Di meja makan, pilihan rasa sering terlihat sederhana. Ada yang suka pedas, ada yang tidak. Ada yang memilih manis, ada yang menghindari. Tapi dalam banyak situasi, pilihan itu tidak selalu datang dari diri sendiri.
Dalam pertemuan dengan teman, keluarga, atau bahkan saat mengikuti tren kuliner di media sosial, keputusan tentang makanan sering berubah. Bukan karena lidah ikut berubah, tetapi karena ada dorongan untuk menyesuaikan diri.
Fenomena ini terlihat jelas ketika satu tempat makan sedang ramai dibicarakan. Banyak orang datang dengan ekspektasi yang sudah terbentuk lebih dulu, bahkan sebelum benar-benar mencicipi makanannya.
Di titik ini, rasa tidak lagi berdiri sendiri. Ia mulai dipengaruhi oleh opini, suasana, dan ekspektasi yang dibangun dari luar.
Baca Juga: Dangke Disuka, Tapi Kenapa Ada yang Sama Sekali Tak Bisa Menyentuhnya?
Rasa Tidak Pernah Sepenuhnya Netral
Secara biologis, manusia memang memiliki preferensi rasa yang berbeda. Ada yang lebih sensitif terhadap pahit, ada yang lebih menyukai manis atau gurih. Perbedaan ini membuat pengalaman makan menjadi sangat personal.
Namun, dalam praktiknya, rasa bukan hanya dipengaruhi oleh lidah. Paul Rozin, seorang psikolog dari University of Pennsylvania yang banyak meneliti tentang perilaku makan, dalam tulisannya tentang food preference menjelaskan bahwa “food preferences are shaped by a combination of biology, culture, and experience.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa apa yang kita anggap enak tidak pernah murni berasal dari tubuh saja.
Budaya memiliki peran besar dalam membentuk apa yang dianggap normal untuk dimakan. Apa yang terasa enak di satu daerah, belum tentu diterima di daerah lain. Dari sini, rasa mulai memiliki konteks sosial.
Pengalaman juga ikut membentuk preferensi. Makanan yang sering dikonsumsi sejak kecil cenderung terasa lebih familiar, sehingga lebih mudah dianggap enak. Sebaliknya, makanan yang baru dicoba bisa terasa asing, meskipun secara objektif memiliki kualitas yang baik.
Ketika tiga faktor ini bertemu, rasa menjadi sesuatu yang kompleks. Ia bukan hanya soal lidah, tapi juga soal kebiasaan dan lingkungan.
Baca Juga: Makan Terlihat Sehat di Internet, Tapi Kenapa di Meja Makan Kita Berbeda?
Ketika Selera Menjadi Tekanan Sosial
Di luar faktor biologis dan budaya, ada satu hal lain yang sering tidak disadari, yaitu tekanan sosial. Dalam banyak situasi, orang cenderung menyesuaikan diri dengan pilihan mayoritas.
Misalnya, ketika satu kelompok sepakat bahwa sebuah tempat makan itu enak, individu di dalamnya cenderung mengikuti penilaian tersebut. Bahkan jika ada keraguan, tidak semua orang merasa nyaman untuk menyatakan bahwa mereka tidak menyukainya.
Hal ini juga terlihat dalam tren kuliner di media sosial. Makanan yang viral sering kali langsung diasosiasikan dengan kata 'enak', sebelum benar-benar diuji secara personal. Dari situ, muncul ekspektasi yang memengaruhi pengalaman rasa.
Dalam bukunya The Omnivorous Mind, Rozin juga menekankan bahwa manusia tidak makan hanya untuk kebutuhan biologis, tetapi juga untuk alasan sosial. Makan menjadi bagian dari interaksi, identitas, dan penerimaan dalam kelompok.
Ketika makan menjadi bagian dari relasi sosial, pilihan rasa tidak lagi sepenuhnya bebas. Ada keinginan untuk diterima, untuk tidak berbeda, dan untuk tetap berada dalam arus yang sama.
Di sinilah muncul momen ketika seseorang sebenarnya tidak terlalu menikmati makanan tertentu, tetapi tetap mengatakan bahwa itu enak. Bukan karena lidahnya berubah, tapi karena situasinya menuntut penyesuaian.
Rasa memang subjektif. Dan selera tak bisa diperdebatkan. Namun dalam kehidupan sehari-hari, subjektivitas itu sering bercampur dengan pengaruh luar yang tidak selalu disadari. Dari situ, pertanyaannya bukan lagi apa yang enak, tetapi apakah kita benar-benar memilihnya sendiri. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.