Sebagian orang merasa lebih tahan menghadapi udara dingin, sementara yang lain lebih mudah kepanasan. Banyak yang mengaitkannya dengan golongan darah. Benarkah demikian?
Hampir setiap orang pernah memiliki pengalaman seperti ini. Di dalam ruangan yang sama, ada yang masih nyaman mengenakan kaus tipis, sementara orang di sebelahnya sudah mengenakan jaket karena merasa kedinginan. Sebaliknya, ketika cuaca sedang terik, ada yang tampak tetap santai, sementara yang lain sudah merasa gerah dan berkeringat.
Perbedaan ini sering memunculkan berbagai dugaan. Salah satu yang cukup populer adalah anggapan bahwa golongan darah memengaruhi ketahanan seseorang terhadap suhu panas maupun dingin. Bahkan, ada pula yang percaya bahwa orang bergolongan darah tertentu lebih sering digigit nyamuk dibanding yang lain.
Kepercayaan seperti ini banyak beredar di media sosial maupun obrolan sehari-hari. Namun, apakah memang ada hubungan antara golongan darah dengan cara tubuh merespons suhu lingkungan?
Baca Juga: VO₂max Bukan Cuma Angka di Smartwatch. Lalu, Apa Artinya bagi Kesehatan?
Tubuh Merespons Suhu dengan Cara yang Jauh Lebih Kompleks
Golongan darah ABO memang berperan penting dalam dunia medis, terutama berkaitan dengan transfusi darah dan beberapa aspek risiko penyakit tertentu. Namun, ketika berbicara mengenai kemampuan seseorang menghadapi udara panas atau dingin, bukti ilmiah hingga saat ini belum menunjukkan adanya hubungan yang konsisten dengan golongan darah.
Menurut Dr. Carsten Oliver Schmidt, profesor dalam bidang epidemiologi dari University Medicine Greifswald, respons tubuh terhadap suhu dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling bekerja bersama. Kondisi seperti usia, komposisi lemak tubuh, massa otot, metabolisme, jenis kelamin, hormon, kebugaran, hingga kebiasaan hidup di lingkungan tertentu memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibanding golongan darah.
Itulah sebabnya, dua orang dengan golongan darah yang sama bisa memiliki toleransi terhadap suhu yang sangat berbeda. Ada yang mudah menggigil ketika suhu sedikit turun, sementara yang lain tetap merasa nyaman. Sebaliknya, ada orang yang cepat merasa gerah meski cuaca belum terlalu panas.
Tubuh manusia memiliki sistem pengatur suhu yang sangat canggih. Ketika udara dingin, pembuluh darah di permukaan kulit akan menyempit untuk mengurangi kehilangan panas. Saat cuaca panas, tubuh meningkatkan produksi keringat agar suhu dapat kembali stabil. Cara kerja sistem ini dipengaruhi oleh banyak faktor biologis, bukan hanya satu karakteristik seperti golongan darah.
Baca Juga: Tidak Semua Gerakan Bisa Dikendalikan, Mengenal Tourette Syndrome dengan Lebih Manusiawi
Lalu, Mengapa Ada Orang yang Merasa Pengalamannya Cocok dengan Golongan Darahnya?
Bukan berarti semua anggapan yang beredar muncul tanpa alasan. Dalam dunia ilmiah memang pernah ada penelitian yang meneliti hubungan golongan darah dengan perilaku nyamuk.
Penelitian yang dilakukan oleh Toshihiko Shimizu dan Kimiko Konishi pada 2004 menemukan bahwa nyamuk Aedes albopictus dalam kondisi eksperimen lebih sering hinggap pada orang bergolongan darah O dibanding beberapa golongan darah lainnya. Namun, para peneliti juga menegaskan bahwa ketertarikan nyamuk dipengaruhi banyak faktor lain, seperti karbon dioksida yang kita embuskan, suhu kulit, bau tubuh, keringat, hingga mikroorganisme alami yang hidup di permukaan kulit.
Dengan kata lain, golongan darah mungkin hanya menjadi salah satu bagian kecil dari keseluruhan faktor yang memengaruhi perilaku nyamuk, dan temuan tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk menjelaskan berbagai respons tubuh lainnya.
Hal yang sama berlaku pada anggapan bahwa golongan darah menentukan ketahanan terhadap panas atau dingin. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa seseorang lebih tahan udara dingin atau lebih mudah kepanasan hanya karena golongan darahnya.
Barangkali, itulah yang membuat tubuh manusia selalu menarik untuk dipelajari. Kita memang tidak semua merasakan cuaca dengan cara yang sama, tetapi penyebabnya jauh lebih kompleks daripada sekadar huruf A, B, AB, atau O yang tercantum pada kartu identitas. Setiap tubuh memiliki cara sendiri dalam menjaga keseimbangan suhunya. Memahami hal itu membuat kita tidak terburu-buru mempercayai sebuah mitos, sekaligus mengingatkan bahwa pengalaman pribadi belum tentu selalu menjadi bukti ilmiah. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.