Hobi yang dulu terasa biasa saja bisa kembali terasa menyenangkan setelah lama ditinggalkan. Ternyata yang kembali bukan hanya kegiatannya, tetapi juga cara kita mengalaminya.
Ada gitar yang lama tersimpan di sudut kamar, kamera yang bertahun-tahun jarang disentuh, atau buku gambar yang masih menyimpan beberapa halaman kosong. Kita pernah sangat menyukainya, lalu pekerjaan, keluarga, sekolah, atau rutinitas lain perlahan mengambil ruang yang sebelumnya ditempati hobi.
Ketika akhirnya mencoba lagi, muncul sesuatu yang sedikit mengejutkan. Tangan memang terasa kaku, kemampuan mungkin menurun, tetapi rasa senangnya bisa datang lebih cepat daripada dugaan. Bahkan aktivitas yang dulu sempat terasa membosankan dapat kembali terasa segar.
Psikologi memberi beberapa petunjuk mengapa hal itu terjadi. Hobi tidak hanya menyimpan keterampilan, tetapi juga memori, identitas, rasa mampu, dan pengalaman menyenangkan yang pernah melekat pada aktivitas tersebut.
Baca Juga: Kenapa Mengoleksi Sesuatu Bisa Terasa Menyenangkan meski Barangnya Jarang Digunakan?
Keterampilannya Tidak Benar-Benar Hilang
Ketika lama berhenti melakukan sesuatu, kemampuan memang dapat menurun. Namun penurunan bukan berarti seluruh pembelajaran sebelumnya menghilang. Penelitian tentang motor memory menunjukkan keterampilan yang pernah dipelajari dapat meninggalkan jejak yang membuat proses belajar ulang lebih cepat dibandingkan memulai dari nol.
Fenomena ini sering disebut savings dalam pembelajaran, yakni kemampuan untuk mendapatkan kembali performa lama dengan lebih cepat setelah periode tidak berlatih. Karena itu, seseorang yang kembali bermain alat musik atau olahraga lama sering merasa gerakan tertentu ‘masih ada di tubuh’, meskipun belum sehalus dahulu.
Pengalaman ini penting karena rasa mampu merupakan salah satu sumber kenikmatan. Kita tidak benar-benar menjadi pemula lagi. Ada cukup banyak hal yang masih familiar untuk memberi rasa nyaman, tetapi juga cukup banyak tantangan untuk membuat aktivitas terasa hidup kembali.
Di sinilah hobi lama memiliki posisi yang unik. Ia menawarkan kombinasi antara sesuatu yang sudah dikenal dan sesuatu yang terasa baru.
Baca Juga: Benarkah Hobi Berhenti Menyenangkan karena Kita Mulai Ingin Terlihat Hebat?
Kita yang Kembali Juga Sudah Berbeda
Ada alasan lain yang lebih sederhana: kita berubah. Hobi yang dahulu dijalani dengan ambisi tertentu bisa kembali dengan tekanan yang lebih kecil.
Seseorang yang dulu menggambar untuk menjadi 'lebih bagus' mungkin sekarang menggambar hanya karena menyukai prosesnya. Orang yang pernah berhenti bermain gitar karena merasa tidak berkembang dapat kembali tanpa kebutuhan membuktikan apa pun. Ketika tuntutan berkurang, aktivitas yang sama bisa menghasilkan pengalaman yang berbeda.
Teori self-determination dari Edward Deci dan Richard Ryan membantu menjelaskan mengapa hal ini terasa menyenangkan. Aktivitas cenderung lebih memuaskan ketika memberi ruang pada autonomy, competence, dan relatedness. Hobi yang dipilih sendiri, memberikan rasa berkembang, serta menghubungkan kita dengan orang lain atau dengan bagian diri tertentu dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
Setelah lama ditinggalkan, hobi juga dapat memperoleh unsur nostalgia. Kita bukan hanya bermain gim lama atau kembali merajut, tetapi bertemu kembali dengan versi diri pada masa tertentu. Aroma cat, suara senar, tekstur kertas, atau bahkan alat lama dapat memunculkan ingatan tentang masa ketika aktivitas tersebut memiliki tempat khusus dalam hidup kita.
Namun nostalgia bukan sekadar rasa rindu. Penelitian psikologi menunjukkan nostalgia dapat meningkatkan perasaan kesinambungan diri, yaitu rasa bahwa diri kita sekarang masih terhubung dengan diri kita di masa lalu. Hobi lama bisa menjadi salah satu jembatan paling konkret untuk merasakan hubungan itu.
Mungkin itu sebabnya kembali ke hobi lama kadang terasa lebih hangat daripada mencoba hobi baru. Kita tidak sepenuhnya sedang memulai, tetapi juga tidak benar-benar sedang mengulang.
Ada pula efek dari jarak. Sesuatu yang dilakukan terlalu sering dapat kehilangan unsur kebaruan dan menjadi rutinitas. Setelah lama berhenti, detail yang dulu biasa saja kembali terasa menarik. Lagu lama terdengar segar, permainan yang dulu repetitif terasa menyenangkan, dan aktivitas yang sempat kehilangan daya tarik mendapatkan kesempatan kedua.
Tentu tidak semua hobi lama harus dihidupkan kembali. Ada kegiatan yang memang sudah tidak lagi cocok dengan minat, tubuh, waktu, atau kehidupan kita saat ini. Tidak ada kewajiban kembali hanya karena dulu pernah menyukainya.
Tetapi jika sebuah hobi lama tiba-tiba terlintas, mungkin tidak perlu langsung bertanya apakah kita masih 'jago'. Pertanyaan yang lebih berguna adalah apakah aktivitas itu masih memberi ruang untuk rasa ingin tahu, kesenangan, atau hubungan dengan diri sendiri.
Sebab kadang yang kita rindukan bukan kemampuan lama. Kita mungkin hanya merindukan keadaan ketika melakukan sesuatu tanpa harus menjadikannya produktif, berguna, atau menghasilkan apa pun.
Dan ketika akhirnya kembali, hobi itu terasa menyenangkan bukan karena waktu telah mengembalikannya dalam bentuk yang sama. Ia menyenangkan karena aktivitas lama bertemu dengan manusia yang sudah berubah, membawa ingatan lama sekaligus alasan baru untuk menikmatinya. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.