Ada momen ketika sebuah hidangan tidak hanya terasa asing, tapi juga membingungkan. Kita melihatnya disajikan dengan sederhana, bahkan terlihat biasa saja, tapi reaksi orang-orang di sekitarnya berbeda. Ada yang langsung mengambil, ada yang ragu, dan ada juga yang memilih menjauh tanpa mencoba.

Di Enrekang, Sulawesi Selatan, Dangke bukan sekadar makanan. Ia hadir dari sesuatu yang sederhana, yaitu susu kerbau atau sapi yang dipanaskan lalu dipadatkan dengan bantuan getah pepaya. Hasilnya bukan keju seperti yang biasa kita bayangkan, tapi sesuatu yang berada di antara tahu, keju, dan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Saat Dangke baru diangkat dari cetakannya, aromanya lembut, sedikit gurih, dan hangat. Teksturnya padat tapi tidak keras, dengan permukaan yang halus dan bagian dalam yang terasa lembap. Ketika dipotong, ia tidak hancur seperti tahu, tapi juga tidak elastis seperti keju pada umumnya.

Cara paling sederhana menikmatinya adalah dengan menggorengnya tipis hingga bagian luarnya sedikit kering. Saat itu, aroma gurihnya mulai keluar lebih kuat, berpadu dengan sedikit rasa asin yang muncul perlahan. Disajikan dengan nasi hangat dan sambal, Dangke bisa terasa sangat memuaskan tanpa perlu banyak tambahan.

Bagi yang terbiasa, rasa ini terasa akrab. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai comfort food, sesuatu yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Namun bagi yang baru pertama kali mencoba, pengalaman ini bisa berbeda.

Baca Juga: Kita Suka Makan Ini, Tak Suka Makan Itu, dari Mana Preferensi Selera Terbentuk?

Rasa yang Dipelajari, Bukan Sekadar Dirasakan

Ketika seseorang pertama kali mencoba Dangke, reaksi yang muncul bisa beragam. Ada yang langsung menyukainya, tapi tidak sedikit yang merasa aneh dengan teksturnya. Bukan karena tidak enak, tapi karena tidak sesuai dengan apa yang selama ini dikenal sebagai ‘enak’.

Di sinilah kita mulai melihat bahwa rasa bukan hanya soal lidah. Ia juga soal kebiasaan. Apa yang kita makan sejak kecil, bagaimana makanan itu disajikan, dan dalam konteks apa kita menikmatinya, semua ikut membentuk preferensi.

Bagi masyarakat Enrekang, Dangke bukan sesuatu yang asing. Ia hadir dalam keseharian, menjadi bagian dari ingatan, dan terhubung dengan banyak momen. Dari situ, rasa tidak lagi berdiri sendiri, tapi menjadi bagian dari pengalaman.

Sebaliknya, bagi orang yang belum pernah sama sekali bersentuhan dengan Dangke, tidak ada referensi yang bisa digunakan. Teksturnya terasa berbeda, aromanya tidak familiar, dan cara menikmatinya mungkin belum terbentuk. Dari sini, jarak mulai terasa.

Hal yang sama bisa kita temukan di banyak makanan lain. Petai dan jengkol, misalnya, sangat disukai oleh sebagian orang, tapi dihindari oleh yang lain. Durian bahkan sering disebut sebagai buah yang “harus dicintai atau ditolak sepenuhnya”.

Perbedaan ini bukan karena satu pihak lebih benar dari yang lain. Tapi karena setiap orang membawa pengalaman yang berbeda ke dalam setiap suapan.

Baca Juga: Makan Terlihat Sehat di Internet, Tapi Kenapa di Meja Makan Kita Berbeda?

Ketika Lidah Bertemu Kebiasaan

Yang menarik, preferensi rasa tidak selalu tetap. Apa yang dulu terasa aneh, bisa menjadi biasa setelah dicoba beberapa kali. Dalam banyak kasus, penerimaan terhadap makanan baru justru datang dari proses berulang, bukan dari satu kali pengalaman.

Ini menunjukkan bahwa rasa tidak sepenuhnya objektif. Ia bisa berubah, mengikuti kebiasaan dan keterbukaan kita terhadap hal baru. Semakin sering kita mencoba, semakin besar kemungkinan kita untuk memahami rasa tersebut.

Namun tetap saja, tidak semua orang akan sampai di titik yang sama. Ada yang akhirnya menyukai Dangke, ada yang tetap merasa tidak cocok. Dan itu bukan sesuatu yang harus dipaksakan.

Mungkin, di situlah letak hal yang paling menarik dari makanan. Ia tidak hanya tentang apa yang kita makan, tapi juga tentang bagaimana kita sampai pada pilihan itu. Tentang pengalaman, kebiasaan, dan cara kita memahami rasa.

Dan jika suatu hari kita berkesempatan mencicipi Dangke, mungkin yang perlu dibawa bukan hanya rasa penasaran. Tapi juga sedikit ruang untuk menerima sesuatu yang berbeda. Dari situ, pengalaman pertama tidak lagi terasa asing sepenuhnya, tapi menjadi awal untuk memahami.

Karena bisa jadi, yang awalnya terasa asing, perlahan berubah menjadi sesuatu yang ingin kita cari lagi. Perubahan itu mungkin tidak langsung, tapi cukup untuk membuat kita melihat rasa dengan cara yang berbeda. [][Rommy Rimbarawa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]