Pernah mengalami ini? Gelas kotor di meja sebenarnya tinggal dibawa ke dapur. Membalas pesan hanya butuh beberapa kalimat. 

Bukan hanya itu. Membayar tagihan bisa selesai dalam hitungan menit. Merapikan tempat tidur mungkin tidak sampai lima menit. Namun entah mengapa, semuanya terasa berat untuk dimulai. "Nanti saja," pikir kita. Lalu lima menit berubah menjadi sejam, sehari, bahkan lebih lama.

Anehnya, kita sering tidak menunda pekerjaan yang besar. Justru hal-hal kecil yang sebenarnya sederhana sering kali menjadi penghuni tetap dalam daftar ‘nanti’. Padahal, ketika akhirnya dikerjakan, kita sering bertanya pada diri sendiri, "Kenapa tadi rasanya berat sekali, ya?"

Apakah jawabannya hanya sesederhana soal malas?

Baca Juga: Mengapa Orang Indonesia Masih Saja Selalu Bisa Bercanda?

Yang Berat Bukan Pekerjaannya, Melainkan Memulainya

Banyak orang mengira kebiasaan menunda muncul karena kurang disiplin atau tidak pandai mengatur waktu. Namun penelitian menunjukkan bahwa penyebabnya lebih rumit dari itu.

Psikolog Dr. Tim Pychyl dari Carleton University, Kanada, yang telah lama meneliti perilaku procrastination, menjelaskan bahwa menunda sering kali merupakan cara otak menghindari perasaan yang tidak nyaman. Tugas yang sebenarnya sederhana bisa terasa berat karena kita membayangkannya sebagai sesuatu yang membosankan, melelahkan, atau mengganggu kenyamanan saat itu.

Akibatnya, otak mencari jalan pintas yang terasa lebih menyenangkan. Kita membuka media sosial ‘sebentar’, menonton satu video lagi, atau memilih mengerjakan hal lain yang sebenarnya tidak lebih penting.

Yang ditunda bukan karena pekerjaannya sulit, melainkan karena kita ingin menunda rasa tidak nyaman ketika harus memulainya. Menariknya, begitu pekerjaan itu benar-benar dimulai, perasaan berat tersebut seringkali menghilang jauh lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

Baca Juga: Terlalu Banyak Pilihan Juga Bisa Melelahkan, Benarkah?

Lima Menit yang Sering Terlihat Lebih Besar

Ada kebiasaan lain yang sering terjadi. Kita membayangkan sebuah pekerjaan jauh lebih besar daripada kenyataannya.

Merapikan meja terasa seperti pekerjaan panjang. Padahal setelah mulai, mungkin hanya membutuhkan tiga atau empat menit. Membalas satu surel terasa melelahkan, tetapi ternyata selesai sebelum secangkir teh menjadi hangat.

Otak manusia memang cenderung membesar-besarkan hambatan ketika sesuatu belum dimulai. Sebaliknya, setelah bergerak, kita baru menyadari bahwa pekerjaan itu tidak serumit yang dibayangkan. Barangkali karena itulah banyak orang merasa lega setelah menyelesaikan tugas-tugas kecil. Bukan karena pekerjaannya luar biasa, tetapi karena beban yang selama ini ada di kepala akhirnya ikut menghilang.

Seringkali yang melelahkan bukan pekerjaannya, melainkan terus-menerus mengingat bahwa pekerjaan itu belum selesai.

Baca Juga: Waktu Kita Tetap Segitu, Lalu Mengapa Selalu Merasa Harus Terburu-buru?

Mungkin Kita Tidak Butuh Motivasi yang Besar

Kita sering menunggu waktu yang tepat. Menunggu suasana hati membaik. Menunggu semangat datang. Padahal, banyak pekerjaan kecil tidak membutuhkan motivasi yang besar. Ia hanya membutuhkan satu langkah pertama.

Mengangkat gelas dari meja. Membuka laptop. Menulis satu kalimat. Menyapu satu sudut ruangan. Kadang, langkah kecil itulah yang membuka jalan bagi langkah-langkah berikutnya.

Mungkin hidup memang tidak berubah hanya karena kita segera mencuci piring atau membalas pesan yang tertunda. Namun kebiasaan menyelesaikan hal-hal kecil membuat pikiran terasa lebih ringan. Ada ruang yang kembali lega karena tidak lagi dipenuhi daftar ‘nanti’ yang terus bertambah.

Jadi, bukan soal apakah sebuah pekerjaan membutuhkan lima menit atau lima jam. Yang sering menjadi tantangan justru keberanian untuk memulai. Sebab setelah langkah pertama itu diambil, kita hampir selalu sadar bahwa pekerjaan tersebut ternyata tidak seberat yang kita bayangkan. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.