Di berbagai tempat, kegiatan menanam pohon terus dilakukan. Namun pada saat yang sama, pohon-pohon yang telah tumbuh puluhan tahun justru terus menghilang dari bentang alam Indonesia.
Menanam pohon adalah kegiatan yang mudah disukai banyak orang. Ia membawa harapan, menghadirkan simbol kepedulian, dan memberi kesan bahwa sesuatu yang baik sedang dilakukan untuk lingkungan. Tidak heran jika berbagai program penghijauan, pembagian bibit, hingga gerakan tanam pohon rutin dilakukan oleh pemerintah, perusahaan, maupun komunitas.
Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan. Ketika ribuan bibit ditanam setiap tahun, mengapa berita tentang hilangnya hutan tetap terus muncul? Mengapa upaya penghijauan terasa berjalan beriringan dengan kabar tentang deforestasi, alih fungsi lahan, dan berkurangnya kawasan hutan?
Barangkali persoalannya bukan semata-mata pada seberapa banyak pohon yang ditanam. Persoalan yang lebih besar mungkin terletak pada seberapa baik pohon-pohon yang sudah ada mampu dipertahankan.
Baca Juga: Tempat Wisata Viral Sering Mati karena Terlalu Cepat Dicintai
Menanam Pohon Lebih Mudah daripada Menjaga Hutan
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia terus menjalankan berbagai program rehabilitasi dan penanaman kembali lahan. Upaya tersebut tentu penting, terutama untuk memulihkan kawasan yang telah mengalami kerusakan. Namun jika melihat data yang tersedia, skala tantangan yang dihadapi ternyata masih sangat besar.
Dikutip dari Lestari Kompas, Kementerian Kehutanan mencatat bahwa deforestasi netto Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 175.400 hektare. Angka tersebut berasal dari deforestasi bruto sekitar 216.200 hektare yang dikurangi reforestasi sekitar 40.800 hektare. Dengan kata lain, luas kawasan yang kembali berhutan masih jauh lebih kecil dibanding luas kawasan yang kehilangan tutupan hutannya.
Data tersebut menunjukkan bahwa penanaman pohon dan pemulihan lahan memang terjadi, tetapi kecepatannya belum mampu mengimbangi kehilangan yang terus berlangsung. Di banyak wilayah, hutan berubah menjadi perkebunan, kawasan industri, infrastruktur, atau bentuk pemanfaatan lahan lainnya yang dianggap lebih produktif secara ekonomi. Dalam proses itu, pohon yang telah tumbuh selama puluhan bahkan ratusan tahun tidak dapat begitu saja digantikan oleh bibit yang baru ditanam.
Perbedaan ini sering luput dari perhatian publik. Ketika sebuah pohon ditanam, hasilnya mudah dilihat dan didokumentasikan. Sebaliknya, menjaga hutan yang tetap utuh sering kali tidak menghasilkan peristiwa yang menarik perhatian. Tak ada seremoni khusus ketika sebuah kawasan berhasil dipertahankan dari pembukaan lahan. Padahal bagi lingkungan, menjaga yang sudah ada seringkali jauh lebih berharga daripada memulai dari awal.
Baca Juga: Kita Selalu Menyalahkan Nyamuk, Padahal Penyebab Demam Berdarah Lebih Dari Itu
Ketika Hutan Diganti dengan Sesuatu yang Dianggap Lebih Menguntungkan
Deforestasi tidak selalu terjadi karena satu penyebab tunggal. Global Forest Review mencatat, di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia, perubahan fungsi lahan untuk pertanian dan komoditas ekonomi menjadi salah satu faktor utama hilangnya tutupan hutan. Secara global, pembukaan lahan untuk pertanian permanen telah menjadi penyebab terbesar hilangnya hutan primer tropis selama lebih dari dua dekade.
Di Indonesia, persoalan tersebut sering muncul dalam diskusi mengenai ekspansi perkebunan, pembangunan kawasan industri, pertambangan, maupun kebutuhan lahan untuk berbagai proyek ekonomi. Dari sudut pandang pembangunan, kebutuhan tersebut sering dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Namun dari sudut pandang lingkungan, setiap hektare hutan yang hilang membawa konsekuensi yang tidak selalu mudah dipulihkan.
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Di dalamnya terdapat ekosistem yang terbentuk selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Ketika kawasan hutan berubah menjadi penggunaan lahan lain, yang hilang bukan hanya batang-batang pohon, tetapi juga fungsi ekologis yang selama ini membantu menjaga keseimbangan air, iklim lokal, keanekaragaman hayati, dan penyimpanan karbon.
Karena itu, membandingkan hutan alam dengan tanaman pengganti sering kali tidak sesederhana menghitung jumlah pohonnya. Sebuah kawasan yang ditanami kembali mungkin tampak hijau dari kejauhan, tetapi belum tentu mampu menggantikan seluruh fungsi yang sebelumnya dimiliki oleh hutan yang hilang.
Baca Juga: Ketika Tempat Pembuangan Tak Lagi Cukup, Sampah Kita Berakhir di Mana?
Menjaga yang Ada Mungkin Lebih Penting daripada Menanam yang Baru
Menariknya, kecenderungan ini tidak hanya terlihat dalam cara manusia memperlakukan alam. Dalam banyak hal, manusia sering lebih bersemangat memulai sesuatu daripada merawat sesuatu yang sudah ada. Menanam terlihat sebagai tindakan yang aktif dan penuh harapan. Menjaga sering kali berlangsung diam-diam tanpa banyak perhatian.
Padahal dalam konteks lingkungan, nilai terbesar justru sering berada pada apa yang berhasil dipertahankan. Sebatang pohon tua yang tetap berdiri selama puluhan tahun menyimpan manfaat ekologis yang jauh lebih besar dibanding bibit yang baru ditanam beberapa bulan lalu. Hutan yang tetap utuh juga menyimpan fungsi yang tidak mudah digantikan oleh program penghijauan secepat apa pun.
Di tengah berbagai kampanye penanaman pohon yang terus bermunculan, mungkin ada satu pertanyaan yang layak diajukan kembali. Apakah perhatian kita selama ini lebih banyak tertuju pada menanam pohon baru, sementara pohon-pohon lama terus menghilang tanpa banyak disadari? Jika jawabannya demikian, tantangan lingkungan yang sesungguhnya mungkin bukan terletak pada kurangnya bibit yang ditanam, melainkan pada kemampuan menjaga apa yang selama ini sudah tumbuh dan memberi manfaat bagi kehidupan. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.