Harapannya turun, angka timbangan justru bertambah. Padahal frekuensi makan terasa lebih sedikit. Lalu muncul pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi?
Banyak orang mengira puasa otomatis membuat berat badan turun. Logikanya sederhana, waktu makan berkurang sehingga asupan kalori pun lebih sedikit. Namun kenyataannya, tidak sedikit yang justru mengalami kenaikan berat badan selama Ramadan.
Perubahan ini bukan semata-mata soal jumlah makan, melainkan pola dan jenis asupan yang dikonsumsi. Tubuh memang beradaptasi dengan jadwal baru, tetapi pilihan makanan dan gaya hidup selama bulan puasa ikut menentukan hasil akhirnya.
Jika tidak disadari, kebiasaan kecil yang berulang selama 30 hari dapat memberi dampak signifikan pada komposisi tubuh.
Baca Juga: Suplemen Selama Bulan Puasa, Perlukah dan Apa Saja yang Bisa Dipertimbangkan?
Pola Makan Berubah, Kalori Bisa Berlebih
Saat berbuka, rasa lapar yang menumpuk sering membuat seseorang makan dalam porsi besar sekaligus. Makanan manis, gorengan, dan minuman tinggi gula menjadi pilihan favorit karena cepat mengembalikan energi. Masalahnya, lonjakan kalori dalam waktu singkat bisa melampaui kebutuhan harian.
Selain itu, waktu makan yang terkonsentrasi pada malam hari dapat memengaruhi metabolisme. Tubuh cenderung lebih aktif mencerna di siang hari. Jika asupan besar terjadi mendekati waktu tidur tanpa aktivitas cukup, kelebihan energi lebih mudah disimpan sebagai lemak.
Kurangnya aktivitas fisik juga berperan. Rasa lelah di siang hari membuat sebagian orang mengurangi gerak, sementara asupan kalori saat berbuka tetap tinggi. Ketidakseimbangan antara energi masuk dan keluar inilah yang memicu kenaikan berat badan.
Pola tidur yang tidak teratur turut memengaruhi hormon pengatur rasa lapar seperti ghrelin dan leptin. Ketika tidur kurang, nafsu makan bisa meningkat dan kontrol diri terhadap makanan menjadi lebih lemah.
Baca Juga: Menyesuaikan Produktivitas Selama Ramadan
Cara Menjaga Berat Badan Tetap Stabil Selama Puasa
Kunci pertama adalah mengatur porsi saat berbuka. Awali dengan air putih dan makanan ringan seperti kurma atau buah, lalu beri jeda sebelum makan utama. Cara ini membantu tubuh beradaptasi dan mencegah makan berlebihan.
Pilih karbohidrat kompleks, protein, dan serat yang memberi rasa kenyang lebih lama. Batasi minuman tinggi gula serta gorengan berlebihan yang menyumbang kalori besar tanpa membuat kenyang bertahan lama.
Aktivitas fisik ringan tetap penting. Jalan santai setelah berbuka atau olahraga ringan menjelang sahur dapat membantu menjaga metabolisme tetap aktif.
Terakhir, perhatikan kualitas tidur. Istirahat cukup membantu menjaga keseimbangan hormon dan mengontrol nafsu makan. Dengan manajemen makan, gerak, dan tidur yang lebih sadar, puasa tetap bisa menjadi momen menjaga kesehatan tanpa harus khawatir angka timbangan melonjak. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]