Di satu sisi kota, ada kopi susu seharga 30 ribu yang disajikan cepat, praktis, dan sering jadi teman perjalanan. Di sisi lain, ada kopi seharga 70–80 ribu yang hadir dengan gelas estetik, interior hangat, dan suasana yang sengaja dibangun. Keduanya sama-sama kopi, tapi pengalaman yang ditawarkan terasa berbeda.
Banyak orang pernah ada di posisi ini. Mencoba dua tempat dengan harga yang cukup jauh, lalu diam-diam membandingkan. Anehnya, perbandingan itu tidak selalu berakhir pada rasa yang jauh berbeda.
Ada yang jujur bilang, 'yang mahal enak, tapi yang murah juga nggak kalah.' Ada juga yang merasa kopi mahal terasa lebih 'niat', meskipun sulit menjelaskan di mana letak bedanya.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang jarang disadari. Kita sebenarnya sedang menilai rasa, atau menilai pengalaman yang mengiringinya.
Baca Juga: Rasa Enak Itu Subjektif, Tapi Kenapa Kita Sering 'Terpaksa' Ikut Selera Orang?
Rasa Tidak Pernah Datang Sendiri
Secara sederhana, rasa kopi ditentukan oleh banyak faktor: biji, proses roasting, teknik brewing, hingga kualitas air. Namun dalam praktiknya, pengalaman minum kopi tidak berhenti di sana.
Charles Spence, profesor dari University of Oxford yang banyak meneliti tentang gastrophysics, menjelaskan bahwa persepsi rasa tidak hanya ditentukan oleh lidah, tetapi juga oleh konteks. Lingkungan, pencahayaan, suara, bahkan harga bisa memengaruhi bagaimana seseorang menilai apa yang ia minum.
Artinya, kopi yang sama bisa terasa berbeda ketika disajikan dalam kondisi yang berbeda. Gelas yang lebih tebal, musik yang lebih tenang, atau ruang yang lebih nyaman bisa membuat rasa terasa lebih 'lengkap'.
Di sisi lain, kopi yang diminum sambil terburu-buru di pinggir jalan mungkin terasa lebih sederhana. Bukan karena kualitasnya pasti lebih rendah, tapi karena pengalaman yang mengiringinya berbeda.
Dari sini, rasa mulai bercampur dengan suasana. Apa yang diminum tidak lagi berdiri sendiri.
Baca Juga: Dangke Disuka, Tapi Kenapa Ada yang Sama Sekali Tak Bisa Menyentuhnya?
Ketika Harga Membentuk Ekspektasi
Selain suasana, harga juga memainkan peran yang tidak kecil. Ketika seseorang membayar lebih mahal, ada ekspektasi tertentu yang ikut terbentuk.
Kopi seharga 80 ribu jarang dinilai dengan standar yang sama seperti kopi 30 ribu. Ada harapan bahwa rasa, pelayanan, dan keseluruhan pengalaman harus 'lebih'.
Ekspektasi ini sering bekerja diam-diam. Tanpa disadari, seseorang bisa lebih siap untuk merasa puas ketika harga yang dibayar lebih tinggi.
Sebaliknya, pada kopi yang lebih terjangkau, standar yang digunakan sering lebih longgar. Selama rasanya 'cukup enak', pengalaman itu sudah dianggap layak.
Di titik ini, penilaian rasa tidak sepenuhnya netral. Ia sudah dipengaruhi oleh apa yang dibayangkan sebelum kopi itu diminum.
Baca Juga: Makan Terlihat Sehat di Internet, Tapi Kenapa di Meja Makan Kita Berbeda?
Kita Tidak Hanya Minum, Kita Mengalami
Dalam banyak kasus, orang tidak datang ke coffee shop mahal hanya untuk minum kopi. Mereka datang untuk duduk lebih lama, bekerja, bertemu orang lain, atau sekadar menikmati suasana.
Kopi menjadi bagian dari pengalaman yang lebih besar. Ia hadir bersama ruang, waktu, dan aktivitas yang menyertainya.
Paul Rozin, seorang psikolog yang meneliti perilaku makan, menjelaskan bahwa pengalaman makan dan minum manusia tidak hanya didorong oleh kebutuhan biologis, tetapi juga oleh faktor sosial dan emosional. Apa yang kita konsumsi sering berkaitan dengan bagaimana kita ingin merasa.
Dari perspektif ini, kopi mahal tidak selalu tentang rasa yang lebih baik. Ia bisa jadi tentang pengalaman yang lebih sesuai dengan kondisi tertentu.
Sebaliknya, kopi yang lebih sederhana tetap punya tempatnya sendiri. Ia hadir sebagai sesuatu yang praktis, familiar, dan tidak membutuhkan banyak konteks untuk dinikmati.
Di titik ini, mungkin pertanyaannya bukan lagi mana yang lebih enak. Tapi kapan kita memilih rasa, dan kapan kita memilih pengalaman yang datang bersamanya. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.