Beberapa tahun terakhir, pengalaman makan tidak lagi hanya soal rasa. Banyak orang datang ke sebuah tempat bukan hanya untuk menikmati makanan, tetapi juga untuk melihat, merekam, dan membagikan suasana. Dari sana, muncul satu hal yang menarik: ketika tempat terlihat menarik, rasa sering ikut terasa berbeda.

Di banyak kota, kafe dengan konsep estetik bermunculan dengan cepat. Interior yang rapi, pencahayaan yang hangat, dan sudut-sudut yang ‘Instagramable’ menjadi daya tarik utama. Sebelum makanan datang, pengalaman sudah lebih dulu dimulai.

Yang sering terjadi, ekspektasi terhadap rasa ikut terbentuk sejak awal. Ketika tempat terlihat 'niat', ada asumsi bahwa makanan yang disajikan juga memiliki kualitas yang sebanding. Dari sini, penilaian tidak lagi berdiri sendiri.

Ada momen ketika seseorang mencoba makanan yang sebenarnya biasa saja, tetapi terasa lebih enak karena suasananya mendukung. Di sisi lain, makanan yang sama di tempat berbeda bisa terasa kurang menarik. Perbedaan ini tidak selalu datang dari rasa, tetapi dari konteks yang mengelilinginya.

Baca Juga: Kopi 30 Ribu vs 80 Ribu, Kita Bayar Rasa atau Suasana?

Ketika Suasana Ikut Membentuk Rasa

Lingkungan memiliki pengaruh yang lebih besar dari yang sering disadari. Musik, pencahayaan, desain ruang, hingga cara penyajian makanan bisa memengaruhi bagaimana seseorang merasakan apa yang ia makan. Apa yang dilihat dan dirasakan sebelum mencicipi, ikut membentuk persepsi setelahnya.

Penelitian dalam bidang psikologi konsumen menunjukkan bahwa pengalaman multisensori dapat memengaruhi persepsi rasa. Charles Spence, profesor dari University of Oxford, menjelaskan bahwa faktor visual dan suasana dapat meningkatkan atau mengubah pengalaman makan seseorang.

Dalam konteks ini, kafe estetik tidak hanya menjual makanan, tetapi juga pengalaman. Apa yang dibayar bukan hanya bahan dan rasa, tetapi keseluruhan suasana yang dirancang. Dari sini, rasa menjadi bagian dari pengalaman yang lebih besar.

Masalahnya bukan pada pengalaman itu sendiri. Tetapi ketika pengalaman mulai menggantikan penilaian terhadap rasa, batas antara keduanya menjadi tidak jelas. Kita merasa makanannya enak, tapi mungkin yang kita nikmati lebih dari sekadar itu.

Baca Juga: Rasa Enak Itu Subjektif, Tapi Kenapa Kita Sering 'Terpaksa' Ikut Selera Orang?

Kita Menilai Rasa, atau Menikmati Ceritanya

Di media sosial, makanan sering hadir dalam bentuk visual yang menarik. Foto yang rapi, video yang halus, dan cerita singkat tentang pengalaman makan menjadi bagian dari cara kita mengenalnya. Sebelum mencoba, kita sudah punya gambaran tentang apa yang akan dirasakan.

Ketika akhirnya datang dan mencicipi, pengalaman itu terasa seperti melanjutkan cerita yang sudah lebih dulu dibangun. Kita tidak mulai dari nol, karena ekspektasi sudah terbentuk sejak awal. Ekspektasi inilah yang kemudian ikut memengaruhi cara kita menilai rasa.

Hal ini bukan berarti rasa menjadi tidak penting. Rasa tetap ada dan tetap menjadi bagian utama dari pengalaman makan. Namun, ia tidak lagi berdiri sendiri, melainkan berjalan bersama pengalaman yang membingkainya.

Di titik ini, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan apakah tempat estetik membuat makanan lebih enak. Tapi apakah kita benar-benar sedang menilai rasa, atau menikmati keseluruhan cerita yang disajikan. Pertanyaan ini penting, karena cara kita melihat pengalaman ikut menentukan apa yang kita rasakan.

Karena bisa jadi, yang terasa unik bukan hanya makanannya. Tapi cara kita mengalaminya, sejak pertama kali melihat, hingga akhirnya mencicipinya. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.