Di hampir setiap daerah di Indonesia, ada makanan yang rasanya diwariskan turun-temurun. Namun, rasa yang enak saja ternyata belum tentu cukup untuk membuat sebuah kuliner tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Pernahkah Anda datang ke sebuah daerah, mencicipi makanan khasnya, lalu berpikir, "Kenapa makanan seenak ini tidak terkenal di tempat lain?"
Pertanyaan itu acap muncul ketika menikmati kuliner tradisional Indonesia. Kita memiliki ribuan jenis makanan dengan cita rasa yang kaya, tetapi hanya sebagian kecil yang berhasil dikenal hingga mancanegara. Bahkan, tidak sedikit makanan khas daerah yang mulai jarang ditemui, meski masih diingat oleh generasi yang lebih tua.
Ternyata, bertahannya sebuah kuliner tidak hanya ditentukan oleh kelezatan rasanya. Ada banyak hal lain yang membuat sebuah makanan tetap hidup dan terus dikenang.
Baca Juga: Diet Sehat Memang Sering Mahal, Memangnya Nggak Ada yang Murah?
Yang Diwariskan Bukan Hanya Resep, tetapi Juga Ceritanya
Setiap makanan tradisional lahir dari perjalanan sebuah masyarakat. Ada yang muncul karena hasil bumi setempat, ada yang berkembang dari kebiasaan keluarga, ada pula yang menjadi bagian dari upacara adat dan perayaan tertentu. Karena itu, sebuah kuliner sesungguhnya membawa lebih dari sekadar rasa. Ia membawa cerita.
Ketika cerita itu hilang, makanan seringkali kehilangan identitasnya. Orang mungkin masih tahu cara memasaknya, tetapi tidak lagi memahami mengapa makanan itu dibuat, kapan biasanya disajikan, atau nilai budaya yang menyertainya.
Profesor Harold McGee, penulis On Food and Cooking: The Science and Lore of the Kitchen [2004], pernah menunjukkan bahwa makanan bukan hanya persoalan bahan dan teknik memasak. Kuliner juga merupakan hasil dari sejarah, budaya, dan lingkungan tempat manusia hidup. Karena itulah, setiap hidangan memiliki karakter yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat yang melahirkannya.
Inilah alasan mengapa banyak negara tidak hanya mempromosikan makanannya, tetapi juga kisah di balik makanan tersebut. Sushi tidak hanya dikenal karena rasanya, begitu pula pizza, kimchi, atau paella. Dunia mengenalnya karena cerita, tradisi, dan identitas budayanya ikut diperkenalkan.
Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan yang sama. Rendang, gudeg, papeda, pempek, coto Makassar, hingga berbagai makanan daerah lainnya menyimpan kisah yang layak diceritakan kepada dunia.
Baca Juga: Menu Sarapan Nusantara Sehat, Bergizi Tak Harus Mahal
Kuliner Akan Bertahan Ketika Generasi Baru Merasa Memilikinya
Tantangan terbesar kuliner tradisional bukan hanya bersaing dengan makanan modern, tetapi juga menjaga agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Banyak anak muda mengenal makanan cepat saji dari media sosial, sementara cerita tentang makanan daerah seringkali hanya hadir saat pulang kampung atau acara keluarga. Jika ruang untuk mengenal kuliner tradisional semakin sempit, bukan tidak mungkin sebagian warisan kuliner akan perlahan dilupakan.
Karena itu, menjaga kuliner tradisional tidak selalu berarti mempertahankan semuanya persis seperti dulu. Yang jauh lebih penting adalah menjaga nilai, cerita, dan identitasnya tetap hidup, sembari memberi ruang agar makanan tersebut dapat beradaptasi dengan cara penyajian, promosi, dan gaya hidup masa kini.
Membawa kuliner Indonesia ke tingkat internasional pun tidak cukup hanya mengandalkan rasa yang lezat. Dunia juga ingin mengetahui asal-usulnya, filosofi di baliknya, serta siapa orang-orang yang terus menjaga tradisi itu hingga hari ini. Ketika sebuah makanan mampu menghadirkan pengalaman sekaligus cerita, ia memiliki peluang lebih besar untuk diingat.
Barangkali, kuliner tradisional tidak pernah benar-benar meminta untuk menjadi terkenal. Yang dibutuhkannya adalah orang-orang yang bersedia terus memasaknya, menceritakannya, dan memperkenalkannya kepada generasi berikutnya. Sebab, resep memang bisa ditulis di atas kertas, tetapi makna sebuah makanan hanya akan hidup jika terus diwariskan dari meja makan ke meja makan, dari satu keluarga ke keluarga yang lain, hingga akhirnya dikenal sebagai bagian dari jati diri sebuah bangsa. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.