Barangnya sebenarnya belum benar-benar habis usia. Namun satu bagian rusak, biaya servis terasa mahal, lalu membeli yang baru terlihat jauh lebih masuk akal.

Resleting tas macet, blender mulai berisik, atau kursi kerja kehilangan satu roda. Beberapa dekade lalu, respons yang cukup lazim adalah mencari tempat reparasi atau mencoba mengganti bagian yang rusak. Sekarang, pilihan pertama sering bergeser menjadi membuka marketplace dan melihat harga barang pengganti.

Keputusan tersebut tidak selalu menunjukkan masyarakat menjadi lebih boros. Banyak produk memang semakin murah dibandingkan biaya tenaga untuk memperbaikinya, sementara proses servis dapat membutuhkan waktu, pencarian suku cadang, dan ketidakpastian apakah barang akan kembali bekerja dengan baik. Membeli baru kemudian terasa seperti solusi yang paling efisien.

Tetapi jika kebiasaan tersebut terjadi terus-menerus, ada pertanyaan yang lebih besar. Apakah kita mengganti barang karena benar-benar sudah tidak layak digunakan, atau karena sistem konsumsi modern membuat perbaikan semakin terasa tidak praktis?

Baca Juga: Kenapa Barang yang Jarang Dipakai Justru Terasa Sayang untuk Dibuang?

Ketika Biaya Memperbaiki Mulai Terasa Tidak Masuk Akal

Pertimbangan pertama biasanya sangat sederhana: harga. Jika memperbaiki kipas angin membutuhkan Rp150 ribu sementara produk baru hanya sedikit lebih mahal, konsumen dapat merasa keputusan paling rasional adalah menggantinya. Selisih biaya yang kecil membuat nilai dari memperpanjang umur barang terasa kurang menarik.

Ada pula biaya yang tidak muncul dalam kuitansi. Barang harus dibawa ke tempat servis, ditinggalkan beberapa hari, lalu belum tentu tersedia suku cadang yang tepat. Jika barang tersebut penting untuk aktivitas harian, waktu tanpa perangkat juga menjadi biaya tersendiri.

Fenomena ini berkaitan dengan apa yang sering disebut repairability, yaitu seberapa mudah sebuah produk dapat dibongkar, didiagnosis, diperbaiki, dan mendapatkan komponen pengganti. Produk yang menggunakan baut standar, komponen modular, dan suku cadang yang tersedia tentu lebih mudah dipertahankan dibandingkan barang yang direkatkan, ditutup permanen, atau membutuhkan alat khusus.

Desain produk modern kadang ikut mempersempit ruang perbaikan. Baterai yang dahulu bisa dilepas pengguna kini dapat tertanam di dalam perangkat, sementara kerusakan satu modul dapat membuat seluruh unit perlu diganti. Dalam kondisi seperti itu, keputusan membeli baru bukan semata-mata karena konsumen malas memperbaiki, tetapi karena produknya memang tidak dirancang agar mudah dipertahankan.

Di sinilah gerakan right to repair menjadi relevan. Gagasannya mendorong produsen menyediakan akses terhadap informasi servis, suku cadang, alat, dan desain yang lebih memungkinkan perbaikan. Tujuannya bukan memaksa semua orang memperbaiki sendiri, tetapi memastikan konsumen tetap mempunyai pilihan selain mengganti produk.

Baca Juga: Semakin Dewasa, Kok Rasanya Semakin Sulit Punya Sahabat Baru?

Kemudahan Membeli Baru Mengubah Cara Kita Menilai Barang Lama

Ada faktor lain yang lebih psikologis: barang baru jauh lebih mudah ditemukan daripada jasa perbaikan. Beberapa ketukan di layar sudah cukup untuk membandingkan ratusan pilihan, membaca ulasan, dan mendapatkan produk dikirim ke rumah. Sementara itu, mencari teknisi yang dipercaya membutuhkan usaha lebih besar.

Produk baru juga membawa sesuatu yang tidak ditawarkan perbaikan, yakni peningkatan. Ketika ponsel lama bermasalah, konsumen bukan hanya membandingkan biaya servis dengan harga barang pengganti. Ia juga membandingkan kamera, baterai, desain, kapasitas, dan fitur baru yang tidak dimiliki perangkat sebelumnya.

Akibatnya, kerusakan kecil dapat berubah menjadi alasan untuk melakukan upgrade. Barang sebenarnya mungkin masih bisa digunakan setelah diperbaiki, tetapi kesempatan memperoleh sesuatu yang lebih baru membuat biaya servis terasa kurang menarik. Kerusakan menjadi pemicu keputusan yang sebelumnya sudah mulai dipertimbangkan.

Masalahnya, setiap keputusan mengganti mempunyai konsekuensi yang tidak berhenti di rumah. Produksi barang baru membutuhkan bahan baku, energi, transportasi, dan kemasan, sementara barang lama yang dibuang menambah aliran limbah. Untuk produk elektronik, persoalannya semakin rumit karena mengandung logam, plastik, baterai, dan komponen yang tidak selalu mudah didaur ulang.

Karena itu, pertanyaan “lebih murah memperbaiki atau membeli baru?” mungkin perlu sedikit diperluas. Berapa lama barang baru kemungkinan bertahan, apakah kerusakan lama hanya terjadi pada satu komponen, apakah suku cadang tersedia, dan apakah produk memang akan digunakan cukup lama untuk membenarkan penggantian? Jawabannya tidak selalu berpihak pada perbaikan, tetapi setidaknya keputusan dibuat dengan informasi yang lebih lengkap.

Tidak semua benda tentu pantas diselamatkan. Perangkat yang tidak lagi aman, terlalu tidak efisien, atau biaya perbaikannya memang jauh melebihi manfaatnya bisa masuk akal untuk diganti. Namun barang yang rusak sedikit juga tidak harus otomatis dianggap sudah selesai menjalankan tugasnya.

Mungkin perubahan terbesar bukan pada kemampuan manusia memperbaiki barang, melainkan pada hubungan kita dengan benda. Ketika mengganti menjadi lebih cepat daripada memperbaiki, usia sebuah barang tidak lagi ditentukan hanya oleh seberapa lama ia masih bisa bekerja, tetapi juga oleh seberapa besar usaha yang masih bersedia kita berikan agar ia tetap bekerja. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.