Ada momen ketika tubuh memberi sinyal kecil. Lelah, pegal, atau sulit tidur. Kita sering menganggapnya sepele, lalu mencari cara tercepat untuk membuatnya hilang.
Suatu malam, seseorang terbangun bukan karena alarm, tapi karena pikirannya tidak berhenti. Tubuhnya lelah, tapi matanya tetap terbuka. Ia mencoba memejamkan mata lagi, tapi justru semakin sadar bahwa ia tidak bisa tidur.
Esok paginya, ia tetap bangun seperti biasa, ditemani kopi yang lebih banyak dari biasanya. Ia merasa ‘lumayan kuat’, meski sebenarnya tubuhnya belum benar-benar pulih.
Masalahnya, kondisi ini bukan kebetulan. Kurang tidur mengganggu ritme sirkadian—jam biologis tubuh yang mengatur kapan kita merasa mengantuk dan terjaga. Ketika ritme ini terganggu, tubuh butuh waktu untuk kembali seimbang.
Baca Juga: Kepala Terasa Berat Tanpa Sebab Jelas, Apa Pasalnya?
Ketika Tubuh Dianggap Masalah yang Harus Diselesaikan
Dalam banyak kasus, tubuh diperlakukan seperti sistem yang harus selalu optimal. Ketika ada gangguan, fokus langsung tertuju pada bagaimana menghilangkannya secepat mungkin.
Misalnya saat merasa mudah lelah. Banyak orang langsung mencari suplemen penambah energi, tanpa benar-benar melihat kualitas tidur atau kadar stres yang dialami. Padahal, kelelahan sering berkaitan dengan hormon kortisol yang tidak seimbang.
Saat tubuh terus dipaksa bekerja tanpa istirahat cukup, kadar kortisol bisa tetap tinggi. Ini membuat tubuh terasa ‘terus siaga’, meski sebenarnya sedang lelah.
Pendekatan instan terasa praktis, tetapi sering hanya menyentuh permukaan. Tubuh bukan sekadar gejala yang bisa dihilangkan, tetapi sistem yang saling terhubung.
Menurut Dr. Gabor Maté dalam When the Body Says No, “When we have been prevented from learning how to say no, our bodies may end up saying it for us.” Ini menunjukkan bahwa tubuh sering menyampaikan sesuatu yang tidak sempat kita sadari.
Baca Juga: Perut Terasa Tidak Nyaman Setelah Lebaran, Apa Penyebabnya?
Antara Meredakan dan Memahami
Contoh lain terlihat dari kebiasaan mengatasi stres. Setelah hari yang melelahkan, banyak orang memilih distraksi cepat—scrolling, menonton, atau makan sesuatu yang manis. Secara biologis, gula memang bisa memicu pelepasan dopamin yang membuat perasaan lebih nyaman.
Namun, efek ini bersifat sementara. Setelah itu, tubuh bisa mengalami penurunan energi yang membuat rasa lelah kembali muncul. Ini yang sering membuat seseorang terus mencari ‘dorongan cepat’ berikutnya.
Hal yang sama terjadi pada gangguan tidur. Banyak orang mencoba memperbaikinya dengan solusi instan, seperti minum kopi di siang hari untuk menutupi rasa kantuk, lalu berharap bisa tidur cepat di malam hari. Padahal, kafein bisa bertahan di tubuh hingga 6–8 jam dan mengganggu proses tidur.
Masalahnya, proses memahami tubuh membutuhkan waktu. Tidak ada solusi satu langkah yang langsung menyelesaikan semuanya.
Di sinilah sering muncul rasa tidak sabar. Ketika solusi cepat tidak lagi bekerja, muncul kebingungan. Padahal, tubuh tidak pernah benar-benar meminta kecepatan. Ia hanya meminta perhatian.
Mengubah cara melihat ini bukan sesuatu yang mudah. Dibutuhkan kesediaan untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan menerima bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
Dalam banyak situasi, justru proses yang lebih lambat memberi hasil yang lebih stabil. Bukan karena lebih rumit, tetapi karena lebih sesuai dengan cara tubuh bekerja.
Tubuh tidak membutuhkan solusi tercepat. Ia membutuhkan respons yang tepat. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]