Ada hal yang terasa aneh dalam kehidupan modern. Waktu yang kita miliki sebenarnya tidak berubah. Sehari tetap terdiri dari 24 jam, seminggu tetap tujuh hari, dan setahun tetap memiliki jumlah bulan yang sama seperti puluhan bahkan ratusan tahun lalu. 

Nyatanya, banyak orang merasa hidup berjalan semakin cepat. Hari terasa pendek, akhir pekan berlalu tanpa terasa, dan daftar hal yang ingin dilakukan seolah tidak pernah benar-benar habis.

Perasaan ini begitu umum hingga sering dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan dewasa. Kita terbiasa mengucapkan bahwa waktu terasa kurang, jadwal terlalu padat, atau hari berjalan terlalu cepat. Padahal jika dipikirkan lebih jauh, mungkin yang berubah bukan jumlah waktu yang kita miliki, melainkan cara kita mengalaminya.

Di tengah berbagai kemudahan yang ditawarkan teknologi, banyak orang justru merasa semakin sulit untuk menikmati jeda. Seolah selalu ada sesuatu yang perlu dilakukan, dibalas, diperiksa, atau diselesaikan.

Baca Juga: Mengapa Aktivitas Sederhana yang Tak Diunggah Justru Makin Disukai?

Kesibukan Tidak Selalu Datang dari Banyaknya Pekerjaan

Ketika berbicara tentang rasa terburu-buru, banyak orang langsung mengaitkannya dengan pekerjaan. Memang, tuntutan pekerjaan dapat menjadi salah satu penyebabnya. Namun dalam banyak kasus, rasa sibuk ternyata tidak hanya berasal dari tugas yang menumpuk.

Hari ini kita hidup di tengah arus informasi yang hampir tidak pernah berhenti. Notifikasi datang dari berbagai aplikasi. Pesan masuk silih berganti. Media sosial menghadirkan konten tanpa ujung. Bahkan ketika sedang tidak bekerja, perhatian kita tetap terus berpindah dari satu hal ke hal lain.

Tanpa disadari, energi mental kita habis untuk menghadapi puluhan keputusan kecil sepanjang hari. Apakah harus membalas pesan sekarang atau nanti? Perlu membuka berita terbaru atau tidak? Haruskah ikut melihat topik yang sedang ramai diperbincangkan? Masing-masing mungkin terlihat sepele, tetapi ketika jumlahnya terus bertambah, otak tetap harus bekerja.

Akibatnya, banyak orang merasa lelah bahkan sebelum pekerjaan utama mereka selesai. Kesibukan tidak lagi hanya diukur dari banyaknya tugas, melainkan dari banyaknya hal yang meminta perhatian secara bersamaan.

Situasi ini membuat hari terasa penuh, meskipun ketika ditanya apa saja yang berhasil diselesaikan, jawabannya belum tentu sebanyak yang dibayangkan.

Baca Juga: Ketika Pagi Jadi Satu-Satunya Waktu yang Benar-Benar Milik Kita

Ketika Waktu Luang Ikut Terasa Seperti Tugas

Menariknya, rasa terburu-buru juga sering muncul saat kita sedang tidak bekerja. Waktu yang seharusnya menjadi kesempatan untuk beristirahat justru berubah menjadi daftar aktivitas lain yang harus dipenuhi.

Banyak orang merasa perlu memanfaatkan waktu luang sebaik mungkin. Libur harus produktif. Akhir pekan harus bermakna. Hobi harus menghasilkan sesuatu. Bahkan kegiatan santai pun kadang diukur dengan standar pencapaian tertentu.

Di media sosial, kita terus melihat orang lain mengikuti kursus baru, mencoba pengalaman baru, membaca buku baru, atau menjalankan proyek baru. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun tanpa disadari, paparan semacam ini dapat menciptakan perasaan bahwa kita selalu tertinggal jika tidak melakukan hal yang sama.

Lama-kelamaan, waktu luang kehilangan fungsinya sebagai ruang untuk berhenti sejenak. Ia berubah menjadi ruang untuk mengejar target yang berbeda. Tubuh mungkin sedang beristirahat, tetapi pikiran tetap berlari.

Mungkin itu sebabnya banyak orang merasa waktu bergerak semakin cepat. Bukan karena jumlah waktunya berkurang, melainkan karena hampir tidak ada ruang yang benar-benar dibiarkan kosong. Ketika setiap jeda diisi dengan sesuatu, sekecil apa pun, hidup mulai terasa seperti rangkaian aktivitas yang berjalan tanpa henti.

Padahal tidak semua waktu harus menghasilkan sesuatu. Tidak semua momen harus dioptimalkan. Kadang-kadang, duduk tenang tanpa tujuan tertentu juga merupakan cara yang sah untuk menjalani hari. Dan mungkin, justru dari ruang-ruang kosong seperti itulah kita kembali merasakan bahwa waktu masih berjalan dalam kecepatannya yang biasa. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.