Ada rutinitas yang dilakukan hampir setiap hari tanpa banyak dipikirkan. Membersihkan wajah, memakai serum, lalu menutup dengan pelembap. Semua terasa wajar, seperti bagian dari keseharian yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Banyak orang menjalani skincare sebagai rutinitas tetap. Produk digunakan secara berurutan, dengan langkah yang terasa sudah 'benar'. Dari luar, ini terlihat seperti bentuk perhatian terhadap diri sendiri. Namun di balik itu, ada satu hal yang jarang ditanyakan. Semua yang dipakai itu benar-benar dibutuhkan, atau hanya sudah menjadi kebiasaan yang sulit dilepas.

Ketika sesuatu dilakukan berulang, ia perlahan terasa seperti kebutuhan. Padahal, belum tentu semuanya benar-benar diperlukan.

Baca Juga: Skincare Mahal Terlihat Lebih ‘Ngaruh’? Kita Yakin atau Terpengaruh?

Ketika Rutinitas Terasa Lebih Penting dari Kebutuhan

Dalam beberapa tahun terakhir, pilihan produk skincare semakin banyak. Dari basic skincare hingga layering yang lebih kompleks, semua tersedia dengan klaim yang meyakinkan.

Contoh yang sering terlihat adalah penggunaan serum berlapis. Seseorang bisa menggunakan serum untuk brightening, anti-aging, dan hidrasi dalam satu rutinitas. Padahal, kondisi kulitnya belum tentu membutuhkan semuanya secara bersamaan.

Dr. Whitney Bowe, dermatolog asal Amerika Serikat, pernah menjelaskan bahwa penggunaan terlalu banyak produk justru bisa membuat kulit 'overwhelmed' dan tidak bekerja optimal.

Ketika rutinitas menjadi lebih penting daripada kebutuhan kulit, fungsi perawatan bisa bergeser. Bukan lagi untuk menyesuaikan dengan kondisi, tapi untuk mengikuti pola yang sudah terbentuk. Di titik ini, produk tidak lagi dipilih karena diperlukan. Tapi karena sudah menjadi bagian dari rutinitas yang terasa harus dilakukan.

Baca Juga: Kulit Sehat vs Kulit Terlihat Sehat, Kita Sering Salah Membedakan

Antara Perawatan Diri dan Pola yang Tidak Disadari

Hal lain yang sering terjadi adalah penggunaan produk yang tidak lagi relevan. Kulit berubah, kondisi berbeda, tapi produk tetap digunakan karena sudah terbiasa.

Contoh sederhana bisa dilihat dari penggunaan exfoliating product yang terlalu sering. Banyak orang menggunakannya karena merasa itu bagian dari 'perawatan yang benar', padahal kulit tidak selalu membutuhkannya setiap hari.

American Academy of Dermatology menyarankan bahwa perawatan kulit sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan tidak dilakukan secara berlebihan. Terlalu banyak intervensi justru bisa merusak keseimbangan alami kulit.

Masalahnya, kebiasaan sering lebih kuat daripada kebutuhan. Apa yang sudah dilakukan berulang terasa lebih aman untuk dipertahankan, meskipun kondisi sebenarnya sudah berubah.

Di titik ini, rutinitas tidak lagi membantu. Ia hanya berjalan tanpa benar-benar diperiksa ulang. Mungkin yang perlu dilakukan bukan menambah produk baru. Tapi mulai melihat kembali apa yang sudah digunakan selama ini.

Karena bisa jadi, yang selama ini dianggap sebagai kebutuhan, sebenarnya hanya kebiasaan yang belum pernah dipertanyakan. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.