harus mendapatkan sesuatu setelah lagu selesai dimainkan. 

Penelitian klasik Deci pada 1971 memperlihatkan bahwa hubungan antara motivasi intrinsik dan imbalan eksternal tidak sesederhana menambahkan keduanya. Dalam eksperimennya, imbalan uang pada kondisi tertentu justru diikuti penurunan motivasi intrinsik setelah imbalan dihentikan, sementara umpan balik positif dapat memberikan efek berbeda. Temuan tersebut kemudian berkembang menjadi pembahasan panjang mengenai bagaimana penghargaan, kontrol, kompetensi, dan otonomi memengaruhi alasan seseorang melakukan sesuatu. 

Dalam kehidupan sehari-hari, 'imbalan' tentu tidak harus berbentuk uang. Jumlah likes, pujian, pengikut baru, pengakuan komunitas, atau sekadar kesan bahwa orang lain menganggap seseorang berbakat dapat mempunyai daya tariknya sendiri. Hobi yang semula dilakukan tanpa penonton kemudian mempunyai semacam papan skor.

Seorang penghobi fotografi, misalnya, mungkin dahulu berjalan sore hanya karena menikmati mencari cahaya dan objek menarik. Setelah akun fotografinya berkembang, sebuah perjalanan bisa berubah menjadi perburuan gambar yang dianggap cukup bagus untuk diunggah. Foto yang sebenarnya disukai bahkan dapat dianggap gagal hanya karena respons orang lain lebih kecil daripada biasanya.

Media sosial menyediakan ruang yang sangat mudah untuk perubahan tersebut. Studi Lucie Merunková dan Josef Šlerka mengenai presentasi diri di Facebook menemukan 'hobi' sebagai salah satu bentuk yang digunakan pengguna dalam membangun dan menampilkan identitas mereka. Hobi dengan demikian bukan hanya sesuatu yang dilakukan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari bagaimana seseorang ingin terlihat oleh orang lain. 

Baca Juga: Mengurangi Penat, Banyak Orang Mulai Menanam Tanaman di Rumah

Hobi Tidak Rusak Hanya karena Kita Ingin Menjadi Lebih Baik

Namun keinginan terlihat hebat bukan berarti kesenangan pasti menghilang. Pelari boleh mengejar catatan waktu, pemain gitar boleh ingin tampil di panggung, dan orang yang gemar membuat kue boleh senang ketika hasilnya dipuji. Menjadi serius terhadap sesuatu yang disukai bahkan dapat menghasilkan kepuasan baru ketika kemampuan berkembang.

Perbedaannya mungkin terlihat dari apa yang terjadi ketika tidak ada orang yang melihat. Apakah foto masih ingin diambil jika tidak akan diunggah, apakah sepeda masih menyenangkan tanpa catatan jarak, atau apakah sebuah lagu masih ingin dimainkan ketika tidak akan direkam? Pertanyaan semacam itu dapat membantu melihat apakah kegiatan tersebut masih mempunyai nilai pada dirinya sendiri.

Masalah juga dapat muncul ketika standar kemampuan terus bergerak. Orang yang baru belajar melukis dahulu senang berhasil menggambar wajah yang cukup menyerupai objeknya, tetapi setelah melihat karya orang lain setiap hari, hasil yang sama terasa memalukan. Kemampuan sebenarnya meningkat, sementara kepuasan justru menurun karena pembandingnya ikut berubah.

Di sinilah hobi dapat diam-diam menyerupai pekerjaan. Ada target produksi, tuntutan konsistensi, kebutuhan memperlihatkan kemajuan, jadwal unggahan, sampai perasaan bersalah ketika beberapa hari tidak melakukannya. Bedanya, tidak ada atasan yang memberikan semua tuntutan tersebut karena sebagian justru dibuat sendiri.

Tidak ada pula kewajiban bahwa hobi harus terus menghasilkan peningkatan. Buku boleh dibaca tanpa target tahunan, tanaman boleh dirawat tanpa memiliki koleksi langka, dan seseorang boleh bermain badminton bertahun-tahun tanpa pernah berniat mengikuti turnamen. Kegiatan yang dilakukan hanya karena menyenangkan tetap mempunyai nilai meskipun tidak menghasilkan prestasi yang dapat diperlihatkan.

Media sosial pun tidak harus dijadikan musuh dalam persoalan ini. Membagikan hobi dapat mempertemukan orang dengan komunitas, membuka kesempatan belajar, memperoleh apresiasi, dan membuat kegiatan terasa semakin bermakna. Yang perlu diperhatikan adalah saat respons dari luar perlahan menjadi syarat agar kegiatan tersebut masih terasa berharga.

Mungkin hobi memang tidak berhenti menyenangkan hanya karena seseorang ingin terlihat hebat. Kesenangannya mulai terancam ketika terlihat hebat menjadi lebih penting daripada pengalaman melakukan kegiatan itu sendiri. Pada titik tersebut, yang dahulu menjadi tempat beristirahat dari tuntutan hidup justru memperoleh tuntutannya sendiri.

Ada sesuatu yang melegakan dari hobi yang sesekali tidak perlu dipamerkan, diukur, dimonetisasi, atau dibuat semakin profesional. Sebuah gambar boleh selesai meski tidak pernah diunggah, lagu boleh dimainkan dengan beberapa nada yang keliru, dan lari pagi tetap boleh disebut menyenangkan walau catatan waktunya buruk. Sebab salah satu kemewahan terbesar dari memiliki hobi mungkin justru kebebasan untuk tidak harus hebat dalam melakukannya. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.